SUARA PEMBARUAN DAILY

SUARA PEMBACA

Suara pembaca dikirim melalui email opini@suarapembaruan.com atau Faks ke redaksi, disertai alamat lengkap dan fotocopy identitas yang masih berlaku

Penjelasan Bank Mandiri

Menanggapi suara pembaca di SP tanggal 8 Maret 2008 dari Ibu KJ mengenai "Kurir Bank Mandiri", sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas masukan yang disampaikan.

Kami telah menghubungi Ibu KJ melalui telepon untuk menyampaikan penjelasan mengenai permasalahan dimaksud dan Ibu KJ dapat menerima penjelasan yang disampaikan.

Mansyur S Nasution - Corporate Secretary PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Jakarta

Penjelasan Bank Niaga

Sehubungan dengan surat Bpk B Tjandrasjahan yang berjudul "Pengalaman Buruk dengan ATM Bank Niaga" (SP 12 Maret 2008), dengan ini kami sampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami atas layanan Bank Niaga.

Sebagai tindak lanjut dari keluhan tersebut, kami telah menghubungi yang bersangkutan guna menjelaskan dan menyelesaikan masalah tersebut. Dicapai kesepakatan oleh kedua belah pihak bahwa permasalahan tersebut telah diselesaikan dengan baik.

Kepuasan nasabah merupakan fokus dari seluruh usaha kami dalam upaya menjaga dan terus meningkatkan kualitas pelayanan Bank Niaga.

Dina Sutadi - Vice President Corporate Communication Division Head PT Bank Niaga Tbk Jakarta

Anak Tertekan di Sekolah

Saya sangat kecewa dengan perlakuan yang terjadi pada putri saya dan merasa tertipu telah memasukkan anak saya di SD Cikal Harapan di Sektor 9 Bumi Serpong Damai. Anak saya kelas satu SD, mengalami depresi dan tekanan yang cukup berat akibat intimidasi oleh guru kelasnya sendiri dan tidak berani menceritakannya kepada kami orangtuanya. Untung kami sebagai orangtua bisa mendeteksi ada hal tidak wajar yang terjadi pada putri kecil kami. Dia sering terbangun dan menangis sendiri di malam hari. Juga bila mewarnai gambar, ia hanya menggunakan warna hitam untuk keseluruhan gambar tersebut.

Tekanan yang diterimanya dimulai dari larangan ke toilet untuk buang air kecil, sehingga anak kami takut minum sehingga urinenya sempat sangat keruh dan suhu tubuhnya selalu tinggi. Setiap akan pulang, dia selalu diberi giliran paling belakang, padahal ia telah menyelesaikan tugas lebih dahulu dari teman-temannya. Hal itu belum terhitung kecaman yang kerap diterimanya tanpa alasan yang kuat, termasuk dipermalukan di hadapan teman-temannya.

Setelah kami mengetahui tentang perlakuan yang diterimanya tersebut, kami beberapa mencoba mengkomunikasikan hal ini dengan guru kelasnya. Namun tidak digubris, malahan anak kami dihukum karena mengadu. Kami mencoba menjelaskannya ke kepala sekolah, sayangnya cerita kami kurang dipercaya, karena guru kelas tersebut orang lama di sekolah itu.

Yang paling membuat hancur hati saya sebagai orang tua ialah setelah membawa masalah ini ke Kepala Sekolah, putri kami malah dituduh mencuri uang teman-temannya dan dihakimi tanpa menginformasikan kepada kami sebagai orang tuanya. Anak saya telah dua kali diinterogasi di ruang UKS oleh gurunya dengan menghadirkan temannya satu persatu layaknya seorang penjahat besar. Saya mungkin tidak akan sekecewa ini andai saja anak saya sudah di kelas 3 atau 4 SD, dan tidak takut untuk pergi ke sekolah yang masih agak asing baginya. Saya sungguh heran, di sekolah dasar, penghukuman dan ancaman dianggap sebagai pendisiplinan. Mempermalukan seorang anak kecil di depan teman-temannya dianggap sebagai tindakan yang memotivasi agar lebih giat belajar.

Saat ini saya benar-benar merasa putus asa karena putri saya sedang belajar di pertengahan tahun akademis sehingga tidak mungkin untuk pindah ke sekolah lain, atau ia akan ketinggalan satu tahun dari teman-teman seusianya. Sementara tekanan dari guru kelasnya belum juga berakhir.

DH Widayatmoko - Jl Vinca 4 No 37 Blok G-4 Sektor I-4 BSD City


Last modified: 24/3/08