SUARA PEMBARUAN DAILY

TAJUK RENCANA II

Kebijakan Damai Presiden Taiwan

Seperti diprediksi, kandidat Presiden Taiwan dari Koumintang (KMT) atau Partai Nasionalis Taiwan Ma Ying-jeou memenangkan Pemilu Presiden, Sabtu 22 Maret 2008. Ma Ying-jeou, lulusan Universitas Harvard dan mantan Wali Kota Taipei meraih suara 58 persen mengalahkan saingannya, Frank Shieh, dari Partai Demokratik Progresif, yang meraih 41 persen suara.

Taiwan begitu penting bukan hanya karena kemajuan ekonominya, yang bersistem pasar bebas dan sistem demokrasinya, namun juga karena selalu menjadi target kecaman dan ancaman Tiongkok. Taiwan juga investor terkemuka di Asia, termasuk di Indonesia (sekitar US$ 4,5 miliar) Masalahnya karena beda ideologi di masa lalu, yang berlanjut dari perang saudara KMT dengan komunis Tiongkok pasca-Perang Dunia II. KMT pimpinan Generalisiomo Chiang Kai-Shek dikalahkan oleh komunis pimpinan Mao Zedong, sehingga Chiang dan pasukannya menyeberang ke Taiwan.

Permusuhan ideologi ini terus berlanjut, sementara Tiongkok mengklaim Taiwan adalah provinsi pemberontak yang harus disatukan kembali sewaktu-waktu dengan Tiongkok daratan. Sementara para Presiden Taiwan menganggap penyatuan kembali negeri pulau itu dilakukan dengan syarat bila Tiongkok menjadi negara demokratis.

Ketegangan politik yang mengarah ke serangan sewaktu-waktu Tiongkok itu memanas sejak Presiden Lee Teng-hui dari Koumintang dan berlanjut di masa Presiden Chen Shui-bian dari Partai Demokratik Progresif. Namun, kini Presiden terpilih Ma Ying-jeou justru menekankan kebijakan damai terhadap Tiongkok, tanpa menghilangkan jati diri Taiwan sebagai negara yang de facto merdeka dan berdaulat. Sejak menjadi Wali Kota Taipei Ma telah mengadvokasikan politik koeksistensi damai dengan Beijing. Dalam kunjungannya di Tiongkok, beberapa waktu lalu, Ma diterima baik oleh para petinggi politik Tiongkok.

Di dalam partai, Ma berupaya mengefektifkan fungsi-fungsi partai dengan peremajaan pimpinan, merampingkan 600 staf partai menjadi hanya 120 orang. Upaya utama lainnya, mengkonsolidasikan KMT sebagai partai nasionalis yang lebih modern, memberantas korupsi dan politik uang, yang merusak citra KMT sebagai partai berkuasa sejak 1949 sampai 2000.

Resep efisiensi, efektivitas, partai bersih, meningkatkan citra partai, dan mendekati Tiongkok tidak dengan mengadvokasikan kemerdekaan, namun kerja sama ekonomi telah membawa Ma menjadi orang nomor satu di negeri pulau yang kaya itu. Bayangkan pendapatan per kapita Taiwan telah melampaui US$ 15.000, dengan cadangan devisa hampir US$ 300 miliar, angka yang fantastis bagi negara pulau berpenduduk 23 juta jiwa itu. Tetapi, di masa pemerintahan Presiden Chen Shui-bian, ekonomi begitu merosot dan provokasi politiknya menyebabkan Beijing selalu geram dan mengerahkan 1.500 rudal di Provinsi Fujian yang diarahkan ke Selat Taiwan.

Ma dipuji rakyat Taiwan yang menolak ketegangan kronis di Selat Taiwan akibat provoksi Presiden Chen, yang memancing amarah Tiongkok. Dia malahan bertekad untuk sementara Taiwan akan melupakan dulu moto penyatuan Taiwan dengan Tiongkok (yang demokratis) dalam 30-40 tahun untuk meredakan Beijing. Ma politisi cemerlang karena membuat segitiga yang sulit, yakni Washington sekutu Taiwan, dengan Taiwan dan Beijing. Setidaknya dalam masa 4 tahun jabatannya ketegangan Selat Taiwan yang bisa memicu perang segi tiga AS-Tiongkok-Taiwan bisa dihindari. Beijing toh lega, karena menerima investasi Taiwan sekitar US$ 30 miliar. Kunjungan ribuan turis kedua pihak juga sebagai jembatan persahabatan-perdamaian kedua pihak di masa depan.


Last modified: 25/3/08