
SP/Ignatius Liliek
Pengunjung pameran mengamati lukisan berjudul "Ketika Bunga Berguguran" pada pembukaan pameran lukisan tunggal bertajuk "Enerwomen" karya seniman Sudigdo di Financial Club, Niaga Tower, Jakarta, Senin (24/3). Pameran yang menampilkan sosok perempuan dan dunianya ini berlangsung sampai dengan Minggu (30/3).
agi kaum laki-laki, perempuan kadang dianggap makhluk suci yang penuh kekuatan misteri. Pelukis Sudigdo menyelami misteri dan kekuatan perempuan. Eksplorasi kreatif Sudigdo muncul lewat warna minimalis.
"Saya terinspirasi oleh ibu dan istri saya. Merekalah yang selalu menyediakan ilham untuk saya," ujar pelukis Sudigdo yang menggelar pameran lukisannya bertema "Enerwoman" di Jakarta, Senin (24/3) malam.
Wanita di mata Sudigdo adalah makhluk suci yang penuh misteri dan menyimpan kekuatan. Kekuatan itu bisa muncul dalam berbagai ekspresi. "Wanita dalam lukisan-lukisan saya adalah subjek, bukan objek. Ini mungkin yang membedakan dengan yang lainnya. Tapi kalau ada yang menggambarkannya dengan cara lain, seperti membuka bagian tubuh tertentu, itu sah-sah saja. Tergantung si pelukis menafsirkan idenya," ujar Sudigdo.
Wanita memang menjadi topik utama dalam gagasan-gagasan yang dimunculkan Sudigdo lewat pamerannya kali ini. Tangkapan-tangkapan gestur sosok perempuan, seakan memotret kekuatan ekspresi yang dimunculkan dari tubuh wanita.
"Tapi ini realis modern. Saya tidak perlu jelimet-jelimet dengan konsep. Cukup dengan warna-warna yang minimalis," sebutnya.
Coretan-coretan Sudigdo memang coretan realis dengan warna-warna yang sederhana. Seperti dalam lukisannya yang berjudul Kipas Mencari Cahaya Merah. Sosok wanita dalam gelap justru memperlihatkan kekuatannya lewat lirikan mata. Bola mata hitam menjadi fokus di antara kegelapan cahaya.
Ketajaman Sudigdo menangkap gestur seorang wanita pun tertuang dalam 27 lukisan lainnya yang dipampang di pameran itu. Sudigdo mengaku sudah lama menekuni coretan-coretan kuas untuk menguraikan ekspresi perempuan dalam kanvasnya. Dari empat pameran yang sebelumnya ia lakukan, tiga diantaranya bertema tentang perempuan, seperti Wanita dalam Keindahan, Wanita, Bunga, dan Kupu-Kupu, dan Aura Perempuan.
Sudigdo berusaha menampilkan keindahan batin dari sosok perempuan. Keindahan itu ditampilkan dari ekspresi yang digambarkan pada setiap lukisannya. Namun kali ini Sudigdo coba menawarkan yang lain, ia menyuguhkan kekuatan dari keindahan batin sosok perempuan, sehingga pameran kali ini mengambil tajuk "Enerwoman".
"Enerwoman" diartikan sebagai energi dari sosok perempuan. Kekuatan inilah yang dianggap dapat membius laki-laki hingga ke alam bawah sadarnya.
Gaya Unik
Mengutip pernyataan Kurator Vukar Lodak terhadap lukisan-lukisan Sudigdo, hubungan antara laki-laki dan perempuan memang memiliki gaya yang unik. Dalam konteks sehari-hari, kontak emosional lelaki kepada perempuan berakhir pada dua risiko, perempuan menjadi sesuatu mengecewakan atau menjadi susuatu yang sangat berharga.
"Ikatan emosional pada ibunya mendorong Sudigdo tenggelam ke dalam belahan terdalam dari chi seorang perempuan. Ia menelisik masuk dengan kemungkinan-kemungkinan yang tidak terduga, terpicut ke berbagai gestur dan ikon. Terkadang Sudigdo menyusunnya kembali dalam rupa perempuan yang sederhana, anggun dan naratif. Terkadang satiristik, liris, puitis, dan formalis," sebutnya.
"Manusia dengan kesadaran dapat menciptakan sebuah dunia tertentu dengan tubuhnya. Ia dapat mematuhi tubuhnya meski ia tidak dapat mengenalinya. Bila dunia dapat dibuat melalui tubuhnya dan tubuhnya adalah realitas pemaknaan, maka keseluruhan hidup manusia adalah representasi waktu," tambah Vukar.
Sedalam apapun kandungan estetika yang dituturkan melalui coretan-coretannya, Sudigdo tidak bisa melepaskan subjektivitasnya sebagai laki-laki. Secara kodrati, laki-laki tidak terbebani tubuh dan kesadaran perempuan, begitu pula sebaliknya. Bahkan kadang kala perempuan atau laki-laki tidak menemukan kesadaran kodratinya.
"Dalam konteks inilah dunia laki-laki memperlihatkan sisi keperempuanannya yang bermukim secara permanen dalam kesadarannya. Hal ini berarti wacana mengenai inner women itu terjadi di dalam kenyataannya sebagai lelaki. Perbedaan gender hanya satu cara untuk me-loading atau menguatkan proyeksi dirinya mengenai dunia perempuan," sebut Vukar.
Namun hal itu juga tidak bisa dimentahkan begitu saja. Secara kodrati, laki-laki akan merasakan keberadaan sosok perempuan dalam dirinya, dan sebaliknya. Dan Sudigdo berusaha menuangkan hal itu dalam kanvasnya. [K-11]