SUARA PEMBARUAN DAILY

BBM Boleh Naik Asalkan Bertahap

[JAKARTA] Institute for Development of Economics and Finance (Indef) tidak menentang kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mengingat harga minyak yang terus melambung di dunia internasional. Namun, kenaikan BBM harus dilakukan secara hati-hati dan bertahap.

Demikian dikatakan Pengamat Ekonomi Indef Fadhil Hasan dalam jumpa pers, di Jakarta , Senin (24/3).

"BBM boleh naik, asalkan naiknya prudent (hati-hati) dan gradual (bertahap). Misalnya naik satu hingga dua bulan dengan batasan 5 - 15 persen. Keputusan seperti ini lebih bijak ketimbang menahan-nahan kenaikan, tetapi tiba-tiba harga BBM naik hingga 126 persen seperti beberapa tahun lalu," ujarnya.

Menurut dia, selama ini Indonesia dilanda ketidakpastian pada sektor ekonominya, terutama soal anggaran. Kebijakan yang diambil pemerintah soal BBM, kata dia, telah disandera oleh pernyataan politik presiden yang menyatakan tidak akan menaikkan harga BBM hingga 2009 mendatang.

Akibatnya, hal tersebut berpengaruh dalam menentukan kebijakan ekonomi terutama soal membengkaknya subsidi BBM dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Padahal, Fadhil menilai, pemerintah lebih realistis dan rasional untuk menaikkan harga BBM dengan kondisi perekonomian Indonesia saat ini.

Hal serupa juga disampaikan Eksekutif Direktur Indef Ahmad Erani Yustika. Menurut dia, menaikkan harga BBM menjadi pilihan pemerintah untuk menekan harga minyak yang tinggi. Saat ini, sambung dia, pemerintah memang tengah dilema menghadapi gejolak tingginya harga minyak.

"Kenaikan BBM menjadi opsi yang realistis mengingat harga minyak yang tinggi di dunia internasional. Tetapi, kenaikan ini harus disikapi dengan hati-hati, dan itu tadi harus bertahap," tuturnya.

Menentang

Sementara itu, sejumlah masyarakat tetap menentang kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM sekalipun harga minyak dunia telah menyentuh angka US$ 110 per barel.

Dian Humairo (25) misalnya. Karyawan bank swasta tersebut menolak kenaikan harga BBM yang seolah mencekik leher masyarakat, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Dia mengatakan, harga BBM saat ini saja sudah terbilang mahal apalagi jika terpaksa naik.

"Sekarang saja harganya sudah tinggi, kalau mau naik, naik berapa lagi? Makin susah saja akhirnya, terutama rakyat kecil. Bukan cuma para pengendara mobil pribadi yang akan teriak kesusahan, tapi juga masyarakat yang menggunakan angkutan umum, seperti bus, pasti ongkosnya juga naik kan? " katanya.

Namun, dia mengungkapkan, pilihan menaikkan harga BBM masih lebih baik dibanding kebijakan pembatasan pembelian BBM dengan menggunakan smart card (kartu pintar).

Menurut dia, kebijakan smart card jika diberlakukan akan lebih menyengsarakan lagi dibanding kenaikan harga BBM. "Masak sih orang mau beli dibatasi?" tuturnya.

Dia berpendapat, kebijakan pemerintah dengan membatasi BBM sangat tidak masuk akal karena selain harganya yang tinggi, penggunaannya pun dibatasi. Padahal, sambung dia, konsumsi masyarakat terhadap BBM sangat bergantung pada kemampuan daya belinya.[CNV/M-6/D-10]


Last modified: 25/3/08