SUARA PEMBARUAN DAILY

Kakak Ismawati Juga Kelainan Jiwa

Hotman Siregar

Mutiara (kanan) dan Rosyid terbaring kaku sebelum diantar ke kamar jenazah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jumat (14/3) pagi.

Wajah mertua Ismawati (35), Mohammad Nuh tampak lesu. Kakek berusia 68 tahun ini tidak menyangka dua cucu kesayangannya, Mutiara (2 tahun) dan Rosyid (4 bulan) meninggal di tangan ibu kandungnya sendiri.

Kesal, dendam, benci bercampur menjadi satu. Nuh tidak habis pikir, menantunya yang berperawakan cantik dan selalu sopan dalam lakon hidup sehari-hari menderita stres berat. Dengan nada sedikit memaksa Nuh yang duduk lemas di depan rumahnya di RT 04 RW 04, nomor 22 Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi, Jawa Barat, mulai mau bercerita.

"Saya hanya minta kepada penegak hukum di negara ini agar pembunuh cucu saya, di hukum seberat-beratnya. Macan saja tidak membunuh anaknya. Jadi hukumannya harus setimpal," tegas Nuh. Permintaan Nuh ini memang dapat dimaklumi. Sebelum cucunya tewas dibunuh ibunya sendiri, setiap hari Mutiara selalu ada di sampingnya. "Tidak ada lagi yang ganggu kakek," ungkapnya mengingat Mutiara yang sering mengganggu Nuh saat sedang tidur siang.

Yusuf adalah anak Nuh dan merupakan anak ke dua dari lima bersaudara. Yusuf menikah dengan Ismawati lima tahun lalu dan mereka tinggal di rumah Nuh. Sebelum menikah, Ismawati pernah bekerja di salah satu pabrik yang tak jauh dari rumah Yusuf.

Nuh menceritakan, Ismawati merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Sementara kakaknya yang pertama mengalami gangguan jiwa sehingga harus ditempatkan di salah satu yayasan rehabilitasi jiwa. "Tiga bulan lalu, kakak Ismawati juga sudah masuk yayasan rehabilitasi jiwa di daerah Tambun, Kabupaten Bekasi. Saya tidak tahu penyakit itu menular ke adiknya Ismawati," ketus Nuh yang diamini oleh dua tetangganya yang kebetulan menemani sang kakek.

Ismawati juga pernah bekerja sebagai tenaga pengajar di salah satu TK di Bekasi. Sementara suaminya Yusuf yang merupakan lulusan sekolah teknologi menengah (STM) pernah bekerja sebagai di salah satu bengkel motor di Bekasi.

Setelah menikah tahun 2002, Ismawati dan Yusuf mulai membuka usaha sendiri. Usaha mereka adalah membuka warung kelontong dan usaha permainan anak-anak atau play station yang berada di ruangan bagian belakang rumah Nuh. Tetapi, Nuh tetap tidak yakin bahwa Ismawati memiliki kelainan jiwa. "Kalau sakit jiwa, tidak mungkin dia keluar rumah setelah membunuh dua anaknya sendiri. Dia melarikan diri berarti ia sadar," kata Nuh dengan nada emosi.

Menurut Nuh, kedua cucunya dibunuh ibu kandungnya dengan cara terlebih menceburkannya ke dalam bak mandi berisi air yang berada persis disebelah kamar tidur. "Kondisi kedua cucu saya masih basah dan tidak ada tanda-tanda penganiayaan di bagian tubuhnya," kata Nuh menguraikan kronologis pembunuhan cucunya. Nuh menolak dikatakan bahwa kondisi ekonomi keluarga anaknya yang membuat Ismawati stres. [Hotman Siregar]


Last modified: 15/3/08