
SP/Ignatius Liliek
Gedung Sapta Pesona, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
akarta macet, bukan berita. Jakarta banjir, juga sudah biasa. Biasa membuat jengkel dan tekanan darah meningkat. Belum lagi suara klakson, main serobot seenak perut. Angan Jakarta bakal bebas banjir dan macet, mungkin masih jauh.
Soal Gubernur Jakarta yang sering mengatakan mampu menangani kedua masalah tersebut di atas pada saat kampanye, biar rakyat yang bicara. Kejengkelan dan makian di tengah kemacetan bisa jadi akan berkurang jika gedung-gedung di seputar jalan, nikmat dipandang.
Itu soal subjektif, memang. Tetapi, patut memperhatikan pendapat Adhie Moersid, arsitek senior, soal hubungan bangunan dengan kemangkelan. Warga Jakarta tentu saja punya komentar soal kemacetan, terutama pascahujan. Namun, ia punya komentar lain. Tentu berkaitan dengan profesinya yang mengantar namanya sebagai peraih Aga Khan Award, penghargaan prestisius pada 1986, berkat karyanya merenovasi Masjid Said Naum di Kebon Kacang, Jakarta.
"Malu, saya malu," katanya lirih, akhir pekan lalu di rumahnya di daerah Kalibata, Jakarta Selatan. Matanya melihat ke atas. Ke atap bangunan rumahnya yang tengah dibangun. Rumah kampung, begitu ia menyebut rumahnya yang belum selesai dibangun. Rumahnya memang "tidak macam-macam". Sederhana.
Kenyamanan jelas terasa di situ. Bukan hanya karena ada taman luas. Bukan hanya berpintu kayu dan lebar. Juga bukan hanya karena atap tinggi dan mahapanjang di bagian muka.
Ucapan "malu, saya malu" selintas seperti petikan dendang Obbie Mesakh, "malu, aku malu, pada semut merah..." Tetapi, malu yang satu ini jelas serius. Perasaan itu muncul saat memperhatikan bangunan-bangunan di seputar Jakarta. Sepanjang Jalan MH Thamrin-Sudirman yang sering dilalui Adhi.
Sebelum memasuki Jalan Thamrin, ia terkadang melalui Jalan Merdeka Barat. Ada Gedung Sapta Pe-sona yang menurutnya menarik. Mungkin itu subjektif. Gedung unik yang merefleksikan filosofi lingga atau kelamin pria itu, tidak lepas dari hidup- nya. "Saya senang memperhatikan gedung itu bukan hanya karena karya sahabat saya almarhum Robi Sularto almarhum. Gedung itu indah dan sentuhan detail almarhum sangat terasa di kawasan prestisius," ia menambahkan.
Lalu, apa hasil pengamatannya saat melihat gedung-gedung lain di sepanjang jalan itu? Selain malu karena banyak bangunan tidak memberikan kenyamanan bagi warga lain yang melihatnya, ternyata juga menurutnya, "tidak mengurangi kejengkelan saat kita terjebak macet."
Apa yang membuat malu? Sebagai arsitek, soal yang membuatnya malu berkaitan dengan bentuk bangunan yang ada.
Dengan pelan ia menyebutkan ketiadaan bangunan yang akrab dengan budaya Indonesia. Yang ia maksud dengan arsitektur berbudaya Indonesia jelas tidak jelas. Belum ada definisi baku mengenai arsitektur Indonesia atau arsitektur dengan budaya Indonesia itu.
Budi A Sukada, Ketua Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) punya pendapat menarik soal ini. Arsitektur Indonesia adalah karya arsitek yang mempresentasikan norma budaya Indonesia. Nah, norma budaya Indo- nesia dapat diperdebatkan terus-menerus karena selalu berkembang mengikuti zaman.

SP/Alex Suban
Gedung Dharmala (kiri bawah) di antara gedung-gedung lainnya di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.
