SUARA PEMBARUAN DAILY

Sukamdani Sahid Gitosardjono Tegap Berdiri pada Usia 80 Tahun

Didit Majalolo

Pengusaha Sukamdani Sahid Gitosardjono memberikan sambutan saat perayaan ulang tahunnya ke-80 di, Jakarta, Jumat (14/3) malam. Acara yang dirangkai dengan ulang tahun sejumlah lembaga pendidikan yang didirikannya itu, dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Mata Sukamdani Sahid Gitosardjono tampak berbinar-binar. Berdiri bersama jajaran komisaris dan direktur PT Hotel Sahid Jaya Internasional, ia menyambut ucapan selamat dan jabat tangan dari tamu-tamunya. Selain sanak saudara, kerabat, relasi, karyawan, tampak juga artis, pejabat pemerintahan, hingga Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Sosok pendiri Sahid Group itu masih tampak tegap. Pada Jumat, 14 Maret 2008, ia merayakan ulang tahun ke-80. Tak terlihat kerentaan dalam diri pemilik jaringan hotel terbesar di Indonesia itu. Meskipun waktu mendekati pergantian hari, wajah pria yang akrab dipanggil Pak Kam itu masih terlihat ceria.

"Dalam menjalankan usaha kami tidak semata untuk kepentingan Sahid, tapi untuk masyarakat dan kemajuan bangsa dan negara. Saya selalu mendidik anak-anak saya dan para akademisi Sahid, untuk belajar dari perjuangan pahlawan, meraih kemajuan supaya berguna bagi masyarakat," ucapnya ketika berpidato.

Karakter yang rendah hati dan ramah kepada semua orang itulah yang terpancar dari dalam dirinya. Di kalangan karyawan, ia dikenal murah senyum dan suka menyapa.

Wakil Presiden Jusuf Kalla pada kesempatan itu juga menyatakan kekagumannya kepada Sukamdani, yang pada usia 80 tahun masih aktif bekerja. Ia menjadi perintis atau pelopor dalam banyak hal. Banyak sumbangannya dalam dunia bisnis Indonesia. Di antaranya, memulihkan hubungan perdagangan Indonesia dan Tiongkok, dan perannya mengembangkan organisasi Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin).

"Beliau pengusaha tangguh dan mengabdi untuk dunia bisnis, sekaligus berjiwa sosial, dengan memiliki sekolah dan mendirikan pesantren. Saya kira itu sesuatu yang patut diteladani," kata Jusuf Kalla.

Anak dan cucunya mengenal Sukamdani sebagai seorang yang bijaksana. Ia sangat menghargai filosofi Jawa, seperti urip iku nguripi (hidup itu tidak untuk diri sendiri) dan nguwongake uwong (memperlakukan orang lain sebagai sesama ciptaan Tuhan).

Ia juga menganggap penting bertindak sak madya (berperilaku wajar, tidak menonjolkan diri), nut jaman kelakone (selalu mengikuti perkembangan zaman, mengubah diri sendiri untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman), serta berpandangan hidup adalah amanah.

Pria yang dilahirkan di Sukoharjo, 10 kilometer arah selatan Kota Solo itu, memang sejak kecil memegang kuat tradisi Jawa. "Beliau seorang nasionalis sejati. Di ulang tahunnya, ia menampilkan Sendratari Gajah Mada. Dia ingin mengingatkan kepada kita bahwa abad ke-13 kita pernah menjadi bangsa yang besar dan mempunyai pemimpin yang luar biasa yaitu Gajah Mada," demikian putra keempat Sukamdani, Hariyadi Sukamdani menceritakan karakter ayahnya.

Estafet Kepemimpinan

Hingga kini pria yang dijuluki raja properti sektor perhotelan nasional itu tidak pernah bisa lepas tangan dari dunia bisnis. Meskipun tidak lagi menjabat Direktur Utama Sahid Group, setiap hari ia berangkat ke kantor bersama istrinya, Juliah. aya pikir, daya ingat, kemampuan dan pengalamannya dalam berbisnis, membuatnya sering dimintai pendapat banyak pebisnis.

Ide awal membangun usaha perhotelan datang ketika ia pergi ke Medan pada 1961. Kala itu, penerima tanda jasa kepahlawanan dari Pemerintahan Indonesia atas jasanya membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia tersebut, kesulitan mendapatkan tempat beristirahat.

Tercetuslah gagasan membangun Hotel Sahid pertama di Solo pada 1965. Bisnisnya terus berkembang. Hingga saat ini ia memiliki 18 hotel di seluruh Indonesia.

Bersama istrinya, Sukamdani sukses membangun Sahid Group, antara lain mengembangkan akademi pendidikan, media massa, pesantren, dan usaha properti. Hariyadi mengagumi kekompakan orangtuanya dalam berumah tangga dan berusaha.

Kepada generasi penerusnya, Sukamdani selalu menekankan tentang keseimbangan, yakni berprestasi supaya berguna bagi masyarakat banyak, sekaligus memajukan bangsa dan negara Indonesia.

"Kami berharap bisnis ini terus berkembang sesuai dengan apa yang kami tugaskan kepada generasi penerus. Sudah waktunya untuk estafet kepemimpinan. Kami tinggal memberikan dorongan dan nasihat sesuai dengan pengalaman saya," kata Sukamdani seusai pesta ulang tahunnya. [Daurina Lestari Sinurat]


Last modified: 15/3/08