[JAKARTA] Maraknya kasus orangtua membunuh anak kandung merupakan potret kegagalan pemerintah mengatasi kemiskinan. Kemiskinan yang menjerat rumah tangga, sering mengakibatkan sang ibu mengalami disorientasi kehidupan, menjadi stres, dan putus asa, yang berujung pada tindakan mengakhiri kehidupan, baik dirinya sendiri maupun anggota keluarga.
Demikian pandangan psikolog sosial dari Universitas Atma Jaya Jakarta, Maria Wulandari Suparno, sosiolog dari Universitas Indonesia, Paulus Wirutomo, dan Dewan Penasihat Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK), Nursyahbani Katjasungkana, di Jakarta, Jumat (14/3) dan Sabtu (15/3). Mereka menanggapi maraknya kasus ibu membunuh anak, terutama kasus terakhir di Bekasi, yakni seorang ibu, Ismawati, membunuh dua anak kandungnya (SP 14/3).
Maria menjelaskan, dari 10 persen orang yang bunuh diri dan membunuh anggota keluarga, biasanya tanpa alasan jelas. Sebanyak 25 persen digolongkan sebagai orang-orang yang menderita ketidakstabilan mental. Sebanyak 40 persennya lagi melakukan bunuh diri menurut kata hati ketika mengalami gangguan emosi.
"Ketika stres begitu hebat, saat itulah mereka memutuskan untuk bunuh diri dan membunuh anggota keluarga lainnya," jelasnya.
Sedangkan Paulus Wirutomo berpendapat, ada masalah psikis di sebagian masyarakat sehingga banyak yang bunuh diri hanya karena alasan sederhana. Kebanyakan kasus bunuh diri dilatarbelakangi faktor egoistik
Dalam pandangan Nursyahbani Katjasungkana, akar persoalan kekerasan yang terjadi di tengah keluarga, seperti terulangnya kasus ibu membunuh anaknya adalah kemiskinan struktural. "Ini merupakan bukti kegagalan pemerintah menjamin warganya memperoleh akses bagi kebutuhan kehidupannya," kata Nursyahbani.
Sementara itu, Polrestro Bekasi, Sabtu (15/3), resmi menetapkan Ismawati (35) sebagai tersangka kasus pembunuhan anak kandungnya yang masih balita. "Dia mengakui dirinya membunuh kedua anaknya," kata Kasat Reskrim Polrestro Bekasi Kompol Budi Sartono, Sabtu pagi. [E-5/HTS/A-17]