
Christianto Wibisono
aisal Basri menulis di Kompas Senin (24/3) tentang kemelut di Tanjung Priok dengan judul menggigit, Negeri Maritim yang Merana. Sinisme ini juga berkaitan dengan ekspose harian Bisnis Indonesia pekan lalu bahwa Tanjung Priok terancam kongesti tiga bulan. Sementara stasiun TV secara rutin menayangkan kemacetan setengah hari pada arus lalu lintas di penyeberangan Selat Sunda. Indonesia adalah negara yang berslogan dan bersemboyan "nenek moyangku orang pelaut", tapi secara riil politik tampaknya doktrin kontinental kekuatan darat lebih dominan dari doktrin maritim.
Dua mazhab bersaing ketat dalam wacana geo-politik, mazhab kontinental Mackinder, yang mengandalkan kekuatan daratan masif dan mazhab maritim Mahan, yang mengagumi lautan sebagai urat nadi perniagaan dan dengan demikian mendominasi ekonomi dunia.
Mazhab kontinental menyatakan bahwa siapa yang menguasai super kontinen, Eropa Asia, akan menguasai dunia. Sedang mazhab maritim menyatakan bahwa negara yang menguasai samudra dengan kekuatan maritim tangguh akan menguasai dunia.
Teoretikus geo-politik tentu saja baru muncul pada zaman modern, sedang gejala geo-politiknya sendiri sudah berumur setua manusia. Saat dunia masih berlingkup regional hingga tahun 1000 Masehi, yang berperan ialah kekuatan kontinental atau tentara darat. Tapi, kekuatan armada niaga maupun angkatan laut sudah mulai dikenal sejak zaman Yunani berperang sendiri antara Sparta, Athena, dan Troy. Atau peperangan dengan armada Persia, kemudian armada Romawi dengan armada Mesir. Jadi, sebelum para teoretisi seperti Mackinder dan Mahan lahir, doktrin perang darat dan perang laut sudah dikenal dan dipraktikkan pada skala dan ruang lingkup regional.
Fenomena Marco Polo, yang memanfaatkan jalur Eropa Asia yang dibuka oleh Genghis Khan, membuktikan bahwa Jalan Sutra (The Silk Road) cukup efektif membina hubungan perdagangan Eropa Asia. Genghis Khan adalah pendiri imperium kontinental terbesar sepanjang sejarah yang tidak pernah dicapai oleh kekuatan mana pun hingga zaman modern ini. Imperium Inggris memang bersemboyan "matahari tidak pernah tenggelam" saking menyebarnya koloni Inggris dari belahan bumi Barat Amerika, sampai Australia terus ke Afrika. Tapi, imperium Mongol Genghis Khan melebar dari Eropa sampai samudra Pasifik, nyaris seluruh super kontinen Eropa Asia berada di bawah telapak kaki laskar berkuda Mongol. Ini terjadi pada abad ke- 13-14.
Laksamana Zheng He menguasai Samudra India dan Laut Tiongkok Selatan bagaikan kolam renang armada dinasti Ming. Dipersepsikan bahwa armada Ming di bawah Zheng He adalah pembawa misi muhibah dan bukan penakluk atau pemungut upeti, karena dinasti Ming lebih kaya dari seluruh negara di Asia zaman itu.
Rempah-rempah
Setelah dinasti Ming mengubah kebijakan politik menjadi inward looking, Eropa Barat justru aktif mencari hasil bumi rempah-rempah dari Maluku, maka konfigurasi dunia mulai berbalik secara drastis. Asia dan Timur mengalami stagnasi, kemunduran dan akhirnya akan menjadi koloni dari kekuatan Eropa Barat. Jalan Sutra Marco Polo mirip jalan lama yang ditinggalkan arus utama perniagaan Eropa Asia. Jalan baru Eropa Asia ialah lalu lintas pelayaran yang dipelopori Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris.
Pasang naik Eropa Barat seolah-olah memperoleh momentum yang berkesinambungan dari temuan harta karun emas oleh imperium Spanyol di benua Amerika Selatan. Bangkitnya Belanda sebagai kekuatan ekonomi global karena monopoli perdagangan VOC. Disusul oleh imperium Inggris Raya yang tidak mengenal matahari terbenam.
