SUARA PEMBARUAN DAILY

Sajak Heru Kurniawan

Ziarah

Dari pintu yang selalu terbuka, kau masuk dengan

langkah kesakitan menginjak daun-daun

yang berparas kecoklatan

dan bunga-bunga pun muram terbakar berguguran.

"Aku rindu matamu yang melumut pada dinding,

licin karena tangismu semalam.

Apakah kau masih menunggu? Aku datang

untuk memungut

rambutmu yang terurai di setiap sudut."

Kau berhenti melangkah. Terpaku pada basah tanah

mencoba memaknai desah nafasku yang berhembus

dari celah kerikil dan rongga bumi.

"Dapatkah kau menikmati rumah yang telah kau pesan

sejak dalam kandungan. Aku ingin mengunjungimu;

menanyakan

dunia yang selalu kau impikan."

Kau berhenti memasang tubuhmu pada sunyi

seperti tahu aku tak akan pernah kembali

karena rumahmu dan rumahku terputus oleh sungai

yang airnya tak pernah berhenti menuju mati.

Yogyakarta, November 2007

*

Mimpi Bunga

kehidupan bunga berakhir pada daun

tanggal oleh usia yang memamah rangkanya

musim gugur mengantarnya jatuh

membentuk parade cahaya pada bulan purnama

di tengah hijau daun yang setengah memar

mimpi bunga ingin kembali mekar

tapi tangkai terlanjur coklat dan mulai terbakar

Yogyakarta, Januari 2008

Kamar

di kamar ini cinta yang kupertaruhkan

tercermin dari jendela

yang keluar menghadap lautan

tak ada gema suara:

angin pantai berdiri enggan mengetuk pintu

matahari memalingkan sinar

dan desah napas nelayan hanyut ditelan aroma lapuk

kelupasan sisik ikan yang berserak

kamar ini adalah waktu purba

di mana nenek moyang memutar detik jam

bergerak mengikuti perih

yang tergambar pada derita foto usangku

menyaksikan rambut leluhurku

terurai di sudut-sudut kamar

kamar dengan sunyi cintaku yang tulus

terbangun dari darah rinduku

pada masa di mana cahaya mulai tenggelam

dimangsa ombak yang menggulung

Yogyakarta, Januari 2008

*

Perahu

Aku menerima tubuhmu yang kotor

karena perahu ini untukmu

kubuat dari doa dan takdir masa kecilku.

Berlayarlah! Aku akan membawamu menuju pulau

tempat rencana hidupmu disusun

pada hari yang menjadikan buah sebagai musibah

Dengan perahu ini kau akan menyusuri lorong tempatku

pertama mengenal udara dan warna dari tubuhmu

Yogyakarta, Januari 2008

Kelopak Mata Cinta

Seperti malam kau selalu menemuiku

setelah matahari pergi

menanyakan cinta yang sudah lama aku simpan

dalam kelopak mata

"Bukalah, aku ingin melihat cahaya

dari mata yang paling kucinta."

Kau merayuku dengan cinta, menciumku dengan sunyi,

dan memelukku dengan matahari. Detak jantungmu

kurasakan selalu ingin melumatku.

"Aku ingin jadi gerimis untuk melubangi matamu yang batu

agar cinta bisa kuintip sampai dasarnya

biar aku tahu nama siapa yang bermuara."

Ibu pemiliknya.

Yogyakarta, Januari 2008


Last modified: 14/3/08