
Judul Buku: Kapal Selam Indonesia
Penulis: Indroyono Soesilo dan Budiman
Terbit: Februari 2008
Penerbit: PT Sarana Komunikasi Utama
Tebal: 240 + xvi halaman
eandalan kapal selam dengan torpedonya, sebagai senjata pamungkas taktis dan strategis di laut sudah melegenda. Di awal Perang Dunia (PD) II misalnya, kapal-kapal selam Jerman, U-Boat, berhasil mencegat dan menenggelamkan konvoi-konvoi armada sekutu yang mengangkut perbekalan perang dari Benua Amerika ke Benua Eropa.
Bukan hanya itu. Ternyata, selain serbuan udara yang mendadak, Angkatan Laut (AL) Jepang juga mengerahkan kapal-kapal selam mini saat menyerang Pangkalan AL AS di Pearl Harbour, Hawaii, 7 Desember 1941. Serangan itu menghancurleburkan Armada Pasifik AS dan menggiring negeri adidaya ini masuk ke dalam kancah PD II.
Indonesia merupakan segelintir negara di dunia yang sejak awal, telah mengoperasikan kapal selam untuk operasi tempur dan operasi pertahanan di laut. Uji coba kapal selam buatan sendiri, bahkan, telah berlangsung pada 1947 di Sungai Bayem, Yogyakarta. Walaupun hasil karya Ginagan, anggota tentara di Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) itu lebih pada pengobar semangat daripada taktis operasional.
Baru pada tahun 1959, ALRI mulai diperkuat dengan kapal-kapal selam Whiskey-Class, buatan Uni Sovyet. Akumulasi kekuatan pemukul taktis dan strategis di laut ini mencapai 12 kapal selam di tahun 1962. Inilah kekuatan yang mengagumkan sekaligus menakutkan dan terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Betapa tidak, kehadiran kapal-kapal selam RI, saat Operasi Trikora, sukses mengepung Irian Barat, mengadakan operasi pengintaian dan menyusupkan pasukan komando ke daratan Irian. Sukses ini membuat Belanda mengurungkan niat berperang terbuka dengan Indonesia. Penjajah itu akhirnya menyerahkan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Tidak Berani Sembarangan
Berkat kekuatan besar itu pula, negara-negara adidaya tidak berani sembarangan melewati perairan Nusantara tanpa izin. Betapa kapal induk Inggris, HMS Victorious, harus siaga penuh saat melewati Selat Lombok pada 1964, namun tetap saja bisa dicegat oleh kapal selam Indonesia. Mereka tak berani sembarangan karena dibayang-bayangi terus sampai meninggalkan perairan Nusantara.
Di lain kesempatan, kapal selam Indonesia, dengan mudah, bisa menyusup ke perairan pantai utara Australia. Lalu, berikutnya bisa masuk ke pelabuhan Singapura. Kapal-kapal selam itu bisa leluasa berkeliaran di perairan tersebut tanpa terdeteksi.
Tidak hanya di dunia militer, ternyata Indonesia juga merupakan sebagian kecil bangsa di dunia yang telah melaksanakan riset dasar laut dan riset laut dalam (deep sea) dengan menggunakan kapal selam riset Jepang, Shinkai 6500. Enam ilmuwan Indonesia dan mitranya ilmuwan Jepang menyelam pada kedalaman lebih dari 2.000 meter di Palung Jawa pada Oktober 2002.
Para ilmuwan itu mencari jawaban ilmiah terhadap Patahan Sumatera, tentang endapan gas methana di dasar laut, serta keberadaan biota laut dalam yang hidup di wilayah tanpa cahaya sinar matahari itu. Merekalah ilmuwan pionir yang berhasil mendeteksi gempa Jawa Selatan (2006), dan pascatsunami Aceh (2004).
Selain menampilkan sejarah kapal selam di dunia dan di Indonesia, serta perkembangan teknologinya, Buku Kapal Selam Indonesia ini berupaya mengungkap perjalanan para pelaku sejarah dan awak kapal selam tadi, dari masa ke masa. The Men Behind The Gun. Mereka adalah orang-orang pilihan, cerdas, bermental baja, diseleksi secara ketat, harus bisa bekerja mandiri, dan berkepribadian unik. Memang, sesuai dengan sifat senjata pamungkas ini, yang tertutup dan penuh rahasia. Juga sesuai dengan sesanti Korps Hiu Kencana, yaitu "Tabah Sampai Akhir".
Dua kali penulis buku ini menggelar pertemuan dengan para mantan awak kapal selam Indonesia ini, baik dari kelompok militer maupun ilmuwan dan insinyur. Pertemuan itu bertujuan untuk menggali pengalaman-pengalaman mereka selama mengabdi di Korps Kapal Selam TNI-AL.
Senjata Pamungkas
Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan dalam pengantarnya mengatakan, kapal selam merupakan senjata pamungkas berteknologi tinggi dan mutakhir yang diawaki oleh manusia-manusia bermental baja, berdisiplin, dan dengan tingkat kecerdasan tinggi. "Buku ini dapat membuka wawasan pembacanya terhadap kehadiran suatu sistem senjata bawah laut milik Indonesia yang menggetarkan," tambahnya.
Senada dengan hal itu, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Sumardjono dalam sambutannya mengatakan, kapal selam merupakan senjata yang memiliki daya tangkal tinggi, karena kekhasannya yang sulit dideteksi dan dihancurkan serta mampu membawa berbagai jenis senjata, seperti torpedo, ranjau, maupun peluru kendali. Bagi Indonesia, mengoperasikan kapal selam akan memiliki nilai strategik, karena karakter perairan Indonesia yang sangat khas. [R-8]