[JAKARTA] Perusahaan asal Timur Tengah, Eta Star berencana menginvestasikan dananya senilai US$ 7 miliar (sekitar Rp 63 triliun) pada empat sektor yakni, kilang minyak, pembangkit listrik, perkapalan, dan pengembangan batu bara. Meski belum menandatangani kontrak perjanjian, komitmen Eta Star dibuktikan dengan studi dan penjajakan pada sektor yang akan dikembangkan.
Demikian dikatakan, Tanri Abeng dihubungi SP lewat telepon genggamnya, Minggu (23/3). Menurut Tanri, investasi yang akan dilakukan untuk sektor-sektor tersebut sangat sesuai dengan kebutuhan Indonesia yang disampaikan Kepala Negara Susilo Bambang Yudhoyono pada pertemuan dengan pengusaha-pengusaha Uni Emirat Arab (UEA) di Dubai, pekan lalu.
"Presiden menyampaikan empat kebutuhan Indonesia, perbaikan dan ekspansi kilang minyak, pembangkit listrik, shipping, dan pengembangan batu bara. Kebetulan empat sektor ini diminati Eta Star dan mereka sangat tertarik sekali untuk menginvestasikan dananya disini," ujar Tanri.
Studi
Saat ini, pihak dari Eta Star bukan cuma telah membicarakannya dengan pemerintah Indonesia, tapi juga telah datang dan melakukan studi di Indonesia. Pihak Eta Star, sambung Tanri, sudah positif untuk menginvestasikan dananya, hanya tinggal menunggu respon dari Indonesia.
"Keputusan ini kan bergantung oleh kedua belah pihak, Eta Star dan Indonesia. Saat ini, Eta Star sudah ok, mereka serius dan sangat percaya diri untuk menginvestasikan dananya pada empat sektor ini, tinggal menunggu respon dari Indonesia saja," tutur Tanri.
Tanri juga mengatakan, hingga saat ini belum ada batasan waktu untuk kedua belah pihak memutuskan menandatangani kontrak perjanjian. Cepat atau lambatnya keputusan ini, katanya, bergantung respon tiap-tiap sektor terkait menindaklanjuti langkah-langkah berikutnya (follow up).
Hal serupa juga disampaikan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) MS Hidayat. Menurut Hidayat, presiden telah menegaskan dan meminta sektor-sektor terkait, seperti Pertamina dan PLN, untuk terus mem-follow-up komitmen pengusaha UEA dalam menginvestasikan dana mereka di Indonesia.
"Presiden meminta sektor terkait untuk menindaklanjuti langkah berikutnya. Saya harap usaha presiden ini tidak sia-sia, dan direspon cepat oleh Indonesia," ujar Hidayat dihubungi SP, Senin (24/3) pagi.
Sebelumnya, perusahaan asal UEA, Emaar telah menandatangani joint venture agreement dengan PT Pengembangan Pariwisata Bali (Bali Tourism Development Corporation - BTDC) untuk investasi senilai US$ 600 juta guna mengembangkan kawasan pariwisata terpadu di Lombok Selatan.
Kesepakatan tersebut lahir setelah pertemuan one on one presiden dengan lima pengusaha UEA usai bussines gathering yang diikuti oleh 45 perusahaan-perusahaan asal Timur Tengah. [CNV/M-6]