SUARA PEMBARUAN DAILY

"Dokter Bilang Dua Anak Saya Kurang Gizi"

Pasangan suami-istri Marnawi dan Maria, warga Kampung Cibenong, RT 17/04, Desa Sasak, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, kini hanya bisa pasrah dengan perkembangan anak mereka. Sania dan Hasanudin anak kedua dan ketiga saat ini mengalami gizi buruk.

Berat badan Sania (4) hanya 8 kilogram. Semestinya anak seusia dia memiliki berat badan di atas 15 kilogram. Tubuhnya kurus kering, rambutnya merah. Selain gizi buruk, bocah perempuan itu mengalami kelainan jantung.

Kondisi yang sama juga dialami putra bungsu mereka, Hasanudin, yang dalam usianya dua tahun berat badannya hanya enam kilogram. Anak seusia itu idealnya memiliki berat badan di atas 10 kilogram. "Dokter di puskesmas bilang dua anak saya itu kurang gizi," ujar Maria, Kamis (14/3).

Keluarga Marnawi terbilang sangat miskin. Penghasilannya dari menjadi penggayuh becak hanya Rp 10.000 per hari. Itu pun kadang tidak cukup untuk makan keluarganya dengan seorang istri dan tiga anak. Anak sulung mereka tidak sekolah karena tak punya biaya. "Jangankan susu, beli beras saja sulit. Berapalah pendapatan tukang becak," kata Maria.

Maria menuturkan, kerap setiap hari anak-anaknya makan tanpa lauk, hanya nasi dan kecap. Mereka benar-benar susah. "Sedih sih sedih, tapi bagaimana lagi, kehidupan kami sudah begini," katanya.

Jumlah balita penderita gizi buruk di wilayah Kabupaten Tangerang tahun ini meningkat dibanding tahun sebelumnya. Tahun 2008, tercatat sebanyak 2.895 bayi berusia di bawah lima tahun menderita gizi buruk yang disertai penyakit infeksi. Jumlah ini meningkat dibanding tahun lalu yang hanya mencatat angka 1.987 balita.

Meningkat

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, dr Reniati, Kamis mengatakan, penderita gizi buruk meningkat karena petugas lebih giat mencari balita yang mengalami gizi buruk. Namun dia juga menegaskan, pencarian ini juga disertai perbaikan penderita gizi buruk. "Yang dulunya gizi buruk sekarang tidak lagi juga banyak," kata Reniati.

Lebih lanjut Reniati mengatakan, balita kurang gizi di Kabupaten Tangerang sangat banyak dan tersebar di seluruh desa dan kelurahan di 36 kecamatan. Salah satu penyebab munculnya gizi buruk adalah karena rendahnya kesadaran orang tua dalam memberikan asupan kepada anaknya sehingga jumlah balita bergizi buruk meningkat.

Selain itu pola pikir masyarakat yang malas dan pola asuh yang salah serta karena masalah ekonomi sehingga kesehatan dan pertumbuhan anak kurang diperhatikan.

"Anak-anak diberi asupan yang tidak bergizi. Mereka juga tidak membawa anaknya ke Posyandu ataupun puskesmas," kata Reniati.

Diakui, Dinas Kesehatan setempat dalam satu tahun terakhir memang gencar mengerahkan petugas puskesmas, Posyandu hingga ibu-ibu PKK untuk mencari balita bergizi buruk di wilayah masing-masing sehingga penderita gizi buruk yang terjaring cukup banyak.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, pada 2008 ini dari 332.817 balita, 2.895 balita berstatus gizi buruk (0,87 persen), 21.078 balita kurang gizi (6,33 persen), 305.676 balita bergizi baik (91,85 persen) dan 3.168 balita bergizi lebih (0,95 persen).

Untuk balita yang bergizi buruk dan kurang gizi, banyak yang terserang berbagai penyakit seperti TBC, Ispa. "Asupan gizi yang kurang membuat tubuh mereka rentan terhadap penyakit," kata Reniati. [132]


Last modified: 15/3/08