SUARA PEMBARUAN DAILY

Geert Wilders dan Kebebasan Berekspresi

SP/Elly Burhaini Faizal - Nico Schulte Nordholt (kiri) dan M SyafiÕi Anwar.

Beda pandangan antara Barat dengan Timur bukan muncul dari beberapa dekade terakhir atau sejak peristiwa 11 September 2001. Tetapi, bentrokan sebetulnya sudah dimulai sejak tersebarnya Islam dalam beberapa dekade, mulai Maghribi hingga Spanyol, dari Turki sampai India. Di situ ada pasang surut hubungan, baik berupa dilancarkannya Perang Salib oleh Barat yang Kristen, maupun penyerbuan Islam hingga ke Eropa.

"Benar kata Samuel Huntington, telah berabad-abad ada benturan peradaban. Tidak bisa dimungkiri," ungkap Profesor Nico Schulte Nordholt, antropolog politik dari Universitas Twente, Belanda, dalam diskusi "Dilema Kebebasan Berpendapat dalam Era Globalisasi" yang diselenggarakan Yayasan Wakaf Paramadina dan International Centre for Islam and Pluralism (ICIP), Kamis (13/3).

Profesor Nico Nordholt, yang akrab pula dipanggil Pak Nic, menuturkan ada ilustrasi menarik tentang pasang surut hubungan Barat dan dunia Islam yang disajikan oleh Milton Forest dalam bukunya terbaru yang berjudul "The Storm from the East" (Badai dari Timur).

"Kedua budaya yang sudah bentrok berabad-abad punya suatu kekuatan internal yang sangat kuat. Sangat salah perhitungan apabila Barat mengira dapat memaksakan nilai-nilai," ungkap Nordholt menyitir pendapat Forest. Sudah banyak bukti betapa nilai-nilai tidak dapat dipaksakan. Bush, dengan serangan bom dan rudalnya, berusaha menanam demokrasi di Irak dan Afghanistan. Tetapi sejauh ini upaya itu gagal.

Sebaliknya, apabila Islam dari Timur merasa bahwa dengan jihad mereka bisa menggoyangkan budaya Barat, itu juga naif. "Sebuah asumsi yang meleset," kata Nordholt dalam diskusi yang dihadiri oleh pakar komunika- si Ade Armando serta dimoderatori oleh Direktur ICIP M Syafi'i Anwar.

Ia berpendapat, tidak ada satu pun dari dua budaya itu yang mampu menentukan masa depan pihak yang lain.

"Dengan segala superioritas militer dari Barat, tetap saja Islam dari Timur menuntut dan akan tetap menuntut supaya masa depan mereka ditentukan oleh diri sendiri. Namun kalau Barat tetap ingin memaksa dengan kekuatan militer, dua budaya akan sama-sama jadi korban," ia menandaskan.

Ketegangan antar peradaban itu salah satunya tercermin dalam "Fitna The Movie", sebuah film karya anggota parlemen Belanda dari sayap kanan, Geert Wilders. Menurut dia, perasaan Islamofobia yang sudah ada di masyarakat Belanda dan Eropa secara keseluruhan bisa tersulut.

Menurut Nordholt lebih jauh. jika dicermati, taktik yang dilakukan Wilders mirip dengan Nazi pada 1930 yang berencana agar Yahudi diusir semua dari Jerman. Hanya saja, Nazi memakai cara-cara kekerasan. Sedangkan Wilders, dengan kecanggihan teknologi yang ada, berupaya mengedarkan film tersebut melalui internet.

"Jika film sudah tersebar, diharapkan muncul bentrokan. Sehingga umat Islam di Belanda tidak lagi merasa ada di rumah sendiri," ia mengimbuhkan.

Apa sebenarnya yang direncanakan Wilders patut disesalkan. "Ia tidak lagi membedakan tingkah laku secara orang perorang, entah Turki, Maroko, atau Senegal, tetapi menilai sesuatu atas dasar sebuah kesatuan umum yakni umat Muslim," kata Nordholt. Pandangan Wilders semacam itu tentu salah.

Persoalannya, karya Wilders yang berjudul "Fitna The Movie" belum diedarkan. Sehingga, tidak ada tindakan apapun yang bisa dilakukan. "Ketika karya itu sudah diedarkan dan benar-benar menghina, orang berhak pergi ke pengadilan dan menuntut agar film itu disita serta tidak boleh diedarkan jika hakim memang memutuskan demikian," kata Nordholt.

Penguatan Dialog

Persoalan yang lain, apakah karya Wilders harus dilarang diedarkan kendatipun kontroversial. Sebab, hak kebebasan berekspresi dilindungi mutlak oleh konstitusi Belanda. Di sisi lain, harus diakui pula bahwa secara politis karya Wilders membawa kerugian.

"Demokrasi sejati harus dijunjung tinggi. Supremasi hukum harus dipertahankan," ia menandaskan. Mengacu hukum yang berlaku, setiap warganegara Belanda harus dilindungi hak-haknya oleh warganegara yang lain. "Meskipun dia datang dari Turki, Maroko, atau Senegal, ia harus diperlakukan sama," kata Nordholt menandaskan. Ini yang harus dipegang teguh.

Di tempat yang sama, Ade Armando berpendapat provokasi-provokasi berlatar belakang agama yang berkembang akhir-akhir ini harus disikapi secara bijak dan tanpa sikap emosional. "Penguatan dialog antar agama dan peradaban tampaknya akan dapat mengatasi kesalahpahaman yang masih ada saat ini," kata Armando. [SP/Elly Burhaini Faizal]


Last modified: 15/3/08