
anyak orang tidak mengenal nama Edi Suwarto. Dia adalah pemain anggar nasional yang cukup berprestasi di beberapa arena SEA Games di era 1990-an. Setelah tidak lagi berprestasi, tahun 2004, usai PON XVI Palembang, Edi dikontrak menjadi pelatih oleh Brunei Darussalam. Hanya satu tahun di Brunei, ia kemudian digaet oleh Malaysia untuk menjadi pelatih di sana. Dari wawancara dengannya di sela-sela Musyawarah Nasional Luar Biasa yang memilih Mayjen Tono Suratman menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (PB. Ikasi), terungkaplah bahwa Malaysia, yang 15 tahun silam tidak berarti di mata Indonesia, sekarang tengah membangun prestasi olahraganya di sejumlah cabang, mungkin, untuk menjadi "raja" di Asia. Cabang anggar pun demikian. Di tingkat pra kadet (12-13 tahun), dan kadet (14-15 tahun), Malaysia sudah meraih juara umum di antara negara-negara ASEAN. Ini adalah isyarat lampu kuning bagi negara-negara ASEAN, karena sekitar empat atau lima tahun mendatang, Malaysia, akan menjadi kampiun di cabang anggar, dan sejumlah cabang olahraga yang menjadi prioritas utama negara itu. Bagaimana Malaysia membangun kekuatan olahraganya, dan bagaimana perbandingannya dengan Indonesia? Berikut ini petikan wawancara dengan Edi Suwarto tentang Malaysia yang tengah membangun prestasi olahraganya itu.
Bisakah Anda jelaskan tentang populasi, minat, dan kekuatan anggar Malaysia saat ini?
Sebenarnya, baik minat maupun populasi atlet anggar Malaysia tidak terlalu besar. Dibandingkan dengan Indonesia, minat dan pupulasi mereka tidak seberapa. Ini bisa dilihat dari jumlah peserta yang ikut dalam suatu kejuaraan tingkat nasional. Biasanya yang ikut kejuaraan intern disini tidak sampai 200-an orang. Jadi prediksi saya, populasi anggar di Malaysia itu sekitar 500-700-an orang saja. Ini sudah termasuk dengan pemain anggar yang masih di pemula. Tetapi harus diakui, saat ini di beberapa negara (di Indonesia disebut provinsi), sudah mulai mengaktifkan pusat pembinaan sendiri seperti Negeri Sembilan, Terengganu, Kedah, Putera Jaya dan Pahang. Negeri Sembilan dan Terengganu malah mengontrak pelatih dari Indonesia yaitu Teten (ditempatkan di Nengeri Sembilan). Lalu pelatih lainnya, Badrul Alam ditempatkan di Terengganu.
Menurut saya di sektor senior untuk Asia Tenggara, Malaysia belum begitu kuat karena atlet nasionalnya berusia 23 tahun ke bawah. Usia golden age di anggar adalah sekitar 25-31 tahun. Kekuatan Malaysia saat ini ada pada tingkat Kadet (di bawah 17 tahun) dan Junior (di bawah 20 tahun) yang terutama berasal dari Sekolah Sukan Bandar Penawar (SSBP) tempat saya dan ayah saya melatih. Sekitar 60 persen dari Tim Anggar Malaysia pada SEA Games 2007 adalah atlet jebolan SSBP. Malahan empat di antaranya masih belajar di SSBP. Pada Kejuaraan Asia Tenggara 2006 untuk kategori Kadet dan Junior Malaysia cukup dominan dengan merebut juara umum. Kalau bisa diteruskan inilah yang akan menjadi kekuatan Malaysia di masa depan.
Bagaimana prestasi masa lalu Malaysia era 1990-an?
Prestasi masa lalu Malaysia belum sebanding dengan Indonesia yang kala itu, meraih juara umum SEA Games itu adalah hal yang biasa. Prestasi Malaysia paling baik adalah pada SEA Games 1989 ketika memenangkan Emas untuk Floret Putera Individual atas nama Lim Teng Piao dan perak Floret Putera Beregu. Sejak itu prestasi mereka terus merosot.
Apa saja yang mereka kembangkan untuk kemajuan anggar, dan cabang olahraga yang diprioritaskan oleh mereka?
Menurut saya, sistem Pembinaan Sukan (Olahraga) di Malaysia tertumpu pada Majlis Sukan Negara (MSN) yang berada di bawah Kementerian Belia dan Sukan (KBS). Kalau tidak salah ada 23 Persatuan Sukan yang dibina di bawah MSN. Kebanyakan dana untuk kegiatan Persatuan (induk organisasi olahraga) berasal dari KBS (anggar, atletik, hoki, dan lain lain). Kecuali beberapa cabang olahraga seperti sepakbola, bulutangkis, squash, dan lain lain yang mempunyai sumber dana lain diluar KBS.
