SUARA PEMBARUAN DAILY

Sri Sultan HB X Luncurkan Buku

Keindonesiaan Perlu Dirajut Kembali

SP/Fuska Evani Sani

Kepala Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada, Widya Nayati, berdiri di belakang buku kumpulan pidato Sri Sultan Hamengku Buwono X berjudul "Merajut Kembali Keindonesiaan Kita" yang diluncurkan di Yogyakarta, Sabtu (15/3).

[YOGYAKARTA] Sifat-sifat keindonesiaan di bidang kebudayaan, kebangsaan, ekonomi, politik, hukum, pertahanan, dan keamanan harus dirajut kembali. Langkah itu penting untuk mengatasi berbagai permasalahan yang tengah dihadapi bangsa Indonesia saat ini.

Pandangan itu dituangkan Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam bukunya yang berjudul Merajut Kembali Keindonesiaan Kita. Buku setebal 299 halaman itu diluncurkan di Auditorium Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sabtu (15/3). Buku itu adalah kumpulan pidato Sri Sultan.

Menurut pengamatan Sultan Indonesia saat ini dihadapkan pada realitas tantangan yang erat. Kompleksitas tantangan tersebut adalah menguatnya budaya konsumerisme dan kekerasan, menipisnya kesadaran pluralisme dan semangat kebangsaan, serta tingginya kemiskinan dan pengangguran dan ketertinggalan dalam membaca dinamika geopolitik.

Kerena tantangannya begitu luar biasa, tidak ada pilihan lain bagi bangsa ini kecuali mengkapitalisasi seluruh sumber daya yang ada, termasuk di dalamnya modal sosial.

Ironisnya, kondisi Indonesia sampai saat ini masih dililit kemiskinan, pengangguran, masalah pendidikan, kesehatan, keamanan, dan kedaulatan wilayah.

"Ibarat sebuah rumah, dinding-dindingnya sudah berlubang besar di sana-sini. Siapa pun bisa keluar masuk tak terhalangi," ujar tulis Sri Sultan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, tidak ada pilihan lain kecuali merajut kembali kebudayaan, kebangsaan, ekonomi, politik, hukum, pertahanan, dan keamanan yang dimiliki Indonesia.

"Semoga renungan saya, yang sebagian besar sudah disampaikan ke publik dalam kapasitas sebagai Gubernur DI Yogyakarta, dapat memberikan inspirasi bagi generasi muda, calon-calon pemimpin bangsa di masa depan. Semoga mereka menjadi pemimpin yang berkarakter kuat dan menjalankan drama sebagai seorang ksatria dengan cara mengabdi untuk kesejahteraan rakyat, tidak berambisi kecuali untuk kesejahteraan rakyat, dan berani mengatakan yang benar itu benar, yang salah itu salah," kata dia.

Pemikiran

Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM, Widya Nayati mengatakan meski buku itu merupakan kumpulan pidato Sri Sultan, tapi banyak mengandung pemikiran sekaligus keresahannya terhadap kondisi Indonesia saat ini.

"Sultan resah akan nasib bangsa ini. Kemiskinan, kesehatan, serta pendidikan masih belum merata dan tidak pernah mendapat perhatian maksimal dari pemerintah. Polemik kehidupan dalam berbangsa inilah yang membuat Sultan resah," kata Widya.

Menurutnya, sosok Sultan adalah seorang yang penuh dedikasi dan paham betul dengan apa yang tengah terjadi, meski hanya mengamati dalam waktu singkat. Dikatakan, ketika Sultan berkunjung ke Papua, dia menyaksikan banyak penduduk yang tidur di emperan toko.

"Sultan mengatakan bahwa kondisi seperti itu terjadi karena siklus hidup mereka terhenti akibat sistem pengelolaan hutan yang berubah. Mereka biasa hidup dari ladang secara berpindah. Begitu lahan habis, mereka menunggu waktu untuk kembali ke ladang lama. Dan, menunggu itu dengan tidur," ujar Widya.

Sutradara film Garin Nugroho mengatakan, buku Sultan itu menarik karena mengandung dan mengungkapkan praktik politik yang panjang.

Buku itu juga menggambarkan intelektualitas, kepemimpinan, pengamatan, dan harapan Sultan akan kebangsaan.

"Sultan adalah sosok negarawan yang sesungguhnya sudah tidak ada lagi atau jarang ditemukan pada pemimpin bangsa saat ini. Sekarang yang ada adalah politisi. Meski hanya kumpulan pidato, buku ini menarik karena mengungkapkan alam pikiran Sri Sultan yang sudah sangat maju," kata Garin. [152]


Last modified: 15/3/08