SUARA PEMBARUAN DAILY

Satu Pasien Gizi Buruk di Rote Meninggal

[KUPANG] Satu balita penderita gizi buruk, Ibrahim Tasi (9 bulan) hasil penyisiran tim medis di wilayah Rote Timur dan dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ba'a, akhirnya meninggal dunia, Jumat (14/3).

Dengan demikian, jumlah korban meninggal akibat gizi buruk di Kabupaten Rote Ndao mencapai enam orang, namun manajemen rumah sakit menyatakan, balita gizi buruk yang meninggal dunia hanya empat orang.

Direktur RSU Ba'a, Delly Pasande yang dikonfirmasi SP lewat telepon selulernya, Sabtu (15/3) pagi mengatakan, korban mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan dalam tubuh karena sudah satu minggu terserang diare sebelum dibawa ke rumah sakit. Sehingga, paramedis tidak berhasil menolong korban yang sudah dalam keadaan kritis dan akhirnya meninggal dunia.

"Korban tidak termasuk dalam pasien gizi buruk. Demikian pula salah satu korban meninggal lainnya bukan karena gizi buruk, tetapi akibat penyakit bronkitis akut. Sehingga, tercatat empat balita yang meninggal dunia akibat gizi buruk," tandasnya.

Pendataan

Asisten Pembangunan pada Sekretariat Kabupaten Rote Ndao, Daniel Follabessy mengatakan, hasil pendataan tim medis yang diterjunkan ke lapangan mencatat, balita gizi buruk tanpa kelainan klinis sebanyak 201 orang, gizi kurang 1.183 orang, 10 penderita marasmus dan satu penderita kwashiorkor.

Dikatakan, pemerintah lewat Dinas Sosial Rote Ndao lagi mempersiapkan bantuan darurat bagi para penderita gizi buruk dan gizi kurang.

Sementara itu, manajemen rumah sakit telah diinstruksikan agar menangani pasien gizi buruk yang terus berdatangan. Sedangkan penanganan terhadap balita yang menderita gizi kurang dipusatkan di setiap puskesmas dan puskesmas pembantu yang ada.

Ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Rote Ndao, Asiel Mickhael Soruh yang dihubungi secara terpisah mengatakan, sejumlah posko penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk yang dibentuk pemerintah, ternyata tidak beraktivitas seperti yang diharapkan. Di Puskesmas Kota Ba'a yang ditetapkan sebagai salah satu posko KLB, juga tidak ada kegiatan yang berarti.

Dikatakan, kasus gizi buruk disebabkan tingginya angka kemiskinan di daerah ini yang mencapai 82,73 persen dari total penduduk sebanyak 113.000 jiwa. Selain itu, kesadaran masyarakat masih sangat rendah terhadap program keluarga berencana. "Sudah miskin dan anak banyak tetapi tidak ingat kewajibannya untuk memelihara anaknya dengan baik," kesalnya. [120]


Last modified: 15/3/08