Cabang-cabang olahraga di bawah KBS ini dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu A, B dan C. Anggar sendiri sebenarnya termasuk kategori C. Pengelompokan ini didasarkan pada prestasi dan keutamaan olahraga itu sendiri sesuai cabang Olimpiade, Commonwealth Games, Asian Games, dan SEA Games.
Untuk anggar, selain di Pelatnas pembinaan dilakukan di Sport School, Pusat Latihan Negeri (setara PPLP di Indonesia tapi dibawah KBS) dan klub-klub anggar atau pusat latihan di bawah federasi anggar.
Bagaimana perhatian negara terhadap olahraga pada umumnya, dan anggar khususnya?
Perhatian negara terhadap olahraga sangat baik, terbukti dengan memberikan subsidi kepada persatuan induk organisasi olahraga untuk melakukan kegiatan, pembelian peralatan dan tenaga ahli, pelatih dari luar. Bagi atlet, bentuk reward-nya memang tidak sebesar di Indonesia, tetapi segala yang diperlukan atlet untuk mencapai prestasi tinggi selalu berusaha disediakan seperti sarana, peralatan, pelatih dari luar negari, makanan, dokter olahraga dan lain lain. Malaysia juga sangat mengutamakan Iptek untuk meningkatkan prestasi atlet dalam olahraga. Mereka memiliki Institut Sukan Negara (ISN) yang dilengkapi perpustakaan olahraga, laboratorium biomekanik, fisioterapi, fasilitas fitness test, dokter olahraga dan lain- lain.
Menurut saya ada perbedaan nyata antara Indonesia dan Malaysia dalam memberikan dukungan kepada prestasi atlet. Di Indonesia reward berupa bonus kepada atlet peraih medali sangat tinggi tetapi dukungan fasilitas untuk atlet meningkatkan dan meraih prestasi tinggi, peralatan, kompetisi, tenaga ahli, iptek dan perpustakaan, tidak cukup. Malaysia justru sebaliknya, reward untuk atlet tidak jor-joran tetapi fasilitas untuk meningkatkan prestasi atlet sangat diperhatikan.
Dalam cabang anggar saja (Kategori C), Malaysia memiliki 3 pelatih asing untuk timnas (Korea, China & Ukraina) dan dua pelatih Indonesia untuk development program yang semuanya dikontrak untuk jangka panjang.
Ada berapa turnamen anggar internasional yang dilaksanakan di Malaysia? Bagaimana turnamen nasional mereka?
Kegiatan kompetisi anggar di Malaysia jauh lebih banyak dibandingkan dengan Indonesia. Dalam satu tahun saja ada beberapa turnamen tingkat nasional dan Open Tournament di Malaysia. Di antaranya, ada Junior Circuit I, II dan III tingkat nasional untuk kategori di bawah usia 15 tahun, 17 tahun dan 19 tahun. Ada Grand Prix Malaysia I, II dan Final untuk tingkat nasional. Ada Malaysia Open, Selangor Open tingkat internasional. Selain itu ada kejuaraan dan Open Turnamen lain seperti Danga Bay Games, Karnival Sukan Kombat, Sukan Negeri Sembilan dan lain lain. Ada Sukan Malaysia (SUKMA) yang diselenggarakan dua tahun sekali. Jadi kompetisi di dalam negerinya sendiri cukup banyak, dan itu menjadi kekuatan Malaysia untuk masa mendatang.
Kira-kira berapa tahun lagi, Malaysia akan "sapu bersih" medali atau minimal juara umum terus menerus seperti Indonesia di arena SEA Games?
Masih sulit memprediksi kapan Malaysia Juara Umum di SEA Games. Masalahnya adalah tergantung dari kesinambungan pembinaan dari bagian pembangunan, pelapis/second liner dan elit/nasional. Kalau momentum yang ada di pembangunan saat ini dapat diteruskan dan di-manage dengan baik di pelapis dan elit, maka prestasi tinggi atau juara umum tinggal menunggu waktu.
Bagaimana ceritanya Anda bisa berlatih di Malaysia?
