
SP/Alex Suban
Sebelum mengabadikan gambar, pemotret harus mempersiapkan peralatan, untuk meminimalkan kegagalan dalam memotret.
alam suatu pemotretan, sebenarnya peluang menghasilkan gambar yang baik lebih besar dibanding yang kurang baik, karena kegagalan dalam pemotretan dapat diantisipasi antara lain melalui persiapan yang baik dan pemotretan yang tepat. Masalahnya adalah, walaupun segala perlengkapan memotret sudah dipersiapkan dengan baik dan diyakini saat pemotretan dikerjakan dengan tepat - menurut pemotretnya -- adakalanya masih saja terjadi kegagalan dalam pemotretan.
Hal ini seperti dialami Toni, seorang pengemar fotografi yang penulis temui di studio foto, yang sedang mengeluhkan hasil fotonya yang dianggap gagal.
"Mas, kenapa ya hasil fotonya banyak yang jelek. Coba lihat, gambar ini banyak yang gelap dan tidak jelas, padahal ketika saya mengintip subjek di lubang bidik kamera, lalu menekan tombol pelepas rana, saya yakin sekali gambarnya akan baik. Tapi, nyatanya seperti ini?" kata Toni menanyakan gambar hasil pemotretan kepada si petugas studio foto.
Petugas yang juga fotografer di studio foto itupun menjelaskan. "Memang, adakalanya ketika kita membidikan kamera ke subjek pemotretan, kita yakin sekali hasilnya akan baik dan menarik, karena didasari pada penglihatan saat mengintip subjek pada lubang bidik kamera," kata si fotografer.
Namun hitungannya tidak seperti matematik yang serba pasti, karena banyak faktor yang tanpa disadari bisa menggagalkan sebuah pemotretan. "Saya yakin, saat Anda memotret lampu blitz tidak bekerja dengan baik. Mungkin lupa dinyalakan atau menggunakan batteray lama pada lampu blitz, sehingga pencahayaannya sangat minim. Kalau ini terjadi, sebaik apapun komposisi subjek yang akan diambil saat akan memotret, hasilnya dapat dipastikan jelek, atau gagal, karena gambarnya kabur seperti ini. Lain kali, kalau mau memotret lihat dulu apakah semua perlengkapan kamera siap dioperasionalkan atau belum. Dalam kasus ini, kalau saat memotret lampu blitz menyala atau menggunakan batteray baru, pasti hasilnya akan cemerlang," terangnya.
Mendengar penjelasan si fotografer, Toni pun mengakui bahwa saat memotret ia menggunakan baterai lama pada lampu blitz, karena lupa mengganti dengan baterai baru. Walaupun sepele, ternyata hasilnya sangat berpengaruh.
Gambar yang jelek atau tidak seperti yang diharapkan bisa dikatakan suatu kegagalan dalam pemotretan. Gagal menghasilkan gambar yang baik sebenarnya merupakan hal yang wajar, namun harus terus diperbaiki - apalagi jika gambar yang dihasilkan lebih banyak tidak sempurna dibanding dengan gambar yang baik-sehingga kualitas hasil pemotretan bisa terus ditingkatkan.
Pentingnya Persiapan
Salah satu cara untuk meminimalisir kegagalan dalam pemotretan - bahkan untuk pekerjaan apapun-adalah melalui persiapan yang baik. Mengingat pentingnya persiapan ini, tidak sedikit fotografer profesional yang mempunyai acuan kerja yang jelas dan patut dicontoh, yakni dengan moto : "Persiapan Memotret yang baik, berarti 50 persen pekerjaan sudah berhasil dilaksanakan".
Untuk mencapai keberhasilan dalam pemotretan dan menimalisir kegagalan, setidaknya ada tiga faktor yang harus dipersiapkan dan diperhatikan dalam setiap pemotretan. Faktor pertama, menyiapkan perlengkapan memotret.
Kedua, persiapan diri si fotografer. Seorang fotografer yang baik, apalagi profesional, tidak hanya pintar dalam mengatur waktu dan membagi-bagi pekerjaan pemotretan sesuai dengan order yang diterimanya, tetapi juga harus pandai menjaga diri agar selalu sehat dan bugar.
Ketiga, subjek pemotretan. Walaupun peralatan kamera sudah siap digunakan, dan pemotret sudah siap melakukan pemotretan, namun tanpa adanya dukungan dan kerjasama yang baik dengan subjek yang akan dipotret, maka hasilnya bisa saja gagal.
Misalnya memotret sekumpulan orang dalam satu frame. Menurut pandangan si fotografer bahwa komposisi gambar yang baik adalah orang yang badannya lebih pendek mengambil posisi didepan, sehingga tidak tertutup orang yang lebih tinggi. Namun karena si subjek tidak mau diatur, maka hasilnya akan benar-benar jelek.
Kalau ini terjadi - dan berarti kegagalan dalam pemotretan - biasanya subjek yang dipotret tidak mau disalahkan, dan yang salahkan adalah pemotretnya.
Untuk mengatasi subjek pemotretan yang tidak kooperatif dan sulit diatur, salah satu kiat yang sering diberikan fotografer profesional adalah melakukan pendekatan dengan mencoba mencairkan hubungan terlebih dahulu. Misalnya, mengajak ngobrol tentang hal-hal yang ringan, dan setelah suasana agak mencair dan semakin akrab, baru pemotretan dilakukan. Di dalam setiap pemotretan, ketiga faktor di atas sangat penting dan berkaitan, untuk menghindari kegagalan dalam setiap pemotretan. [Eddy Suntoro]