SUARA PEMBARUAN DAILY

Rendra Pentaskan Suluk Hijau

[JAKARTA] "Si Burung Merak", Rendra akan berkolaborasi dengan Ken Zuraida dan sejumlah pekerja seni, mementaskan pergelaran teater berjudul Suluk Hijau di Departemen Kehutanan, Jakarta, pada Kamis (27/3), pukul 19.00 WIB.

Pergelaran tersebut merupakan puncak acara dari rangkaian kegiatan peringatan 25 tahun Departemen Kehutanan, yang jatuh pada Minggu (16/3). Selain dalam format teater, pertunjukan berdurasi hampir dua jam tersebut, menurut Ken, juga akan diisi dengan pembacaan puisi berjudul Munajat Kaum Binatang oleh Kiai Haji Mustofa Bisri, pembacaan sajak oleh Rendra, serta pembacaan sajak berjudul Wayang Yang Malang oleh pesinetron, Ayu Azhari.

"Sajak yang dibacakan Ayu Azhari lebih pada meratapi hutan, sedangkan Rendra akan membaca sajak yang sifatnya orasi. Inti dari sajak itu menanggapi sebab musabab kerusakan hutan yang terjadi sejak jaman dulu hingga sekarang," kata perempuan yang akrab dengan panggilan Ida ini.

Istri dari Rendra tersebut menjelaskan, dalam kolaborasi teaterikal ini juga akan tampil Komunitas Seni Sono I Wayan Sadra, Samba Sunda, Rizaldy Siagian, Ine Ariani, dan lain-lain.

"Pertunjukan Suluk Hijau akan mengupas keadaan, serta menanggapi masalah hutan dan lingkungan," ujarnya.

Ketika ditanya lebih lanjut mengenai cerita dari pagelaran tersebut, dengan enggan Ida, yang dalam pagelaran tersebut bertindak sebagai sutradara hanya mengatakan, bahwa dalam pagelaran ini dirinya telah menyiapkan suatu kejutan bagi pemerintah, khususnya Departemen Kehutanan, berupa kritikan dan masukan mengenai kondisi hutan Indonesia saat ini.

"Saya punya kejutan yang baik untuk pak menteri (menteri kehutanan, Red), mudah-mudahan segala unek-unek bisa disampaikan lewat pagelaran ini," ujarnya.

Sementara itu, Rendra mengungkapkan, setting dari pagelaran ini akan dimulai di sebuah warung sederhana, yang di dalamnya terdapat pengamen, tukang becak, polisi dan lain-lain yang sedang membicarakan keadaan yang marak terjadi saat ini.

"Lalu tiba-tiba datang tentara, dan terjadilah keributan karena orang-orang di warung berpikir mereka mau digusur. Kemudian mulailah terjadi dialog mengenai kehutanan," ujarnya.

Menurut Rendra, semua pemain yang terlibat dalam pagelaran ini dapat mengekspresikan kemampuannya secara maksimal, begitu juga Ken Zuraida sebagai sang sutradara. Pasalnya Menteri Kehutanan, HMS Kaban sebagai tuan rumah tak membatasi cerita maupun dialog-dialog yang akan ditampilkan.

"Pak menteri tidak membatasi kami dalam berekspresi, sehingga ini dimanfaatkan sekali oleh Ken Zuraida. Kami berharap pemerintah akan lebih mendengar jeritan suara rakyat, sehingga hutan dan segala isinya dapat lebih dimanfaatkan bagi kepentingan masyarakat banyak," ujarnya.

Meski belum pernah melihat aksi teater Rendra, Kaban telah banyak mengenal kiprah dan kemampuan Rendra di atas pentas. Untuk itu dirinya tertarik mengundang Rendra dan kawan-kawan ikut memeriahkan hari jadi Departemen Kehutanan yang mengusung tema "Menyambut 25 tahun Rimbawan, Departemen Kehutanan".

"Pergelaran ini merupakan upaya pendekatan batin kita dari segi budaya. Tahun lalu kami mengkampanyekan penanaman hutan dengan pagelaran wayang. Tahun ini kami berusaha menyentuh alam batin, dan alam jiwa kita semua lewat pergelaran Suluk Hijau, agar masyarakat menyadari pentingnya kita menjaga dan menyelamatkan alam ini," urainya.

Kaban pun mengaku, tak keberatan jika pergelaran tersebut dipenuhi dengan berbagai kritikan tajam mengenai berbagai kebijakan pemerintahan saat ini. [Y-6]


Last modified: 25/3/08