Refleksi Keadaan Bangsa
Adhi menyatakan kesepakatannya soal perdebatan mengenai apa itu arsitektur Indonesia. Tapi, yang membuat ia malu saat melin- tas pelan di tengah kema-cetan ialah betapa bangunan yang ada di Jakarta banyak dikerjakan arsitek dari luar negeri yang memenuhi pesanan orang Indonesia yang tidak punya citra rasa Indonesia.
Lepas dari perdebatan soal definisi bentuk arsitektur Indonesia, seyogianya ada upaya untuk menampilkan sesuatu yang khas di jalan-jalan raya di Jakarta. Dan yang khas itu harus bisa memberikan kenya- manan bagi warga kota yang setiap hari diuji ke- sabarannya menghadapi kemacetan.
Sampai sejauh ini, mungkin hanya mimpi membicarakan panjang lebar soal kenikmatan saat menatap berbagai bangunan di Jakarta. Apalagi mengurangi ketegangan pengguna jalan.
Adhi mengaku bahkan pesimistis memberikan penilaian. Berulang kali ia mengingatkan, tujuan utama mendirikan bangunan, rumah, atau perkantoran pasti untuk kenyamanan bagi pemilik atau orang yang berada di bangunan itu. Setelah itu, pemiliknya bisa jadi ingin memiliki sesuatu yang menarik dan unik di gedungnya.
Soal menarik dan unik menurut pemberi pekerjaan itu pernah menjadi perhatian besar almarhum Romo YB Mangunwijaya semasa hidupnya. Perancang kawasan Kali Code Yogyakarta, yang juga peraih Aga Khan Award itu sering mengatakan, sebagian wajah bangunan di Indonesia biasanya gado-gado asal comot sana comot sini, karena memang itu yang diminta pemberi order. Kalau tidak memuaskan pemberi order, ditakutkan nanti tidak mendapatkan order basah dari klien yang kuasa, kaya baru, tetapi tidak intelek itu.
Dalam salah satu artikelnya ia malah mengungkapkan betapa arsitektur Gedung Dewan Pertimbangan Agung di Jakarta berbentuk luar. Meminjam istilahnya, bahkan warnanya pun pleg, persis, dengan gedung-gedung berarsitektur Germania Hitler, buah hasil retorika Menteri PU Nazi Albert Speer. Aneh, tetapi bagi yang tahu psikologi, sebetulnya tidak aneh juga.
Ada baiknya kita dengar pendapat Yori Antar soal arsitektur dan kenikmatan mata. "Membosankan. Ya, saya sering memperhatikan juga bangunan dan per- kantoran di ruas Jalan MH Thamrin-Sudirman. Sudah macet, eh, kita tidak dapat kenikmatan saat menyaksikan bangunan-bangunan di sepanjang jalan itu," keluhnya.
Dalam pengamatannya, beberapa tahun awal Gedung Dharmala dan gedung milik Bank Danamon sempat memberikan kenikmatan tersendiri saat ia terjebak kemacetan. Gedung Anggana Danamon lengkap dengan halaman luasnya, malah memberikan ruang lebar dan bebas bagi siapa saja untuk ikut masuk dan menarik napas sesaat.
Di area itu, dalam istilah peraih berbagai penghargaan untuk karya arsitekturnya, ada ruang untuk berdialog yang nyaman bagi warga kota. Dengan lain perkataan, Yori mau mengatakan, tugas utama para arsitek ialah menciptakan karya yang bisa memberikan keindahan dan kenyamanan bukan hanya bagi pemilik bangunan tapi juga warga lainnya.
Lepas dari soal itu, Adhi, Yori, dan pasti almarhum YB Mangunwijaya, sejak lama bangunan-bangunan baru di Indonesia itu merefleksikan keadaan bangsa. Bangsa yang sakit. Bangsa yang untuk memberikan kenikmatan sesaat untuk mata warganya saja sudah angkat tangan. [SP/Aa Sudirman]