[WASHINGTON] Tekanan semakin besar dihadapi kubu Demokrat agar mereka segera bersatu mendukung kandidat tunggal. Desakan muncul di tengah berlanjutnya perjuangan Hillary Rodham Clinton untuk merebut keuntungan matematis dari Barack Obama guna memenangkan pencalonan di Partai Demokrat menuju Gedung Putih.
Kampanye kepresidenan yang berlangsung sengit selama beberapa pekan terakhir dipenuhi konfrontasi tajam menjelang diselenggarakannya pemilihan pendahuluan (primary) yang terbilang krusial di Pennsylvania pada 22 April mendatang. Pemilihan Pennsylvania adalah salah satu dari sepuluh kontes yang masih tersisa untuk memutuskan siapa yang bakal menantang calon tunggal dari Partai Republik John McCain pada pemilu November mendatang.
Hillary, kini berada pada puncak pertarungan untuk mempersempit selisih perolehan suara dengan Obama, yang sementara berada pada posisi memimpin baik dalam jumlah perolehan delegasi, dukungan suara publik di tingkat nasional, maupun jumlah kontes yang berhasil dimenangkan.
Sejumlah pengamat mengatakan, peluang Hillary untuk bisa mencuri kemenangan semakin menipis. Politico, sebuah surat kabar AS yang cukup ternama, menggarisbawahi Obama harus dihantam dengan "meteor politik" apabila Hillary ingin memenangkan pertarungan di kubu Demokrat.
Tim kampanye Hillary dilaporkan sudah mengakui bahwa mantan Ibu Negara tersebut tidak akan mampu menyamai atau bahkan mengungguli Obama dalam perolehan delegasi. "Ia (Hillary) akan dapat mendekati Obama tetapi bisa dipastikan tidak akan dapat menyamai dalam perolehan delegasi," ungkap seorang penasihat Hillary kepada Politico.
Sejumlah prediksi memperlihatkan Obama mengungguli Hillary dalam perolehan delegasi dengan perbandingan 1.628 - 1.493. Obama juga diprediksi unggul dalam primary Pennsylvania yang akan memperebutkan suara hampir 750.000 orang. Sistem delegasi proporsional tampaknya akan sangat sulit bagi Hillary untuk menang. [AFP/E-9]