![]()
SP/Adi Marsiela
Vokalis Bobby Kimball (kiri), gitaris Steve Lukather, dan pemain dram, Simon Philips (belakang) menghibur penonton konser Toto bertajuk "Falling in Between Live World Tour 2008" di Sasana Budaya Ganesha, Bandung, Jumat (14/3).
uditorium Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung gelap gulita. Lampu sorot putih, yang tiba-tiba menyala, hanya menyoroti pemain kibor di atas panggung. Tidak ada pemain musik lain. Yang ada hanya dentingan kibor. Toto pun "menghangatkan" bumi Parahyangan.
Suara itu juga yang akhirnya digunakan oleh sekitar tiga ribu penonton yang memadati Sabuga, Jumat (14/3) malam untuk bernyanyi bersama I'll be Over You.
Usai refrain lagu itu berakhir, Greg Philinganes sang pemain kibor berdiri seraya mengacungkan tangan kepada para penonton. Itulah momen terbaik dalam konser Toto "Falling in Between Live World Tour 2008" di Bandung.
Sayangnya, lagu yang sudah cukup dikenal penonton ini hanya dibawakan sekilas. Atmosfer nostalgia akan lagu-lagu Toto yang menjadi hit pada tahun 80-an terasa kurang menggigit malam itu. Pasalnya, Kota Bandung baru pertama kali ini kedatangan grup musik lawas yang sekarang ini berdomisili di Los Angeles, Amerika Serikat.
Toto membuka konser ini dengan tiga lagu sekaligus. Masing-masing Gypsy Train, Caught in The Balance, dan Pamela. Khusus untuk dua lagu pertama, lebih banyak menonjolkan permainan gitar Steve Lukather dan dentuman dram Simon Philips.
Irama cepat di bagian awal konser ini memang masih dapat diikuti oleh Bobby Kimball, sang vokalis. Namun, usia yang semakin tua tidak dapat menipu. Bobby lebih banyak turun naik panggung. Maklum saja, kurang dari 24 jam, mereka baru menggelar pertunjukan serupa di Kota Surabaya.
Meski demikian, Steve Lukather (vokal dan gitar), Bobby Kimball (penyanyi), Greg Philinganes (kibor), Simon Philips (dram), Tony Spinner (gitar), dan Leland Sklar (bas) tampak tidak ingin mengecewakan penggemarnya di Bandung.
Kualitas suara Bobby Kimball juga tidak perlu dipertanyakan. Dia tetap tampil prima, meski sering sekali mengambil napas dan meminum air mineral seraya berjalan meninggalkan panggung. Dia baru keluar pada saat suaranya akan berpadu dengan Steve, seperti pada lagu Bottom of Your Soul.
Suasana nostalgia kembali terasa usai permainan solo kibor dari Greg. Kali ini telinga penonton dimanjakan oleh hit Toto yang lain, Rosanna. Tanpa dikomando, penonton ikut bernyanyi bersama.
Pemilihan lagu yang banyak dikenal penonton itu bisa jadi sebagai salah satu strategi dari Toto untuk "mengambil napas". Demikian juga waktu mereka menggeber medley lagu-lagu, I'll Supply The Love, Isolation, dan Gift of Faith. "Kita bakal bersenang-senang di sini. Bagaimana kalau kita bernyanyi bersama sembari mengingat masa lalu," kata Steve mengawali permainan medley tersebut.
Usai nyanyian sama, Toto memakai repertoar (susunan lagu) yang memungkinkan para personel untuk menunjukkan kemampuannya masing-masing. Luke dengan raungan gitarnya bermain dengan penuh penghayatan dalam lagu Kingdom of Desire.
Giliran Simon tak lama setelah Luke. Dia cukup piawai menggebuk dan menggilir dramnya. Permainan double pedal pada bas dram ketika membawakan Hydra menunjukkan kematangannya sebagai pengganti Jeff Porcaro, pemain dram terdahulu yang meninggal akibat serangan jantung tahun 1992 silam. Medley itu akhirnya ditutup dengan Taint Your World.
Ulang Tahun
Setelah itu, Steve pun mengenalkan satu persatu personel Toto dengan cara yang unik. Pertama dia memperkenalkan Tony seraya meminta penonton memberikan selamat ulang tahun padanya. Hal yang sama dia lakukan pada saat memperkenalkan 'gandalf of Toto' alias Leland Sklar yang menyolok dengan jenggot panjangnya. "Tahukah Anda? Hari ini juga ulang tahunnya," kata Steve lagi memprovokasi penonton.
Sama seperti konser Toto di Jakarta tahun 2006 lalu, Toto pun menutup penampilan dengan lagu pamungkas Africa. Lagu penutup ini dimulai oleh suara kibor dari Greg. Penonton yang sudah hapal dan menanti-nanti lagu ini langsung bersorak sembari melambai-lambaikan tangannya.
Satu hal yang disayangkan dari konser ini adalah penempatan penonton. Mereka mengeluhkan perubahan denah tempat dari panitia di tempat konser dari yang semula dipasang di berbagai tempat penjualan tiket. "Masa saya mau nonton speaker," kata Ipung (33) yang sudah masuk ke tempat festival dan keluar lagi mencari panitia untuk meminta klarifikasi.
Kehebohan ini ternyata menjalar. Tidak hanya satu dua orang saja melainkan hampir seluruh penonton dari kelas festival dari sayap kanan keluar lagi dari dalam tempat konser. "Di denah itu, festival di sebelah VVIP. Masih di depan panggung. Sekarang pandangan kami malah tertutup speaker. Mau lihat apa?" tanya Ijop (35), penonton lainnya.
Para penonton yang merasa kecewa ini akhirnya dipersilahkan masuk ke bagian VVIP. [SP/Adi Marsiela]