
Didit Majalolo
Sejumlah pengunjung melihat pameran fotografi "Counter Photography" karya 11 fotografer Jepang di The Japan Foundation Gedung Summitmas I, Jakarta, Senin (3/3).
otografi merupakan media yang melukiskan dunia nyata secara detail. Namun jauh melebihi hal tersebut, dunia fotografi juga mampu mengungkap makna tertentu dari sebuah objek yang direkam. Karakteristik seperti inilah yang ingin diungkapkan oleh para fotografer Jepang dalam pameran foto kontemporer yang bertajuk Counter Photography-Japan's Artist Today. Pameran ini berlangsung di Japan Foundation Jakarta, pada 1-16 Maret 2008.
Mengungkap kenyataan di balik benda-benda terlihat. Melalui media fotografi yang indvidualis dan konkret, wawasan nilai alternatif dari sebuah objek dapat terungkap secara lebih baik. Pameran foto kali ini mencoba memperkenalkan pendekatan semacam itu untuk memahami realitas, dengan menampilkan karya-karya fotografi seniman kontemporer Jepang.
Pameran yang terdiri dari 60 karya seni foto dan beberapa poster kontemporer dari 11 seniman kontemporer Jepang tersebut di bagi menjadi dua bagian yag dibedakan berdasar pilihan subjek foto dan pendekatan yang dilakukan.
Pada bagian pertama yang berjudul To Distill: Another Appearance (Menjernihkan: Tampilan yang Lain), ditampilkan karya-karya yang memperlihatkan dimensi lain dari subjek foto yang terpisah dari aspek-aspek konvensionalnya. Kurator pameran, Yuri Mitsuda, menangkap adanya kesan para seniman yang berusaha menarik keluar "jiwa" dari subjek foto yang terdiri dari benda-benda seperti tumbuhan ataupun batu.
Bagian kedua yang berjudul To Reverse: Another Relationship (Membalikkan: Hubungan yang Berbeda), sang seniman menggunakan pendekatan yang lebih sosial. Karya-karya yang dipamerkan sebagian besar memperlihatkan bagaimana hubungan mereka dengan diri mereka sendiri, dengan orang lain, lalu kemudian dengan negara mereka. Menurut Mitsuda, pada bagian ini para fotografer menangkap gambaran hubungan antar manusia melalui perspektif yang baru.
"Jiwa" yang menjadi subjek penghubung antar karya dan fotografer ini merupakan sebuah sikap yang merefleksikan pendekatan masyarakat Jepang secara tradisional pada kehidupan. Bagi mereka, seluruh objek diyakini memiliki unsur "jiwa" masing-masing.
Pameran kali ini diikuti oleh berbagai fotografer dengan latar belakang berbeda. Salah satunya adalah Eikoh Hosoe, fotografer dari generasi pascaperang dunia II dan salah satu pionir fotografer Jepang. Ia cenderung menempatkan dirinya tidak sebagai seorang fotografer, namun lebih sebagai seniman.
Ia menggambarkan seluk beluk tubuh pria dan wanita secara abstrak sehingga membentuk garis-garis gambar yang merupakan bentuk-bentuk inti kehidupan. Aliran modernisme menggambarkan foto telanjang sebagai sebuah objek yang terpotong-potong dan mudah untuk dimanipulasi. Akan tetapi Hosoe tidak mengambil gambar tubuh dari sudut yang dominan dan manipulatif. Karya-karyanya mencoba menggambarkan penemuan hubungan yang kaya dan setara seperti dialog, pertentangan dan pergumulan antara gender maskulin dan feminin.
Fotografer, Kazuo Katase yang tinggal di Jerman selama hampir 30 tahun menangkap sisi yang berbeda dari sebuah "jiwa". Saat pulang ke Jepang setelah lama merantau di negeri orang, ia merasa sebuah keterasingan tersendiri di tanah kelahirannya. Katase berusaha menelusuri sumber perasaannya tersebut dengan cara menelusuri masa lalunya.
Subjek karyanya adalah gerbang kuil Ise, kuil utama Shinto di Jepang, Gunung Fuji yang dikeramatkan, dan sebuah mangkok upacara minum teh, sado, yang menyimbolkan jiwa Zen.
Ia menampilkan karyanya dengan mencetak sebuah foto secara terbalik dan memajang ketiga karya tersebut secara bersama-sama. Kombinasi sistem kekaisaran, animisme, dan budhisme tampak dalam karya tersebut. subjek-subjek tersebut sering terlupakan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Melalui foto ini, Katase memperkaya pemahaman pengunjung terhadap subjek-subjek tersebut dan seberapa dalam makna keberadaan subjek tersebut dalam masyarakat Jepang.
Pameran foto kali ini merupakan bagian dari perayaan 50 tahun kerja sama antar Jepang dan Indonesia. pameran ini bertujuan untuk memperkenalkan kebudayaan Jepang lebih jauh, khususnya di bidang seni fotografi dan cara pandang masyarakat Japang terhadap alam dan objek di sekitarnya. Pameran seperti ini merupakan salah satu komitmen Japan Foundation untuk memperkenalkan kebudayaan Jepang di seluruh dunia. [CAT/N-5]