
AFP /AHMAD AL-RUBAYE
Tentara Amerika Serikat berjaga di depan rongsokan mobil pascapengeboman yang menewaskan lima orang dan melukai tujuh orang di Kota Baghdad, Irak, Minggu (23/3). Gempuran roket yang terjadi di Zona Hijau dan aksi bom bunuh diri di Mosul, menewaskan sedikitnya 57 orang.
[BAGHDAD] Serangan roket dan mortir menggempur Green Zone (Zona Hijau), kompleks pemerintahan dan perwakilan asing, di Baghdad, Irak, yang berada di bawah pengawalan ketat aparat keamanan AS, Minggu (23/3). Insiden itu bersamaan dengan terjadinya serangan bom truk bunuh diri di Mosul. Gempuran ke Zona Hijau dan aksi bom bunuh diri di Mosul adalah bagian dari serangkaian serangan ke seantero Irak, yang menewaskan sedikitnya 57 orang.
Kekerasan tersebut menggarisbawahi betapa situasi keamanan di Irak masih sangat rapuh, sekaligus menegaskan keuletan kelompok-kelompok garis keras, baik Sunni maupun Syiah, meskipun perang Irak sudah memasuki tahun ke-5. Jumlah militer AS yang tewas dalam konflik Irak sudah mendekati 4.000 orang.
Serangkaian serangan di Baghdad itu kemungkinan akibat meningkatnya ketegangan antarkelompok-kelompok Syiah yang saling bersaing. Sebagian dari kelompok garis keras Syiah tersebut kemungkinan berada di balik serangan ke Zona Hijau. Serangan itu sendiri terbilang gempuran paling serempak yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir terhadap jantung misi AS di Irak.
Serangan paling mematikan juga terjadi di Mosul, ketika seorang sopir truk melakukan aksi bom bunuh diri dengan memacu kencang kendaraan yang dikendarainya menerobos sebuah pos pemeriksaan keamanan, serta meledakkan bahan peledak yang dibawanya di depan sebuah gedung markas keamanan Irak. Seorang anggota kepolisian Irak mengatakan, sebanyak 13 tentara Irak tewas dan 42 orang luka-luka.
Sejumlah penjaga keamanan Irak melepas tembakan ke arah kendaraan tersebut. Tetapi, laju kendaraan tidak mampu dihentikan. Seorang anggota militer Irak menyebutkan, kaca depan mobil ternyata tahan peluru. Ia tidak bersedia disebutkan identitasnya karena tidak diberi otoritas untuk memberikan informasi.
Mosul, kota terbesar nomor tiga Irak yang terletak sekitar 225 mil arah barat laut Baghdad, selama ini dianggap sebagai kawasan kota besar terakhir yang masih berada di bawah cengkeraman al-Qaida, kelompok ekstremis Sunni.
Sementara itu, di Baghdad, roket dan mortir mulai menghujani Zona Hijau setelah merekahnya fajar hari Minggu. Serangkaian serangan selanjutnya menghujam kompleks tersebut selama seharian. Asap tebal tampak membubung dari kawasan berpenjagaan sangat ketat yang terletak di jantung Kota Baghdad tersebut.
Pernyataan yang dikeluarkan Kedubes AS di Irak menyebutkan, sedikitnya lima orang luka-luka di Zona Hijau. Tidak disebutkan apa kewarganegaraan lima korban tersebut. Selain Kedubes AS, Zona Hijau juga merupakan lokasi Kedubes Inggris dan sejumlah kantor utama pemerintah Irak.
Seorang pejabat AS yang tidak bersedia disebutkan identitasnya mengatakan, mereka yang terluka bukan berkebangsaan Amerika, Inggris, ataupun Irak.
Sementara itu, aparat kepolisian Irak menyebutkan sepuluh warga sipil tewas dan lebih dari 20 luka-luka dalam serangkaian serangan roket dan mortir di ber- bagai wilayah sebelah timur Baghdad.
Dalam kekerasan yang juga terjadi di Baghdad, tujuh orang tewas dan 14 luka-luka dalam serangan bom bunuh diri pada hari Minggu di Shula, kawasan ber- penduduk mayoritas Syiah di Baghdad.
Sekelompok pria bersenjata menembaki sejumlah calon penumpang yang menanti kedatangan bus di wilayah berpenduduk mayoritas Syiah, di wilayah tenggara Baghdad, sehingga menewaskan sedikitnya tujuh pria dan melukai 16 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.
Polisi juga menemukan 12 mayat yang dipenuhi luka bekas tembakan, yakni enam di Baghdad, empat di Mosul, dan dua di Kut, lokasi tempat terjadinya bentrokan bersenjata tentara pemerintah melawan milisi Syiah.
Tidak ada satu pun yang mengaku bertanggung jawab atas serangkaian serangan di Zona Hijau. Tetapi kecurigaan tertuju pada ekstremis Syiah, mengacu sejumlah wilayah tempat senjata-senjata ditembakkan.
Serangkaian serangan kemarin terjadi menyusul berlangsungnya sejumlah bentrokan.
Di tempat lain di Irak, militer AS menyebutkan, sebanyak 12 pria bersenjata tewas pada hari Minggu dalam sebuah gempuran ke sebuah jaringan yang diduga pelaku bom bunuh diri di sebelah timur Baqouba.
Kepolisian Irak melaporkan, belasan warga sipil tewas dalam sebuah serangan udara di wilayah yang sama. Tetapi militer menyebutkan, mereka yang tewas dalam serangan udara itu adalah anggota kelompok perlawanan, termasuk enam orang yang tengah menyiapkan serangan bom bunuh diri.
Seorang komandan kepolisian ditembak mati bersama sopirnya di Balad Ruz, yang terletak 45 mil arah timur laut Baghdad. Sedangkan sebuah bom pinggir jalan dekat Tuz Khormato, kota di wilayah utara, menewaskan empat tentara Irak, termasuk seorang petugas keamanan.
4.000 Pasukan Tewas
Ledakan bom di Baghdad, yang terjadi bersamaan dengan serangan roket dan mortir ke Zona Hijau yang dijaga pasukan Amerika Serikat (AS), Minggu (23/3), menewaskan empat serdadu AS, menambah jumlah serdadu AS yang tewas selama lima tahun invasi di Irak mencapai 4.000 orang.
Bagi pasukan AS, selama 2007 merupakan tahun paling mematikan dengan total 901 pasukan yang tewas. Bahkan pada 2007, tercatat jumlah kematian mencapai lebih dari 100 orang, selama April hingga Juni.
Jumlah pasukan yang tewas itu 51 orang lebih banyak dibanding 2004, yang menjadi tahun kedua paling mematikan bagi pasukan AS. Kematian 2.000 pasukan AS tercatat pada Oktober 2005. Pada hari terakhir 2006, sehari setelah Saddam Hussein dieksekusi mati dengan digantung, Pentagon mengumumkan 3.000 pasukan AS tewas.
Kematian pasukan AS di Irak, hampir mencapai jumlah kematian pasukan dalam 12 tahun keterlibatan AS pada perang Vietnam, dengan total 4.850 orang, selama 1963-1975. Meskipun jauh lebih sedikit dibanding kematian pada perang Korea, pada 1950-1953, dengan jumlah kematian sekitar 12.300 orang setiap tahunnya. [AP/E-9/B-14]