SUARA PEMBARUAN DAILY

Sekilas

Peluang Beasiswa di Mesir

Kedutaan Besar (Kedubes) Mesir membuka kesempatan aplikasi beasiswa kepada sejumlah warga negara Indonesia untuk belajar di Universitas Al Azhar, Kairo. Beasiswa akan diberikan kepada 115 orang. Syaratnya, pelajar lulusan sekolah menengah atau pondok pesantren, menguasai bahasa Arab dan tiga juz Al Quran.

Menurut penjelasan tertulis yang diterima SP, pihak Kedubes Mesir juga akan menyeleksi sejumlah calon penerima beasiswa yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi Mesir. Disediakan lima beasiswa untuk belajar di sejumlah perguruan tinggi di Mesir. Proses wawancara untuk seleksi calon akan dilakukan pada 22-24 April 2008 pukul 10.00-12.000 WIB di Kedubes Mesir, Jalan Teuku Umar No. 68, Menteng, Jakarta Pusat, Telepon: 3143440 dan 31935350. [MYS/Y-2]

Pembantu Osama Dipindahkan

Setelah rangkaian interogasi yang dilakukan secara rahasia, Dinas Intelijen Pusat (CIA) memindahkan petinggi Al Qaida Mohammad Rahim ke markas militer Amerika Serikat (AS). Demikian pernyataan Departemen Pertahanan AS, Jumat (14/3).

Direktur CIA Michael Hayden mengungkapkan Rahim yang ditahan April 2007 diyakini banyak membantu pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden melarikan diri dari Afghanistan tahun 2001. Rahim kini berada di Teluk Guantanamo, Kuba. "Penangkapannya merupakan pukulan untuk satu jaringan teroris," tukas Hayden. Tetapi sejumlah pejabat intelijen tidak bersedia membeberkan di mana dan siapa yang menangkap Rahim yang dipercaya memberi bantuan ke Al Qaida, Taliban dan kelompok militan lain. Kendati pejabat-pejabat AS menolak mengungkapkan lebih banyak tetapi pada 2 Agustus 2007, harian The Nation di Pakistan memberitakan Rahim ditangkap di Lahore, Pakistan. [AP/MYS/Y-2]

Blair Serukan Kurangi Emisi Karbon

Mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, menegaskan bahwa Tiongkok, India, dan negara-negara berkembang yang lain akan tetap harus mengurangi emisi gas rumah kaca mereka apabila dunia ingin menanggulangi ancaman bencana pemanasan global. Desakan disampaikan Blair dalam konferensi tentang perubahan iklim di Chiba, Jepang, Sabtu (15/3) pagi.

Blair mengatakan, sebuah kesepakatan untuk menggantikan Protokol Kyoto yang akan habis masa berlaku periode pertamanya pada 2012, harus dapat menemukan cara untuk mengikutsertakan negara-negara berkembang dalam upaya reduksi emisi gas rumah kaca. Tetapi, kata Blair, upaya dilakukan tanpa harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi di negara-negara itu.

Blair menyebutkan, Tiongkok dan India tengah mengalami transisi dari perekonomian pedesaan menuju sebuah negara industri. Dengan demikian, produksi emisi karbon di negara-negara tersebut semakin meningkat. [AP/E-9]


Last modified: 15/3/08