Asia merosot terus total PDB-nya sedang Eropa meningkat terus, sehingga terjadi ketimpangan antara dunia Barat dengan penduduk yang lebih kecil tapi PDB-nya lebih besar dari dunia Timur, terutama Asia yang merosot pendapatan per kapitanya. Dinasti Ming yang diganti dinasti Qing tetap saja gagal mengubah Tiongkok. Tapi, Meiji Tenno pada 1868, ketika AS sedang sibuk berperang saudara antara yang pro dan antiperbudakan, melihat rahasia keunggulan Barat adalah teknologi yang diperoleh melalui pendidikan. Oleh karena itu, Meiji Tenno mencanangkan Restorasi Meiji sedang di India, seorang politisi Inggris, mengajari politisi India untuk mendirikan Partai Kongres.
Dalam satu generasi Restorasi Meiji berhasil menciptakan angkatan laut Jepang yang mampu mengalahkan armada Rusia di selat Tsushima pada 1905. Dari situ orang Asia sadar bahwa hanya dengan mempelajari dan menguasai teknologi Barat mereka bisa menandingi dan bahkan bila perlu mengalahkan Barat tanpa perlu merasa rendah diri.
Semua ini sudah menjadi sejarah klasik. Tapi di luar Jepang, dua raksasa, India dan Tiongkok, terjebak pada tiga generasi uji coba sosialisme yang akhirnya membuat keduanya terpuruk secara ekonomi. Setelah kegagalan Marxisme dan komunisme di RRT maka Tiongkok menempuh jalan mekanisme pasar. Hu Jintao mengatakan bahwa pasar sudah ada sebelum Marx lahir dan tidak ada kaitannya dengan doktrin materialisme dialektis maupun historis. Pasar inilah yang dibuka kembali di RRT dan India dengan resultan yang mengagumkan. Dalam satu generasi, pengayuh sepeda "disulap" jadi pemilik mobil di Beijing dan Shanghai. Partai Komunis menerima konglomerat sebagai anggota dan cadangan devisa RRT menjadi yang terbesar di dunia (US$ 1,7 triliun) mengalahkan Jepang. Rusia, yang bangkit dari serpihan bubarnya Uni Soviet, juga mengalami masa keemasan karena hasil minyak, sehingga pulih rasa percaya dirinya dan kembali memainkan catur geo-politik menghadapi AS.
Jalur Marco Polo dihidupkan kembali dengan pelbagai pembangunan infrastruktur lintas Eropa Asia. Mulai dari pelbagai jaringan pipa minyak dan pipa gas dari pusat produksi minyak dan gas di wilayah Siberia menuju pusat konsumen di Tiongkok dan Jepang serta pulihnya jalur kereta api Trans Siberia. Jalur Marco Polo ini berupa poros Eropa Asia dari Hamburg ke Beijing serta poros Utara Selatan dari Singapura ke Beijing melewati beberapa negara di Asia Tenggara. Jika Timur Tengah dan Asia Tengah damai dari perang teror maka banyak jaringan pipa dan jalur perniagaan kontinental akan aktif kembali dan peran sektor maritim tentu akan berkurang.
Impian Integrasi
Indonesia yang secara geografis selalu membanggakan diri sebagai negara pivotal karena terletak di "perempatan" jalan antara dua samudra dan dua benua, harus memperhatikan fenomena bangkitnya kembali jalur Marco Polo di abad XXI ini dengan cermat. Bila kita tidak waspada dan menyesuaikan diri maka sebagian besar dari volume perdagangan lewat jalur maritim tradisional zaman kolonial akan tersedot oleh jaringan "Jalan Sutra" modern di mana kita tidak tersambung dalam mata rantai.
Pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono - Jusuf Kalla, entah akan bertahan satu masa jabatan lagi atau akan pecah kongsi, tentu harus mengambil putusan yang dampaknya bisa membuat kita semakin tertinggal, atau secara tepat, memanfaatkan momentum perubahan jalur Zheng He ke jalur Marco Polo ini. Salah satu cara, menghidupkan dan mewujudkan impian integrasi Jawa - Sumatra ke Asia. Artinya, Jawa harus disatukan dengan Sumatra dan kemudian Sumatra dengan Malaysia untuk turut dalam gerbong poros Singapura - Shanghai terus ke Hamburg, Paris, Amsterdam, dan lain sebagainya.
Sejak Presiden Soekarno sampai sekarang ini sudah enam presiden hanya ber-wacana, berencana, dan mendukung gagasan pembangunan infrastruktur vital strategis yang menghubungkan rantai yang memutus Jawa - Sumatra dari daratan Asia. Sinergi doktrin kontinental dan maritim abad 21 merupakan tantangan bagi duet Yudhoyono -Kalla, apakah akan bisa bertahan atau putus di tengah jalan.
Penulis adalah pengamat masalah nasional dan internasional