SUARA PEMBARUAN DAILY

Petualangan Bocah Melawan Peri Jahat

Foto-foto: Paramount Pictures

Film: The Spiderwick Chronicles

Sutradara: Mark Waters

Pemain: Freddie Highmore, Sarah Bolger, Mary-Louise Parker, David Strathairn, dan Joan Plowright.

Skenario: Karey Kirkpatrick, David Berenbaum, dan John Sayles

Genre: Fiksi/Petualangan

Produksi: Paramount Pictures

Kisah petualangan dalam The Spiderwick Chronicles memang ditujukan untuk penonton anak-anak. Namun, di Amerika Serikat (AS), film ini masuk dalam klasifikasi Parents Guide (PG) 13, karena mengandung aksi kekerasan dari makhluk-makhluk unik.

Bakat akting Freddie Highmore kembali terlihat dalam film ini. Bintang berusia 16 tahun ini selalu gemilang saat menampilkan karakter anak-anak, seperti dalam Finding Neverland, August Rush, Arthur and The Minimoys, atau Charlie and The Chocolate Factory. Sekilas, Highmore mengingatkan penonton pada Macaulay Culkin yang menggemaskan dalam Home Alone.

Seperti film-film sebelumnya, dalam The Spiderwick Chronicles, Highmore kembali memerankan karakter bocah petualang. Dia memerankan tokoh Jared Grace dan Simon Grace. Bocah yang bertualang di dunia peri. Ini semakin menguatkan citra Highmore sebagai pemeran kisah-kisah dongeng.

Di film ini, Highmore boleh mendapat acungan jempol. Dia berhasil mengangkat karakter yang dimainkannya dengan baik, meski harus bermain untuk dua karakter sekaligus.

Kisah The Spiderwick Chronicles sebenarnya diangkat dari kisah serial fantasi karya Tony DiTerlizzi dan Holly Black. Kisah ini adalah kisah yang menarik di Inggris. Bahkan serial fantasinya dibuat dalam beberapa bagian, seperti Beyond The Spiderwick Chronicles dan Arthur Spiderwick's Notebook of Fantastical Observations.

Kisah itu tetap menarik ketika diangkat ke layar lebar oleh sutradara Mark Waters. Tidak hanya untuk anak-anak, untuk orang dewasa pun film ini tetap menarik.

Penulis skenario Karey Kirkpatrick, David Berenbaum dan John Sayles merangkum kisah dalam serial untuk diangkat ke layar lebar. Film ini menceritakan asal-muasal petualangan Jared di dunia peri.

Alkisah Jared bersama keluarganya menempati rumah baru peninggalan bibi mereka Lucinda. Rumah itu berada di tengah hutan yang asri. Saat mereka baru pindah, sering terjadi kejanggalan. Seperti barang-barang yang hilang, atau rusak. Ibu Jared, Helen Grace (Mary Louise Parker) dan kakak perempuannya Mallory (Sarah Bolger) selalu menyalahkan Jared atas peristiwa itu.

Jared berubah menjadi anak pemberontak sejak berpisah dengan ayahnya yang memilih tinggal di New York. Jared kerap melakukan perbuatan yang mengganggu anggota keluarga.

Jared kesal dituduh melakukan perbuatan yang tidak dilakukannya. Dia bersama saudara kembarnya, Simon, berusaha mencari penyebab sejumlah peristiwa aneh. Hingga suatu ketika Jared menemukan buku petunjuk dunia peri yang tersimpan di dalam kotak.

Dunia Peri

Buku itu menceritakan hal-hal mengenai dunia peri yang ada di sekitar rumah. Ternyata membaca buku itu adalah sebuah kesalahan besar. Bagi kalangan makhluk yang tidak terlihat, buku itu adalah rahasia yang tidak boleh diketahui oleh siapa pun, termasuk sebagian anggota peri sekalipun.

Akibatnya, sejumlah makhluk aneh mendatangi rumah Jared. Mereka berusaha mengambil buku petunjuk yang ditulis kakek buyut Jared, Arthur Spiderwick.

Untungnya Jared ditolong Thimbletack (Martin Short), peri penunggu rumah yang suka madu. Dia berhasil ditolong Hogsqueal (Seth Rogen), makhluk aneh yang bisa membuat Jared melihat dunia peri tanpa alat bantu.

Petualangan Jared akhirnya membawa seluruh anggota keluarga ke dalam petualangan dunia peri. Tugas mereka adalah menyelamatkan rumah dari serangan Goblin, peri jahat yang mengincar buku petunjuk.

Menilik garis cerita yang disajikan dalam The Spiderwick Chronicles, sebenarnya tidak berbeda jauh dengan dongeng-dongeng dalam Harry Potter, The Golden Compass, atau The Chronicles of Narnia. Bahkan, makhluk-makhluk ajaib yang dimunculkan memiliki kesamaan jenis dengan dongeng-dongeng sebelumnya, seperti Troll, Goblin, Unicorn, Elf, Dragon dan sebagainya. Hanya saja bentuk makhluk-makhluk itu berbeda dengan film-film dongeng sebelumnya.

"Film ini jadi impian saya. Sejak dulu saya ingin makhluk-makhluk itu bisa diangkat ke layar lebar. Para pembaca dapat menyaksikan bagaimana makhluk-makhluk itu bergerak dan saling berinteraksi," ujar DiTerizzi yang menciptakan karakter dalam novelnya.

DiTerizzi mungkin harus berterima kasih pada Pablo Helman yang menjadi supervisor visual effect, dan Phil Tippet yang bertanggung jawab mendesain makhluk-makhluk ajaib itu. Kerja sama mereka berhasil menghidupkan makhluk-makhluk rekaan.

DiTerizzi pun rasanya wajib memberikan rasa terima kasihnya kepada Caleb Deschanel, director of photography. Berkat kerja keras Deschanel, khayalan yang berada di dalam serial fantasinya berhasil diangkat ke dalam gambar yang menarik. Gambar-gambar Deschanel terasa menggugah rasa petualangan.

Tapi yang paling penting, rasa terima kasih itu juga harus ditujukan kepada sutradara Mark Waters dan para pemain film. Seluruh pemain The Spiderwick Chronicles berhasil menghidupkan karakternya masing-masing. Tidak hanya Highmore, pemain lain seperti Nick Nolte, Martin Short, dan Seth Rogen pun berhasil menghidupkan karakter yang mereka mainkan meski tampil sebagai pengisi suara.

Totalitas kerja seluruh kru film itulah yang membuat The Spiderwick Chronicles tidak kalah dengan The Golden Compass, Harry Potter, atau The Chronicles of Narnia. Sayangnya, di AS film ini dikategorikan sebagai film yang tidak bisa langsung ditonton oleh anak-anak. Harus ada orangtua atau orang yang lebih dewasa menemani mereka. [SP/Kurniadi]


Last modified: 14/3/08