
ormula Satu (F-1) musim 2008 yang melombakan sebanyak 18 seri Grand Prix (GP), dengan tiga sirkuit jalan raya (Monaco, Valencia, Singapura) yang salah satunya menggelar balapan malam hari (Singapura), tampaknya masih dikuasai oleh dua tim papan atas, Ferrari dan McLaren. Indikator kekuatan dua tim tersebut dapat dilihat dari hasil uji coba resmi hingga awal Maret lalu.
Ferrari tampil perkasa dengan mengandalkan pacuan terbaru F2008 selama uji coba musim dingin. Mereka merasa nyaman dengan kecepatan 0,4 detik lebih kencang dari kendaraan lainnya. Namun di awal Maret, McLaren mulai unjuk gigi dengan tampil sebagai yang tercepat pada uji coba di Sirkuit Catalunya, Barcelona, Spanyol.
Tetapi memang hasil ujicoba belum bisa menjadi patokan apakah Ferrari sudah berada di atas McLaren atau sebaliknya. Karena selama uji coba, setiap tim menjalankan program pengembangan kendaraan yang berbeda. Bisa saja ada kendaraan yang tampil cepat karena bahan bakar mereka yang tak penuh, atau ada kendaraan yang lebih lambat karena tengah menguji setting-an kendaraan yang berbeda.
Yang menarik adalah desain dari kendaraan Ferrari F2008 dengan McLaren MP4-23 saling bertolak belakang. Semua itu didasari dari hasil lomba musim lalu. Meski tampil sebagai juara konstruktor dan mampu menempatkan pembalapnya Kimi Raikkonen menjadi juara dunia 2007 pacuan musim lalu tim Scuderia ini, F2007 terkendala tampil maksimal di sirkuit dengan lintasan sempit, seperti Monaco dan Kanada.
Dengan semakin banyaknya balapan di sirkuit jalan raya yang rata-rata memiliki lintasan dan tikungan sempit, Ferrari memendekkan putaran roda sumbunya (wheelbase). Musim lalu, F2007 merupakan kendaraan terpanjang ukurannya, karena memang wheelbase dirancang Nick Tombiazis dan Aldo Costa dengan ukuran panjang supaya stabil. Namun itu membuat pacuan tersebut tak mampu tampil lincah di tikungan cepat dan sempit. Akibatnya, perolehan waktu yang mereka raih di sirkuit-sirkuit sejenis itu, menjadi lebih lambat dibandingkan McLaren.
Sebaliknya McLaren yang ukuran wheelbase pada pacuan musim lalu MP4-22 pendek, dipanjangkan pada kendaraan musim ini (MP4-23). Tujuannya supaya kendaraan lebih stabil saat menikung dan mendapatkan down force yang baik, terutama setelah regulasi 2008 melarang pemakaian kontrol traksi. MP4-23 mampu tampil kencang di lintasan lebar seperti Catalunya. Padahal dalam balapan musim lalu, kendaraan F2007 milik tim kuda jingkrak mampu meraih waktu terbaik di sana.
Dengan analisis itu, sepertinya kita akan kembali melihat dominasi Ferrari pada sejumlah sirkuit dengan karakter berbeda dan keunggulan McLaren pada sirkuit-sirkuit lainnya. Situasi seperti itu juga terjadi di musim lomba 2007.
Setelah kedua tim, menarik juga untuk disimak, siapa tim lapis kedua terbaik. Musim lalu, BMW Sauber tampil sebagai tim lapis kedua, dengan menjadi runner-up di klasemen konstruktor , setelah McLaren dihapus poinnya karena skandal pencurian data Ferrari. Banyak yang menganggap tim F-1 Bavaria ini masih akan kembali menguntit di belakang Ferrari dan McLaren. Hanya saja dalam sejumlah uji coba, terlihat kalau pacuan F1.08 belum mampu meraih kecepatan maksimal.
Sama seperti MP4-23, F1.08 memiliki wheelbase yang panjang, demi mencapai kestabilan kendaraan. Tetapi kecepatan mereka masih kalah dengan mobil pendahulunya. Revolusi besar dari pengembangan kendaraan yang dilakukan tim ini belum membawa hasil. Namun, pemimpin tim Mario Theissen, tampaknya percaya diri dengan meyakini kendaraan ini bakal mampu juara GP.
