![]()
AFP/Frederic J BROWN
Polisi militer berpatroli dengan truk di jalanan Kota Lijiang, selatan Shangrila, barat daya Provinsi Yunan, Senin (24/3). Tiongkok memperketat pengamanan di daerah yang banyak didiami warga Tibet.
[BEIJING] Aksi protes prokemerdekaan yang digelar, Senin (24/3), di wilayah yang banyak dimukimi warga Tibet, di Provinsi Sichuan, berakhir dengan kerusuhan yang mengakibatkan korban jiwa. Pemimpin politik Tibet di pengasingan, Samdhong Rinpoche menyebutkan jumlah warga Tibet yang tewas telah bertambah menjadi 130 orang.
Kantor berita pemerintah, Xinhua, melaporkan seorang polisi bernama Wang Guochan tewas dibunuh sekelompok orang yang menyerangnya menggunakan pisau. "Polisi terpaksa mengeluarkan tembakan peringatan untuk membubarkan kelompok tidak kenal hukum itu," ucap seorang pejabat setempat. Disebutkan, pemerintah setempat telah menangkap 381 perusuh di Sichuan. Namun, laporan dari kelompok HAM Tibet yang tidak dimuat dalam berita di media pemerintah menyebutkan seorang biksu dan seorang petani tewas akibat kerusuhan itu dan 10 orang lainnya terluka. Disebutkan, sekitar 200 biksu, 200 biksuni, dan 1.000 petani terlibat dalam aksi protes.
"Polisi menembakkan senjata ke arah kerumunan, menewaskan seorang biksu dan mengakibatkan beberapa lainnya dalam kondisi kritis," demikian laporan kelompok HAM itu.
Larangan peliputan bagi jurnalis asing yang masih terus diberlakukan menyebabkan informasi yang akurat mengenai kejadian sebenarnya sulit diperoleh.
Aksi protes juga dilakukan di Olympia, tempat berlangsungnya tradisi penyalaan obor api Olimpiade yang akan dibawa oleh pelari ke Beijing untuk upacara pembukaan Olimpiade Beijing, Agustus. Sepuluh warga Tibet, termasuk seorang gadis yang wajahnya dicat dengan warna merah darah, berusaha menutup jalan utama, jauh dari tempat diselenggarakannya acara.
Tiga aktivis HAM media, Reporters Without Borders, dipimpin oleh Presiden kelompok itu, Robert Menard, membentangkan spanduk dan berusaha merampas pengeras suara dari pengatur Olimpiade Tiongkok, Liu Qi. Namun petugas keamanan langsung menangkap dan menyeret ketiganya keluar.
Baik jaringan televisi Yunani maupun Tiongkok menghapus rekaman insiden itu. Menard mengatakan, kelompoknya tidak memiliki tujuan apa pun terhadap penyelenggaraan Olimpiade maupun para atlet. "Kami hanya ingin mendapatkan perhatian atas fakta bahwa Tiongkok adalah penjara terbesar di dunia," katanya. Menard dan dua rekannya yang ditahan kepolisian Yunani dituduh melakukan penyerangan dengan ancaman hukuman selama setahun.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Condoleezza Rice mengulang desakannya terhadap Tiongkok untuk terus melakukan pembicaraan dengan Dalai Lama, yang menurutnya memiliki peran kunci dalam mengatasi gejolak Tibet. Komentarnya itu juga disampaikan utusan AS James Jeffrey saat bertemu duta besar Tiongkok di Washington. [AFP/AP/B-14]