![]()
AFP PHOTO CHINA OUT GETTY OUT
Sejumlah kendaraan yang dibakar dan dihancurkan berserakan di sebuah jalan di ibukota Tibet, Lhasa, setelah demonstrasi yang diwarnai kekerasan meletup pada 14 Maret 2008.
[BEIJING] Kepala Pemerintahan Regional Tibet Champa Phunstok menandaskan akan menindak keras para pengunjuk rasa di ibu kota Tibet, Lhasa. Peringatan itu disampaikan setelah bentrok antara massa pengunjuk rasa yang digalang para biksu dan aparat keamanan yang mengakibatkan tujuh orang tewas.
"Kami akan menindak keras para kriminal yang melakukan aktivitas untuk memecah belah bangsa," tegas Phunstok di sela-sela sidang tahunan parlemen Tiongkok di Beijing, Sabtu (15/3). Otoritas Tiongkok menggunakan kata "kriminal" bagi pengunjuk rasa yang dinilai berniat memecah belah Tibet.
Sementara situasi Lhasa pada Sabtu pagi kembali tenang. Kepala Pemerintahan Tibet Qiangba Pingcuo membantah berita bahwa Lhasa memberlakukan darurat perang.
Para biksu telah menggelar aksi selama lima hari untuk menentang kekuasaan Tiongkok di sana. Kemarin pagi, 100 biksu berunjuk rasa yang langsung mengundang ratusan lainnya untuk bergabung. Para saksi mata memperkirakan 900 orang ikut turun ke jalan. Sementara sekitar 1.000 aparat keamanan dikerahkan untuk meredam aksi.
Aksi protes ini berubah jadi ajang kekerasan. Massa melempari kaca-kaca toko, menjarah toko dan membakar rumah ibadah dan mobil. Pertikaian antara demonstran dan aparat keamanan di Lhasa mengakibatkan sejumlah orang tewas. Menurut Xinhua, tujuh yang tewas dan tak ada warga asing yang jadi korban mengingat Tibet banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. Diperkirakan banyak orang yang mengalami luka-luka. Radio Free Asia yang berbasis di Amerika Serikat mengutip sejumlah saksi mata yang mengatakan telah melihat dua orang tewas di jalanan.
Seorang turis asing menceritakan kepada BBC bahwa para demonstran tampaknya mengarahkan sasaran ke toko-toko dan orang Tionghoa. "Saya menyaksikan sejumlah orang berperawakan Tionghoa dipukuli...sungguh kacau," tuturnya.
"Saya juga melihat seorang biksu ditendang di bagian perut sebelah kanan lalu dipukuli lagi," ungkap saksi mata lain.
Beijing menuding para pengikut Dalai Lama mengotaki kerusuhan di Lhasa. Tetapi juru bicara Dalai Lama menampik tudingan yang disebutnya tak berdasar itu.
Dalai Lama sendiri menyatakan prihatin dan minta diakhirinya kekerasan.
Human Rights Watch, lembaga pemantau yang berkantor di New York melaporkan bahwa aparat menggunakan amunisi untuk menembaki demonstran, mengepung biara Buddha dan memotong jaringan telepon ke tempat-tempat ibadah.
![]()
AFP PHOTO CHINA OUT GETTY OUT
Ratusan biksu Buddha berunjuk rasa di Xiahe, Provinsi Gansu, Jumat (14/3). Sementara itu, sejumlah orang tewas dalam serangkaian demonstrasi yang meletup di ibukota Tibet, Lhasa, pada hari yang sama.
Meluas
Kerusuhan meluas ke luar Lhasa. Sekitar 4.000 orang di Xiahe, Provinsi Gansu turun ke jalan. Demonstrasi tersebut bertepatan dengan peringatan pemberontakan rakyat Tibet terhadap Tiongkok pada 1959. Pemberontakan itu sendiri gagal. Tiongkok menguasai Tibet sejak 1951, setahun setelah mengirim pasukan untuk "membebaskan" wilayah itu dari kekuasaan feodal.
Selama ini, Tiongkok mengklaim Tibet sebagai wilayahnya. Pengakuan itu acapkali menyulut perlawanan rakyat Tibet. Pada 1950 Tiongkok melancarkan serangan militer dan para penentang kekuasaan Tiongkok berusaha melakukan pemberontakan pada 1959 tetapi gagal. Sejak itu pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama melarikan diri ke India.
Partai Komunis Tiongkok merupakan otoritas politik dan administratif tertinggi yang beroperasi di Tibet melalui sekretaris partai regional dan Pemerintahan Otonom Tibet. [AP/AFP/Reuters/Y-2]