[TAIPEI] Presiden Taiwan terpilih, Ma Ying-jeou dari Partai Kuomintang mengatakan ingin menandatangani perjanjian damai dengan Partai Komunis Tiongkok, memulai penerbangan langsung Taiwan-Tiongkok, membuka kesempatan lebih banyak kunjungan turis Tiongkok, dan membantu industri keuangan Taiwan merambah Tiongkok.
Namun, Ma Ying-jeou, yang berhasil mengambil kekuasaan dari Partai Demokrat Progresif, yang berkuasa selama dua periode sebelumnya, dengan memenangkan Pemilihan Presiden (Pilpres) Taiwan, Sabtu (22/2), menyebut belum berencana mengunjungi Tiongkok dalam waktu dekat.
Dikatakan, pekerjaan paling penting yang harus dilakukan ke depan adalah meningkatkan hubungan dengan Tiongkok. "Untuk penerbangan langsung, membuka kunjungan turis Tiongkok ke Taiwan, dan memungkinkan industri jasa keuangan kita berkembang di Tiongkok," katanya.
Meskipun ribuan perusahaan Taiwan telah menanamkan investasinya di Tiongkok beberapa tahun terakhir, Taiwan masih menerapkan larangan pengiriman langsung melalui laut dan udara melewati Selat Taiwan. Pemerintah Taiwan juga berhati-hati melonggarkan larangan terhadap industri strategis seperti keuangan dan teknologi.
Kekhawatiran utama adalah Taiwan akan menjadi terlalu rapuh atau tergantung pada Tiongkok, yang masih mengancam menggunakan kekuatan militernya untuk menyatukan Taiwan, yang berpisah sejak perang sipil pada 1949, untuk kembali bergabung dengan Tiongkok.
Ma berhasil meraih 58 persen suara atas pesaingnya, Frank Hsieh dari Partai Progresif, yang hanya memperoleh 41 persen suara. Pada persaingan antara keduanya, Hsieh menggambarkan Ma sebagai figur yang lembek, yang akan dengan cepat terjatuh ke Tiongkok dan menjual kepentingan Taiwan.
Pada kampanyenya, Ma yang kini berusia 57 tahun, mengusulkan ekonomi pasar bersama dengan Tiongkok, yang ditanggapi Hsieh dengan menilai kebijakan itu akan memicu invasi pekerja murah dari Tiongkok, yang akan mencuri lapangan pekerjaan bagi warga Taiwan.
Tidak Percaya
Kemenangan Ma, dinilai lebih banyak dipengaruhi ketidakpercayaan masyarakat atas Presiden Taiwan sebelumnya, Chen Shui-bian dari Partai Progresif, yang pemerintahannya dinilai marak dengan skandal korupsi. Ahli politik dari Universitas Taipei Emile Sheng mengatakan, sikap bersahabat dengan Tiongkok, bukan faktor utama kemenangan Ma.
Kemenangan Ma, yang berjanji menurunkan ketegangan dengan Tiongkok, disebutnya, bukan pertanda bahwa rakyat Taiwan menginginkan penyatuan Taiwan-Tiongkok atau mereka menyukai partai Ma," katanya. Kemenangan Ma sendiri, turut meningkatkan kekhawatiran sebagian rakyat Taiwan terhadap Beijing.
Muncul kekhawatiran di rakyat Taiwan, Tiongkok akan berusaha mengambil keuntungan dari jatuhnya Partai Progresif, dengan melakukan tekanan bahwa Taiwan harus bersatu dengan Tiongkok atau akan menghadapi ancaman serangan militer Tiongkok. Apalagi sebagian besar rakyat Taiwan melihat Tiongkok sebagai pemerintahan yang represif dan mereka merasa tidak nyaman menjadi bagian dari itu. [AP/B-14]