PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (Indocement) mencatat pertumbuhan penjualan semen di pasar domestik sebesar 7,9 persen, dari total volume 10 juta ton pada 2006 menjadi 10,7 juta ton pada 2007. Sementara PT Semen Gresik (Persero) Tbk hanya mencatat pertumbuhan penjualan domestik sebesar 1,6 persen menjadi 15,74 juta ton pada 2007.
Pertumbuhan penjualan semen tersebut, disebabkan meningkatnya permintaan, terutama dari luar pulau Jawa, seiring dengan pembangunan proyek infrastruktur pemerintah. Pertumbuhan permintaan dari luar pulau Jawa bertumbuh sekitar 12-14 persen, sedangkan di Pulau Jawa hanya tumbuh 2-4 persen.
Direktur Keuangan Indocement Christian Kartawijaya mengatakan, pertumbuhan penjualan tersebut, membuat pendapatan bersih perseroan meningkat 15,8 persen menjadi Rp 7,323 triliun dari Rp 6,325 triliun pada 2006.
Hal senada juga dikatakan Direktur Utama Semen Gresik Dwi Soetjipto. Dia mengemukakan, efisiensi perseroan yang cukup optimal dan kenaikan harga semen domestik membuat laba bersih meningkat 37,04 persen menjadi Rp 1,8 triliun dibandingkan 1,296 triliun pada 2006. [J-9]
Anggota Komisi IV DPR dari FPG, Azwar Chesputera mendukung pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla bahwa Indonesia tidak lagi mengalami krisis. Berdasarkan data, terutama yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, bangsa Indonesia memang tidak lagi dilanda krisis seperti 10 tahun lalu. "Apa yang disampaikan Jusuf Kalla itu benar adanya. Walaupun tentunya kita belum sepenuhnya lepas dari krisis, terutama bila kita melihat dari sisi keadaan cadangan pangan yang belum memenuhi kebutuhan dalam negeri," kata Azwar, di Jakarta, Senin (24/3).
Jika pemerintah ingin bangsa ini lepas dari krisis, kata dia, peran Bulog harus dikembalikan dan tidak menyerahkan mekanisme distribusi sembako kepada pasar. Sebab, jika hal itu tidak dilakukan, pemerintah tidak bisa berharap krisis harga pangan bisa teratasi.
"Karena sekarang ini mekanisme pasar masih dikuasai oleh para tengkulak, maka rakyat akan terus dilanda kenaikan harga. Tapi kalau Bulog yang menangani maka kebutuhan rakyat akan barang murah bisa terpenuhi, karena Bulog tidak akan mencekik rakyat sebagaimana para tengkulak," katanya. [M-16]
![]()
SP/Ruht Semiono
Pekerja memasukkan beras ke dalam karung di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Senin (24/3). Tahun 2008, Perum Bulog menargetkan pembelian beras produksi dalam negeri 2,43 juta ton dari kebutuhan 2008 yang mencapai 3 juta ton. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi harga beras di pasar dunia yang terus naik.