agaimana rasanya Anda tidak dapat berbicara dan kesulitan makan selama satu hari? Mungkin tidak akan terlalu sulit kalau Anda tidak dapat berbicara. Tetapi susah makan selama sebulan, tentunya perkara serius. Inilah yang dialami oleh Susilo Murni seorang korban kecelakaan motor akibat jalan rusak.
Setelah mengalami kecelakaan motor sebulan lalu di Jalan Gatot Soebroto, tepatnya sebelum kantor pajak, Susi terpaksa tidak mengonsumsi makanan seperti biasa. Ini dikarenakan perempuan muda berkulit putih tersebut harus merelakan mulutnya diikat selama kurang lebih tiga minggu, untuk menguatkan rahangnya kembali akibat kecelakaan motor itu.
"Setelah kecelakaan, saya harus menggunakan penguat rahang, dan tujuh buah kawat yang diikat pada mulut saya. Karena mulut saya diikat, konsekuensinya saya tidak dapat mengonsumsi makanan secara normal ataupun diperbolehkan bicara seperti biasa," kata Susi.
Susi yang masih berumur 26 tahun ini mengaku dirinya merasa tersiksa akibat kecelakaan tersebut. "Saya merasa amat tersiksa. Selain tidak dapat berbicara karena mulut saya diikat kawat, saya juga hanya bisa mengonsumsi susu sebagai asupan pengganti makanan," tutur perempuan berdarah Solo ini.
Kejadian tersebut membuat Susi kecewa dengan kinerja pemerintah daerah DKI Jakarta. "Saya kecewa dengan pemerintah kota. Jalan umum kan akses warga yang digunakan tiap hari. Kalau jalan tersebut rusak, jelas berbahaya terutama bagi pengendara motor. Apalagi rusaknya jalan lebih terasa bagi pengendara motor seperti saya," tandasnya.
Dia berharap, pemerintah DKI dapat membenahi kerusakan-kerusakan jalan tersebut. "Sudah makin banyak jalan rusak di Jakarta. Seharusnya pemerintah sadar dan membenahinya. Kalau jalan-jalan yang rusak ini tidak segera diperbaiki, akan makin banyak korban. Bukan hanya orang yang menderita luka ringan, kematian pun bisa menjemput siapa saja," papar anak bungsu dari tiga bersaudara itu.
Susi yang harus beristirahat selama tiga minggu di rumah mengatakan, tidak sedikit dirinya harus mengeluarkan dana untuk biaya pengobatan. "Untuk biaya pengobatan saja, saya sudah menghabiskan dana hingga Rp 2.500.000," papar perempuan yang pernah bekerja di majalah internal sebuah perusahaan maskapai penerbangan swasta di Jakarta ini.
Di samping itu, dia juga harus membayar biaya derek motornya dari tempat kejadian hingga Laka Lantas Pancoran Rp 200.000. Tidak berhenti di situ, Susi pun dituduh oleh petugas kepolisian telah mencelakakan dirinya sendiri.
Susi yang ditemui di rumahnya, Jalan Batu Ampar No 56 RT 05 RW 05 Kelurahan Batu Ampar Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, ini menambahkan, walaupun baru saja mengalami kecelakaan yang cukup parah, dirinya tidak akan kapok untuk menggunakan sepeda motor lagi.
"Saya tidak kapok. Hanya saja, saya akan lebih berhati-hati mengendarai motor, terutama mengingat kondisi jalanan di Jakarta yang sudah banyak rusak," kata dia yang setiap hari mempergunakan kendaraan roda dua itu. [MAR/N-5]