SUARA PEMBARUAN DAILY

Ketika Gemblung Terdesak

Oleh Humam S Chudori

Gemblung benar-benar sudah bingung. Pikirannya limbung. Seperti orang linglung. Laksana orang yang sudah pikun. Ia sudah kehilangan akal. Tidak tahu bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sudah beberapa bulan ini Gemblung merasa dirinya dibunuh oleh sesuatu yang tidak nyata. Ia merasa dimatikan. Namun, tidak secara fisik pembunuhan itu dirasakan Gemblung. Sebab sesungguhnya ia masih bernapas. Masih bisa keluyuran ke sana ke mari.

"Masih mending jika benar-benar orang yang sudah meninggal. Sebab orang mati tidak akan stress. Tak akan pernah kelaparan," pikir Gemblung.

Ya, sudah beberapa bulan ini Gemblung merasa sudah tidak memperoleh hak asasi manusia. Kendati lelaki itu sering mendengar istilah HAM. Berbagai peristiwa telah membuatnya kehilangan HAM. Ia merasa tidak memperoleh hak untuk mendapat penghidupan. Kehilangan hak untuk memperoleh penghasilan. Merasa kehilangan hak untuk hidup. Tapi, ia merasa tidak mungkin bunuh diri. Bunuh diri tidak dibenarkan oleh siapa pun dan apa pun.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya Gemblung terpaksa berhutang ke sana-kemari, setelah ia tak punya apa-apa lagi.

Sudah tiga bulan ia menunggak membayar uang kontrakan rumah. Andaikata Kupret, pemilik rumah kontrakan, ada di rumah bisa dipastikan Gemblung sudah diusirnya. Sudah disuruh keluar dari rumah petak yang ditempatinya. Pemilik rumah kontrakan itu memang tidak pernah memberi kesempatan kepada pengontrak untuk menunda pembayaran. Untung saja saat itu Kupret tidak ada. Ia tengah pergi ke kampungnya. Entah untuk urusan apa. Yang pasti, sudah tiga bulan lebih Kupret belum kembali.

Gemblung masih ingat tatkala Jendel - orang yang mengontrak di sebelahnya - terlambat membayar uang kontrak rumah kepada Kupret. Lelaki bertubuh kerempeng itu langsung diusir oleh Kupret. Padahal Jendel hanya terlambat dua bulan. Namun, Kupret tidak mau tahu. Semua barang-barang milik Jendel dikeluarkan tanpa rasa iba. Ia tak peduli dengan keluarga yang baru mempunyai anak itu. Betapa tidak, baru sebulan Anti - istri Jendel - melahirkan anaknya yang kedua ketika mereka diusir keluar dari rumah kontrakan itu.

*

Petugas keamanan berseragam itu hanya tertawa mendengar permintaan aneh orang yang ada di hadapannya.

"Kenapa Bapak tertawa?" tanya Gemblung, "Apa ada yang lucu, Pak?"

Petugas keamanan itu hanya bergeming. Lalu tersenyum.

"Saya sungguh-sungguh, Pak. Saya mesti dihukum," lanjut Gemblung. Serius.

"Apa kesalahan saudara hingga minta dipenjara?" tanya petugas keamanan.

"Saya punya banyak rencana jahat, Pak."

Bukan hanya petugas yang duduk berhadapan dengan Gemblung yang terkejut, setelah mendengar lontaran kalimat lelaki itu. Melainkan beberapa petugas keamanan yang berada di ruangan tersebut. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau kedatangan lelaki itu hendak mencari masalah. Betapa tidak, orang yang bersalah saja justru takut dipenjara. Hingga tak jarang orang yang bersalah akan mencari pengacara yang handal. Tujuannya agar bisa membebaskan diri dari tuntutan jaksa. Supaya tidak masuk ke dalam hotel prodeo. Nah, orang ini baru punya rencana jahat tapi sudah minta dikurung di dalam lembaga pemasyarakatan. Para petugas itu benar-benar dibuat bingung mendengar keinginan Gemblung.

"Tapi saudara belum melakukannya, kan?" tanya petugas itu setelah beberapa saat sebelumnya terdiam. Lantaran ia seperti tidak percaya dengan telinganya sendiri. Lelaki itu dianggapnya aneh. Gila. Tidak waras.

"Justru sebelum saya bertindak lebih jauh, lebih baik dipenjara. Sebab jika saya sudah bertindak artinya harus sudah ada korban."

"Tapi, hukum tidak bisa demikian. Tidak mungkin seseorang bisa ditahan tanpa ada kesalahan. Nah, saudara tidak punya kesalahan apa-apa kok minta dipenjara," kata sang petugas, "Kalau baru punya niat jahat tidak mungkin bisa dipenjara. Apalagi dimasukkan ke dalam lembaga pemasyarakatan. Untuk ditahan di dalam sel pun tidak mungkin. Karena tidak ada alasan untuk itu."

