
SP/Ferry Kodrat
Dua lukisan karya pelukis asal Sichuan, Tiongkok, Zhong Biao dengan tema "Limb of Beauty", menjadi salah satu lukisan yang mengundang perhatian penggemar lukisan di Tanah Air. Lukisan itu dipamerkan bersama 54 lukisan lainnya dalam pameran lukisan "The Sichuan Movement" di Museum Nasional Jakarta, dari Senin (24/3) hingga Minggu (30/3).
"Jangan sebut kami pelukis 'pemberontak seni'! Sebut saja kami sebagai golongan pelukis yang pendukung sebuah kebebasan dalam berkarya," demikian tegas pelukis Chen Wenbo.
capan itu ditegaskan Wenbo kepada SP ketika dia bersama 15 rekannya, pelukis lulusan Institut Seni Murni Sichuan memamerkan karya lukisnya di Museum Nasional Jakarta, dari Senin (24/3) hingga Minggu (30/3) mendatang.
Meskipun dalam pameran yang bertema "The Sichuan Movement" tersebut terpampang 56 lukisan yang hampir semuanya berbau pemberontakan, Wenbo asal Chongqing, Sichuan tidak setuju disebut pemberontak seni.
Para pelukis dari daerah bagian barat daya Tiongkok itu lebih nyaman disebut pelukis yang mendukung kebebasan dalam berkarya atau "pembebasan seni".
Selain Wenbo, ke-15 pelukis Sichuan lainnya yang akan menampilkan sisi lain dari karya-karya kontemporer Tiongkok adalah Zhong Biao, Feng Zhengjie, Ren Xiaolin, Chen Ke, Cao Jingping, Li Ji, Feng Zhengquan, Yang Qian, Xiao Ping, Zhang Xiaotao, Yang Jinsong, Wu Jiajun, Zhao Nengzhi, Guo Jin, dan Yang Mian.
Dalam pameran yang diprakarsai Linda Gallery tersebut, hampir seluruh yaitu 56 lukis- an yang dipamerkan, mengekplorasikan pemberontakan batin yang sangat dalam. Tetapi, sekali lagi, Wenbo tidak mau karya-karya lukisan yang dipamerkan tersebut sebagai bentuk pemberontakan.
Industri seni lukis Tiongkok sudah tidak lagi stereotip. Seni lukis Tiongkok sudah menempuh periode di mana ideologi seni terkontrol secara brutal dengan alasan-alasan politis. Dengan implementasi kebijakan terbuka itulah, para pelukis Tiongkok mengekpresikan dirinya secara bebas. Hasil lukisan dari pemikiran yang bebas itulah yang ditampilkan di Museum Nasional Jakarta ini.
Meskipun karya-karya yang ditampilkan masih ada penghormatan terhadap unsur tradisi dan gaya Barat atau Renaissance, ide-idenya bisa memberikan jawaban terhadap tantangan di masa kini. Bahkan, perbedaan terhadap gaya kontemporer para pelukis Sichuan tersebut, ternyata cukup diminati dunia Barat. Yang membanggakan lagi, semenjak adanya gerakan "Revolusi Budaya" di Tiongkok yaitu tahun 80-an, para pelukis daratan Tiongkok, khususnya tiga kota yang menjadi barometer penghasil pelukis handal yaitu Beijing, Shanghai, dan Sichuan, selalu mencari inovasi-inovasi baru dalam berkarya.
Dalam mengekspresikan kebebasan di atas kanvas, ke-16 pelukis Sichuan tersebut lebih banyak memberikan gambaran simbolis situasi sosial, termasuk arah tujuan dan sikap hidup masyarakat Tiongkok, dan kehidupan sehari-hari sang pelukis.
Menurut kurator Edi Supriono, meskipun ke-16 pelukis Sichuan yang memamerkan karya lukisnya di Jakarta tersebut masuk dalam "kelas dua" sebagai pelukis kontemporer di Tiongkok saat ini, mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap karyanya.
"Mereka bukanlah golongan pelukis otoplagiatrism atau mengulang-ulang karya lukisan sebelumnya yang laku keras. Mereka selalu mengubah karya-karya mereka atau mencari inovasi baru meskipun sebenarnya karya yang lama sangat laku. Akan tetapi, karya-karya terbaru mereka tetap saja menarik," ujar dia.
Depresi Mendalam
Dari beberapa karya lukisan yang sulit membedakan antara "pemberontakan" dengan "kebebasan" tersebut, terdapat tiga lukisan karya Zhao Nengzhi yang diberi judul Phantom 1-3. Dalam lukisan berukuran 200x160 cm tersebut, menggambarkan wajah seseorang yang penuh dengan kecamuk melalui sapuan-sapuan bertenaga kanvasnya. Tiga lukisan yang disejajarkan tersebut sebagai gambaran wajah seseorang yang mengalami depresi begitu dalam.
Demikian juga dengan lukisan karya Feng Zenghie dengan judul Chinese Potrait L Series No.09. Seperti lukisan-lukisan sebelumnya, Feng selalu menampilkan wajah seseorang dengan bola mata yang berlainan arah, ke Timur dan Barat. Objek itu sebagai gambaran ke manakah masyarakat Tionghoa akan mengarahkan tujuan.
Sementara gambaran dari bentuk penindasan bisa terjawab dengan tidak terlalu jelas melalui gambar sosok tubuh yang teraniaya pada karya Wu Jiajun. Sementara Zhong Biao lebih mengekspresikan karyanya yang memberikan pesona lain dari karya-karya yang dipamerkan. Seluruh karya yang dipamerkan tersebut memiliki kualitas yang tinggi dan memiliki nilai apresiasi yang tinggi terhadap dunia lukis Indonesia.
"Suatu saat, karya-karya para pelukis Indonesia juga akan dipamerkan di Tiongkok. Sebab, banyak orang-orang Tiongkok yang ternyata menyukai lukisan karya anak bangsa," kata Ali Kusno, pemilik Linda Gallery. [F-4]