Pertengahan 2002, Pak Sucipto (ayah saya) diminta untuk melatih pemain anggar di Brunei Darussalam. Itu semua atas persetujuan Pengurus Besar Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (PB Ikasi). Pada tahun berikutnya, 2003 saya menyusul ke Brunei Darussalam. Satu tahun setelah itu tepatnya pada Bulan Juli 2004, atas permintaan Pak E.C.W. Neloe (Ketum Umum PB Ikasi pada saat itu), kami memutuskan kontrak di Brunei karena pak Neloe meminta ayah untuk kembali memegang kendali timnas anggar untuk SEA Games 2005. Namun pada saat pengumuman di jajaran pelatih dan nomine atlet Pelatnas SEA Games 2005 sekitar bulan September 2004, nama ayah tidak termasuk dalam daftar pelatih. Sementara itu, saya dinominasikan sebagai atlet (padahal sejak 2002 saya lebih fokus untuk melatih). Sejujurnya kami sangat kecewa karena kami diminta pulang tetapi tidak diberdayakan untuk timnas anggar. Bagaimana mungkin seorang pelatih sekaliber ayah yang sejak 1990-2001 sebagai Pelatih Kepala Timnas Anggar dan hampir selalu membawa anggar Indonesia menjadi Juara Umum SEA Games dan meraih medali Asian Games, diminta kembali tetapi tidak dipakai? Suatu kebetulan pada saat itu Malaysia yang mengetahui kami tidak lagi melatih di Brunei, menawari kami untuk melatih di development program mereka. Maka setelah sebelumnya meminta pertimbangan beberapa kolega, kami memberitahu Ketum PB Ikasi melalui surat bahwa karena tidak termasuk dalam tim pelatih Indonesia ke SEA Games 2005, maka kami bermaksud menerima tawaran melatih di Malaysia. Pada tanggal 1 Oktober 2004 kami berangkat ke Malaysia.
Orangtua Anda, Pak Sucipto, juga berlatih di Malaysia. Siapa yang berperan hingga pelatih "ayah-anak" ini dikontrak oleh Brunei, dan kemudian sama-sama pindah ke Malaysia?
Itu ceritanya begini. Perwakilan Federasi Anggar Brunei pernah datang ke PB Ikasi dan meminta bantuan PB untuk membantu pengembangan anggar di Brunei. PB memutuskan untuk mengirim ayah, Rocky Poerawinata dan Pak Iswahyudi untuk membantu Brunei. Pada kelanjutannya Pak Iswahyudi tidak dapat melatih di Brunei, maka saya kemudian menggantikannya enam bulan kemudian. Pada saat kami berhenti dari Brunei, Malaysia sedang memerlukan pelatih untuk development program mereka dan mereka menawari kami melatih tim mudanya. Selanjutnya sudah saya ceritakan di atas.

Masih ingin melatih di Indonesia?
Sudah pasti. Saya masih ingin, dan sangat menginginkan melatih di Indonesia
Lebih enak berlatih di Indonesia, atau dikontrak melatih di luar negeri (ASEAN)?
Kelebihan melatih di negara yang memiliki sistem pembinaan olahraga yang baik adalah profesi pelatih dihargai secara profesional sehingga olahraga dapat menjadi sandaran hidup. Fasilitas latihan juga sangat penting untuk menunjang kerja pelatih. Di Indonesia sering kali pelatih harus memikirkan hal-hal lain di luar masalah teknis yang menjadi kendala atlet dalam berlatih.
Dimana Anda melatih, di KL, atau kota lain?
Di Bandar Penawar Sport School (SSBP), Kota Tinggi, Johor.
Anda melatih tim nasional Malaysia, atau pemain junior?
Saya melatih di tingkat remaja usia 13-19 tahun. Ada yang mulai dari nol, ada juga yang sudah punya dasar anggar.
Dalam daftar anggota di PB Ikasi, Anda tercatat sebagai ketua pengprov Ikasi Jateng. Bagaimana Anda mengelola pembinaan prestasi dalam kondisi Anda berada di Malaysia?
Begini, saya dipercaya menjadi Ketua Pengprov Ikasi Jawa Tengah periode 2007-2011. Awalnya saya tidak bersedia dicalonkan karena saya pikir saya bukan orang yang tepat kerena pekerjaan dan domisili saya saat ini. Saya juga bukanlah orang yang punya kedudukan dan uang. Waktu Musprov semakin dekat, rekan-rekan masih mendesak dan saya pikir asal kami maju bersama sebagai satu tim, kesuksesan pasti kami raih, maka saya menerima tanggung jawab ini.
Saya beruntung bisa bekerja bersama dengan orang-orang terbaik Jawa Tengah dalam jajaran Pengprov Ikasi Jateng. Jarak mungkin jadi kendala, tetapi di era globalisasi, komunikasi kami terbantu dengan telepon, chating, sms dan e-mail. Pendelegasian wewenang, komunikasi, keterbukaan, kepercayaan dan keikhlasan merupakan kunci dalam bekerja. Mudah-mudahan kami bisa memberikan yang terbaik bagi Jateng dan Indonesia. Saat ini kami tengah berkonsentrasi untuk mempersiapkan Tim Anggar Jateng ke PON XVII dengan melakukan pemusatan latihan di SSBP, Malaysia. Nah, itu untungnya saya melatih di Malaysia. Bisa menggunakan tempat ini untuk Pelatda PON XVII Jateng.
Bagaimana pandangan orang Malaysia terhadap Anda, apakah sama seperti memandang TKI yang ada di Malaysia?
Sejauh ini saya tidak pernah mendapat pandangan atau perlakuan tidak baik dari aparat atau penduduk Malaysia. Mungkin faktor saya bekerja pada pemerintah Malaysia memberikan keuntungan bagi saya.
Pewawancara: Mike Wangge