"Jadi?"

"Ya, saudara tidak mungkin bisa dipenjara hanya karena punya niat jahat," ujar petugas itu, mempertegas pernyataan sebelumnya, "Karena itu, sebaiknya pikirkan lagi keinginan saudara tersebut."

Gemblung diam.

"Di penjara itu tidak enak, saudara. Sebab setelah keluar dari penjara orang lain tak akan gampang percaya. Nah, ini artinya saudara tidak akan mudah mendapat pekerjaan."

Gemblung masih diam. Orang sekarang saja sudah sulit mencari pekerjaan, pikirnya.

"Sebaiknya pikirkan lagi keinginan saudara itu sebelum segala sesuatunya terlambat."

"Baiklah kalau begitu, terimakasih atas penjelasan bapak yang panjang lebar tadi," Gemblung bangun dari tempat duduknya. Lalu ia menyalami petugas.

Petugas itu tersenyum. Ada perasaan bangga karena sebagai pengayom masyarakat ia merasa telah menyadarkan tamu yang semula dianggapnya akan minta surat keterangan kelakuan baik itu.

Tiba-tiba Gemblung meninju muka sang aparat. Tepat kena rahangnya. Tak ayal lagi petugas itu agak terhuyung-huyung. Karena tidak pernah menyangka jika sang tamu itu akan berbuat demikian. Lalu ia mengamuk. Membabi buta. Ia sudah kalap.

Gemblung langsung dikeroyok oleh lima orang petugas berseragam yang ada di kantor itu. Hampir saja ia disiksa oleh mereka jika tak ada wartawan yang datang. Ya, dua orang wartawan - seorang wartawan luar negeri dan seorang wartawan dalam negeri - datang ke kantor keamanan tersebut, tatkala Gemblung tengah dihajar mereka. Penganiayaan tak berlanjut ke perbuatan yang lebih sadis lagi. Tanpa proses lebih lanjut Gemblung dimasukkan ke dalam sel tahanan.

*

"Majelis hakim yang terhormat. Di negeri ini saya sudah tidak mempunyai HAM lagi," demikian Gemblung di depan pengadilan, tatkala ia mendapat pertanyaan kenapa ia memukul petugas keamanan.

"Hak hidup saya sudah dirampas habis-habisan. Saya tidak mungkin akan bisa makan jika terus menerus seperti ini. Perlu bapak hakim yang mulia ketahui, mata pencaharian saya awalnya hanya berdagang ayam dan bebek. Unggas-unggas itu yang menghidupi kami. Namun, dagangan saya dimusnahkan tanpa mendapat penggantian sepeser pun. Barang dagangan saya dibakar hidup-hidup. Setelah lama menganggur. Terpaksa saya menjadi pedagang minyak tanah keliling. Tetapi belum setengah tahun berjalan, saya harus menganggur lagi. Lantaran minyak tanah hilang. Raib. Entah makhluk gaib apa yang telah menghabiskan minyak tanah. Akibatnya saya kembali harus menganggur. Karena tak ada barang yang bisa saya jual sementara itu perut saya tetap ...."

"Keberatan Yang Mulia. Yang jadi masalah adalah terdakwa telah melakukan pemukulan terhadap aparat keamanan. Tetapi, ...." jaksa penuntut menyela.

"Keberatan ditolak!" ujar hakim ketua, "Teruskan!"

"Terima kasih bapak hakim," ujar Gemblung. "Nah, semua orang tahu bahwa setiap manusia hidup harus makan. Lantas darimana saya bisa makan kalau semua usaha saya dimatikan. Itulah sebabnya saya minta dipenjara. Jika perlu seumur hidup. Sampai saya meninggal. Sebab orang yang berada di dalam penjara pasti mendapat jatah makanan. Meskipun tidak layak. Dengan lauk seadanya. Tidak memenuhi standar gizi. Asal sekedar untuk mengganjal perut. Tetapi, selama berada di luar penjara saya tidak akan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari saya. Untung saja istri dan anak saya sudah mati. Kalau tidak, mungkin mereka juga harus mengalami nasib yang sama - kelaparan setiap hari."

Lalu Gemblung melanjutkan alasannya kenapa ia sampai memukul aparat keamanan. Harapannya jika ia melakukan hal ini ia bisa dipenjara. Karena ada alasan untuk menjebloskannya ke jeruji besi. Ia pun mengatakan sudah tidak peduli lagi dengan rasa malu. Gemblung menyadari orang dipenjara biasanya akan dianggap memalukan. Akan dipandang sebelah mata oleh masyarakat.

"Buat apa malu kalau tiap hari kelaparan. Nah, orang korupsi saja tidak pernah merasa malu. Padahal mereka tidak pernah kelaparan. Hidup mereka berkecukupan. Tak pernah kekurangan," tambah Gemblung.

