Dari pintu yang selalu terbuka, kau masuk dengan
langkah kesakitan menginjak daun-daun
yang berparas kecoklatan
dan bunga-bunga pun muram terbakar berguguran.
"Aku rindu matamu yang melumut pada dinding,
licin karena tangismu semalam.
Apakah kau masih menunggu? Aku datang
untuk memungut
rambutmu yang terurai di setiap sudut."
Kau berhenti melangkah. Terpaku pada basah tanah
mencoba memaknai desah nafasku yang berhembus
dari celah kerikil dan rongga bumi.
"Dapatkah kau menikmati rumah yang telah kau pesan
sejak dalam kandungan. Aku ingin mengunjungimu;
menanyakan
dunia yang selalu kau impikan."
Kau berhenti memasang tubuhmu pada sunyi
seperti tahu aku tak akan pernah kembali
karena rumahmu dan rumahku terputus oleh sungai
yang airnya tak pernah berhenti menuju mati.
Yogyakarta, November 2007
*
kehidupan bunga berakhir pada daun
tanggal oleh usia yang memamah rangkanya
musim gugur mengantarnya jatuh
membentuk parade cahaya pada bulan purnama
di tengah hijau daun yang setengah memar
mimpi bunga ingin kembali mekar
tapi tangkai terlanjur coklat dan mulai terbakar
Yogyakarta, Januari 2008
di kamar ini cinta yang kupertaruhkan
tercermin dari jendela
yang keluar menghadap lautan
tak ada gema suara:
angin pantai berdiri enggan mengetuk pintu
matahari memalingkan sinar
dan desah napas nelayan hanyut ditelan aroma lapuk
kelupasan sisik ikan yang berserak
kamar ini adalah waktu purba
di mana nenek moyang memutar detik jam
bergerak mengikuti perih
yang tergambar pada derita foto usangku
menyaksikan rambut leluhurku
terurai di sudut-sudut kamar
kamar dengan sunyi cintaku yang tulus
terbangun dari darah rinduku
pada masa di mana cahaya mulai tenggelam
dimangsa ombak yang menggulung
Yogyakarta, Januari 2008
*
Aku menerima tubuhmu yang kotor
karena perahu ini untukmu
kubuat dari doa dan takdir masa kecilku.
Berlayarlah! Aku akan membawamu menuju pulau
tempat rencana hidupmu disusun
pada hari yang menjadikan buah sebagai musibah
Dengan perahu ini kau akan menyusuri lorong tempatku
pertama mengenal udara dan warna dari tubuhmu
Yogyakarta, Januari 2008
Seperti malam kau selalu menemuiku
setelah matahari pergi
menanyakan cinta yang sudah lama aku simpan
dalam kelopak mata
"Bukalah, aku ingin melihat cahaya
dari mata yang paling kucinta."
Kau merayuku dengan cinta, menciumku dengan sunyi,
dan memelukku dengan matahari. Detak jantungmu
kurasakan selalu ingin melumatku.
"Aku ingin jadi gerimis untuk melubangi matamu yang batu
agar cinta bisa kuintip sampai dasarnya
biar aku tahu nama siapa yang bermuara."
Ibu pemiliknya.
Yogyakarta, Januari 2008