Kemudian ada tim Renault yang terus mengejar BMW. Tim ini diyakini mampu tampil kompetitif dengan kembalinya juara dunia 2005 dan 2006 Fernando Alonso. Peran pembalap Spanyol itu dalam pengembangan kendaraan sangat penting. Dia mampu mengoleksi data yang dibutuhkan tim untuk men-setting kendaraan sesuai dengan karakter sirkuit.
Hanya saja Alonso masih pesimistis, kendaraan terbaru tim Renault R28 mampu mengimbangi kecepatan Ferrari, McLaren dan BMW. Hasil tes musim dingin memperlihatkan data, kalau kecepatan kendaraan Renault masih kalah dibandingkan tim-tim tersebut, dan bahkan dengan tim Williams. Alonso beranggapan tak mudah membalikkan keadaan dengan cepat mengejar ketinggalan, setelah musim lalu Renault hanya mampu menempati posisi ketiga di klasemen konstruktor.
Musim lalu kegagalan kendaraan R27 tampil optimal karena mereka membangun kendaraan didasari pada karakter ban Michelin. Padahal sejak musim balap 2007, ban yang dipakai di F-11 hanyalah Bridgestone. Untuk itu, pada musim ini mereka mencoba memahami karakter ban dan disesuaikan dengan kendaraannya.
Untuk itu, Renault mengubah susunan suspensi depan, dari dua tulang penyangga (wishbone) yang biasa dikenal dengan desain v-keel menjadi tanpa penyangga zero-keel. Di bagian depan, mereka membangun sayap jembatan mirip seperti kendaraan McLaren yang terletak di atas hidung kendaraan. "Kami punya pengalaman menyiapkan kendaraan pemenang seperti beberapa musim yang lalu. Ini yang perlu kami ulangi saat ini. Tetapi itu semua butuh waktu," demikian penjelasan Alonso.
Setelah Renault ada tim Williams, Toyota, Red Bull, dan Honda yang musim ini melakukan persiapan lebih baik untuk menjadi tim lapis kedua. Tiga tim di belakangnya adalah Toro Rosso, Force India dan Super Aguri. Di antara ketiga tim tersebut, Toro Rosso dan Force India bisa tampil mengejutkan. Toro Rosso didukung pembalap muda yang hebat, Sebastien Vettel. Sementara Force India yang dihuni pembalap veteran Giancarlo Fisichella dan Adrian Sutil memiliki dukungan dana besar dari miliuner India, Vijay Mallya untuk terus melakukan pengembangan. Terakhir Super Aguri meski memiliki pembalap tangguh, seperti Takuma Sato dan Anthony Davidson serta kembali mendapat suntikan dana dari perusahaan elektronik besar Inggris, Magma Group dipastikan mereka masih mengalami kendala. Penyebabnya adalah mereka nyaris tak pernah melakukan uji coba di lintasan seperti tim-tim peserta yang lain, sehingga persiapannya boleh dibilang minim.
Juara Dunia
Setelah melihat kekuatan tim, yang menarik untuk disimak adalah siapa calon juara dunia 2008. Tampaknya persaingan tak akan menjauh dari para pembalap tim Ferrari, Kimi Raikkonen dan Felipe Massa, dengan pembalap McLaren, Lewis Hamilton. Sementara pembalap kedua McLaren, Heikki Kovalainen tampaknya masih membutuhkan waktu untuk bisa seirama dengan kinerja tim.
Musim lalu persaingan juara dunia meruncing pada dua pembalap, Raikkonen dan Hamilton. Pertarungan mereka berlangsung hingga seri terakhir di Sao Paolo, Brasil. Hamilton dan Raikkonen keduanya merupakan pembalap yang lahir dengan talenta hebat.
Hamilton yang asal Inggris memiliki kemampuan cepat beradaptasi dengan kendaraan dan mampu membaca karakter lintasan sirkuit yang menguntungkan dirinya dalam meraih waktu terbaik.
Kelemahan Hamilton adalah saat balapan hujan, dan lintasan licin. Dia dikenal kurang bagus dalam pemilihan ban yang sesuai di lintasan licin. Sejumlah bukti memperlihatkan Hamilton tak mampu tampil maksimal dalam balapan basah. Sementara Raikkonen kemampuannya bakal mengkilap jika didukung dengan kendaraan yang baik. Setting-an kendaraan yang tidak tepat, bisa membuat pembalap Finlandia itu gagal tampil kompetitif. [SP/Surya Lesmana]