Mungkin terdorong oleh alam bawah sadarnya Gemblung mampu melontarkan kalimat-kalimat itu. Lantaran begitu banyak musibah yang dialami oleh Gemblung. Betapa tidak, mula-mula barang dagangannya dimusnahkan. Ya, ayam dan bebek miliknya dimusnahkan tanpa mendapat penggantian. Ia hanya bisa menyaksikan ketika unggasnya dibakar hidup-hidup tanpa bisa berbuat sesuatu. Kecuali hanya menitikkan airmata. Kecewa. Bingung. Sedih. Belum hilang kesedihannya atas peristiwa itu, sebulan kemudian, istri dan anaknya meninggal terseret arus banjir.

Karena tidak ingin mengalami kerugian lagi. Gemblung beralih profesi. Jadi penjual minyak tanah keliling. Celakanya belum genap setahun ia mendorong gerobak dari kampung ke kampung. Pasokan minyak tanah sering tersendat. Bahkan sudah dua bulan ini Gemblung nyaris tak bisa berkeliling. Lantaran tak ada pasokan bahan bakar itu ke daerahnya. Akibatnya ia tak memperoleh penghasilan. Sementara itu, ia tetap harus makan. Tetap harus membayar uang kontrakan rumah yang ditempatinya. Serta memenuhi kebutuhan lainnya.

Ketika sedang berpikir untuk mencari pekerjaan lain. Tiba-tiba Gemblung berpikir untuk memilih hidup di penjara.

"Kalau hidup di penjara enak barangkali," pikirnya. "Tak perlu harus susah payah mencari kerja."

Gemblung percaya orang di dalam penjara pasti diberi makan. Nah, orang yang hidup bebas - tidak dipenjara - untuk mendapat makanan mesti bekerja terlebih dulu. Sedang untuk mendapatkan pekerjaan lagi ia sudah menemui jalan buntu. Sudah kehabisan akal. Tak bisa lagi menjadi pedagang unggas, tak mungkin bertahan menjadi pedagang minyak tanah keliling. Dengan kata lain, jalan penghidupannya sudah tertutup. Dan, ini artinya ia pasti akan merasa kelaparan sepanjang hari. Mengemis? Ah, pantang bagi saya mengemis. Menjadi peminta-minta, tekad Gemblung.

Setelah berhasil mengumpulkan keberanian, Gemblung datang ke kantor polisi. Dan ia mengutarakan keinginannya agar dimasukkan ke dalam dipenjara. Ia tak ingin melakukan tindak kejahatan. Tak ingin merampok, mencuri, atau melakukan pekerjaan yang dapat merugikan orang lain. Kendati harus hidup di dalam kurungan. Ia lebih takut kelaparan sepanjang hidupnya.

Majelis persidangan hening. Nyaris tidak ada yang buka suara. Jaksa penuntut umum pun merasa heran dengan keberanian penjual minyak tanah itu. Bahkan ia pun merasa bingung lantaran sang penjual minyak mampu mengutarakan uneg-unegnya di muka umum. Di pengadilan.

Sementara itu, Gemblung sendiri merasa aneh. Janggal. Ia seperti tidak percaya dengan mulutnya sendiri. Betapa tidak, tiba-tiba ia bisa bicara panjang lebar seperti itu. Kalimat demi kalimat bisa diutarakan dengan lancar. Padahal ia tak pernah bisa bicara panjang lebar. Gemblung tidak pernah berjualan obat seperti Takir. Nah, kalau ipar Gemblung memang terbiasa bicara hingga mulutnya berbusa.

"Jadi, saudara terdakwa mengaku bersalah. Karena telah melakukan pemukulan terhadap aparat keamanan?" tanya hakim ketua, setelah beberapa saat terdiam, karena ia merasa terkejut atas pengakuan yang disampaikan terdakwa.

"Ya, saya mengaku bersalah Bapak Hakim yang mulia. Karena itu mohon saya dihukum seberat-beratnya karena telah melawan hukum. Dihukum mati pun rela saya."

*

Esoknya hampir semua media mengangkat berita peristiwa di pengadilan itu menjadi berita utama. Sayangnya, hampir semua berita itu menyebutkan bahwa apa yang dilakukan Gemblung merupakan rekayasa seseorang. Ada yang mengatakan bahwa tukang minyak keliling itu telah ditunggangi oleh kepentingan pihak ketiga. Tidak sedikit berita yang menganggap Gemblung berbuat demikian karena ingin menjatuhkan kewibawaan penguasa.

Sementara itu, beberapa koran kuning mengatakan Gemblung cuma cari sensasi murahan. Ada pula yang memberitakan Gemblung tidak waras. Ya, hampir semua berita menyudutkan lelaki berkulit hitam legam itu. Tidak ada satu berita pun yang memuat alasan Gemblung berbuat nekad.

Tetapi, Gemblung tak peduli. Karena ia tidak membaca berita-berita itu.


Last modified: 14/3/08