SUARA PEMBARUAN DAILY

Asian Film Awards 2008

Film Korea Selatan Berjaya di Asia

Film produksi Indonesia belum mampu bersaing dengan film Asia, seperti film produksi Korea Selatan. Pada Asian Film Awards (AFA) yang berlangsung pekan lalu di Hong Kong, Indonesia hanya meraih penghargaan untuk kategori Komposer Terbaik yang diterima komposer musik Rahayu Supanggah lewat film Opera Jawa (2006). Penghargaan tersebut diterima Rahayu pada 20 Maret 2007.

Berbeda dengan film produksi Indonesia yang terbilang lesu di kawasan Asia, dunia perfilman Korea Selatan semakin melesat sejak kebangkitannya pada 1999. Di ajang Asian Film Award tahun lalu, film produksi Korea Selatan The Host (2006) meraih penghargaan terbanyak yaitu empat dari 10 penghargaan. Penghargaan yang diraih adalah untuk kategori Film Terbaik, Aktor Terbaik, Sinematografi Terbaik dan Efek Visual Terbaik.

Tidak butuh waktu lama bagi sineas Korea Selatan untuk menunjukkan keberadaannya. Sejak kemenangan tahun lalu, film produksi Negeri Ginseng itu kembali merajai ajang ke-2 yang diprakarsai Hong Kong International Film Festival Society yang kembali digelar tahun ini. Film berjudul Secret Sunshine (2007) arahan sutradara Lee Chang-dong meraih penghargaan sebagai Film Terbaik.

Selain meraih penghargaan sebagai Film Terbaik, film drama romantis itu juga meraih penghargaan untuk kategori Sutradara Terbaik dan Aktris Utama Terbaik yang diraih bintang Korea Jeon Do-yeon. Secret Sunshine mengalahkan film unggulan Lust Caution karya sutradara Ang Lee, yang dinominasikan dalam enam kategori. Lust Caution yang diproduksi bersama Taiwan, Tiongkok, dan Amerika Serikat (AS) hanya meraih satu penghargaan Aktor Terbaik untuk akting Tony Leung Chiu Wai.

Hingga penyelenggaraan kedua AFA tahun ini, film-film yang masuk nominasi masih didominasi produksi kawasan Asia Timur seperti Tiongkok, Hong Kong, Jepang, Taiwan, dan Korea. Dari 33 film yang masuk nominasi, hanya ada 10 film yang diproduksi di luar kawasan itu.

Dewan Film

Kebangkitan perfilman Negeri Ginseng itu dari era film impor yang merajai lalu lintas jagat sinema negeri itu, ditandai dengan pembentukan Dewan Film Korea pada 28 Mei 1999. Meski sama-sama berada di wilayah Asia, film produksi Indonesia sepertinya belum mampu menyaingi eksistensi dan kualitas film produksi Korea Selatan. Film Indonesia yang mulai bangkit sejak muncul film Petualangan Sherina (2000) arahan sutradara Riri Riza dan Mira Lesmana ini belum unjuk gigi di wilayah Asia.

Meski pada beberapa kesempatan seperti pada pemutaran film 3 Hari Untuk Selamanya tahun lalu di Hong Kong terlihat antusiasme penonton, khususnya warga Indonesia yang memenuhi bioskop tempat pemutaran.

Dua kali penyelenggaraan Asian Film Awards menunjukkan kemampuan sinematografi Korea bersaing dengan film produksi negara Asia lainnya, meski mungkin masih dianggap terlalu muda jika dibanding dengan film Hollywood yang menjadi pionir industri film dunia.

Namun, keunggulan industri film tidak hanya ditentukan oleh lama pengalaman tetapi juga kreativitas para sinematograf. Sebagai negara yang telah maju di bidang perekonomian, apresiasi terhadap seni film yang dilakukan para aktor di depan maupun di belakang layar lebar tentulah berpengaruh positif terhadap kesuksesan dunia perfilman Korea.

Apresiasi terhadap profesionalitas kerja yang dilakukan para tokoh seni Korea tersebut diperlihatkan dengan memproduksi sinema-sinema berkualitas dan berkelas dunia. Jika dicermati, para kreator dapat maksimal berkreativitas jika didukung suasana politik dan ekonomi yang stabil. Perkembangan sinematografi di Korea Selatan boleh jadi secara bertahap mengejar kesuksesan perfilman Hollywood. [Berbagai Sumber/AMT/N-4]


Last modified: 24/3/08