
Abimanyu
Warga antre mengisi formulir pendaftaran di klinik Perkumpulan Pemberantasan Tuberkolosis Indonesia di Jalan Baladewa, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, Senin (24/3). Pelayanan tersebut diperuntukkan bagi warga tanpa dipungut biaya, terkait dengan Hari Tuberkulosis Sedunia.
eringatan hari tuberkulosis (TB) se-dunia jatuh pada tanggal 24 Maret setiap tahunnya. Peringatan ini dirancang untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa TB masih menjadi epidemi banyak wilayah di dunia.
Penyakit yang disebabkan basil mycrobacterium ini, mengakibatkan kematian jutaan orang tiap tahun. Penyakit tersebut ternyata juga menginfeksi sepertiga jumlah orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).
Peringatan hari TB se-dunia pada tahun ini mengangkat tema "I am stopping TB" yang tidak hanya sekedar slogan, namun merupakan awal dari kampanye 2 tahunan dari semua orang di mana pun berada yang sedang berperan menghentikan TB. Konferensi internasional HIV/AIDS di Kota Toronto Kanada, tahun lalu menyatakan sepertiga lebih dari 40 juta ODHA terkena pula infeksi TB.
Berdasarkan catatan badan kesehatan dunia (WHO), hampir semua benua di dunia mencatat penurunan prevalensi penderita TB. Pengecualian bagi benua Afrika yang justru mencatat pertumbuhan infeksi TB 5 persen per tahun. Bahkan sejak 1990, di sub Gurun Sahara tercatat pengidap TB bertumbuh empat kali lipat, karena sebab virus HIV. Lebih dari 50 persen kematian ODHA di sub gurun tersebut disebabkan oleh infeksi TB.
"Masyarakat global kini meningkatkan jumlah bantuannya ke kawasan tersebut guna memerangi dan mengurangi kematian akibat ko-infeksi TB-HIV tersebut. Pertalian maut antara HIV/AIDS dan TB harus diwaspadai sebagai ancaman serius pembunuh mematikan para ODHA," ujar Ketua Tim Riset TB John Hopkins University, Robert Zmeskins dalam rilis peringatan TB di Jakarta, Sabtu (22/3).
Begitu pula di kawasan Asia, lanjutnya, jumlah penyandang TB tercatat tinggi pula. Hal tersebut terjadi di India yang mencatat satu dari setiap orang dewasa terinfeksi TB. Setengah juta orang India meninggal, karena penyakit tersebut tiap tahun. Hal tersebut juga dibarengi peningkatan penyandang HIV/AIDS.
Dikatakan, sebanyak 40 persen kematian orang dengan HIV/AIDS (ODHA) memiliki keterkaitan dengan penyakit TB. Basil mycrobacterium tuberkulosis sejauh ini dikenal sebagai penyebab penyakit TB. Penyakit tersebut ternyata juga menginfeksi sepertiga jumlah ODHA.
Pada tahun 1882, Dr Robert Koch mengejutkan dunia dengan mengumumkan bahwa dia telah menemukan penyebab tuberkulosis. Tidak dapat dipungkiri lagi penemuan bersejarah tersebut telah membuka jalan menuju diagnosis dan penyembuhan penyakit yang menyebabkan kematian 1 dari 7 orang dunia pada abad ke 18 dan 19.
100 Tahun
Staf pengajar Departemen Pulmonologi FKUI / RS Persahabatan, dr Tjandra Yoga Aditama Senin (24/3) menjelaskan, sesungguhnya, penyakit TB sudah lebih dari 100 tahun yang lalu ada di permukaan bumi kita ini. Dapat diketahui antara lain seperti yang tampak pada tulang-tulang belakang (vertebra) manusia di Eropa, juga mumi-mumi di Arab yang dapat diperkirakan dari sekitar tahun 3800 SM, penemuan tersebut merupakan peninggalan tertua penyakit ini.
Di Indonesia, penyakit ini pun sudah lama ada, dapat diketahui dari salah satu relief di Candi Borobudur, yang tampaknya menggambarkan suatu kasus tuberkulosis. Berarti pada masa itu (tahun 750 sesudah Masehi) orang sudah mengenal penyakit ini ada di antara mereka.
Sejak tahun 1940-an mulai diperkenalkan obat antituberkulosis (OAT) yang sekarang ini dipakai secara luas.
Enam puluh tahun setelah penemuan basil TB, dimulailah era baru pengobatan tuberkulosis dengan diperkenalkannya streptomisin yang kemudian disusul dengan PAS di tahun 1947 dan INH di tahun 1952.
Sementara itu, dr Titi Sundari SpP, dokter spesialis ahli penyakit paru dari Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso berpendapat, terapi pengobatan koinfeksi TB-HIV dilakukan dengan mempertimbangkan status kedua penyakit tersebut pada pasien. Tetapi menurut Titi, infeksi TB pada ODHA harus lebih dahulu diobati.
Karena itu, Titi menyarankan pemberian obat antiretroviral (ARV) dilakukan setelah periode pengobatan TB. Ia menjelaskan pada kasus ko-infeksi TB pada ODHA dengan CD4 (komponen darah putih) kurang dari 200, pemberian obat ARV dilaksanakan setelah pengobatan TB berjalan dua minggu.
Enam Bulan
Lebih lanjut, Titi Sundari mengatakan pada prinsipnya metode pengobatan TB pada kasus ko-infeksi TB-HIV tak ada bedanya. Artinya infeksi TB dengan atau tanpa ODHA sama saja. Tetapi yang jelas pemberian obatnya harus dilakukan selama 6 bulan sesuai rekomendasi WHO.
Rekomendasi pengobatan WHO soal TB, membutuhkan komitmen pemerintah yang mencakup pula keharusan melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan bakteriologi. Apalagi, perkembangan epidemi HIV di Indonesia termasuk yang tercepat di kawasan Asia, yakni sekitar 0,16 persen dari penduduk dewasa (2006).
Bangsa Indonesia memang harus belajar dari pengalaman negara-negara Afrika. Hingga 2007 ini masih terdapat masalah-masalah kesehatan yang belum dapat tertanggulangi dengan baik dan efektif. Salah satu di antara yang mendapat per- hatian akhir-akhir ini adalah masalah ko-infeksi TB-HIV/AIDS. [SP/Eko B Harsono]