SUARA PEMBARUAN DAILY

Minggu Sengsara, Penegasan Komitmen Yesus

Oleh Pdt Agus Wiyanto

Minggu ini kita akan merayakan Pekan Suci atau kisah sengsara yang akan dialami oleh Tuhan Yesus Kristus untuk menegaskan komitmenNya menyelamatkan manusia. Dimulai dari Minggu Palmarum, Kamis Putih, Jumat Agung dan Minggu Paskah. Peristiwa penting yang dikenang dalam Minggu Palma adalah kunjungan istimewa Yesus bersama dengan kedua belas muridnya ke Yerusalem untuk memberikan diri secara total, sampai mati di kayu salib.

Dalam konteks Pekan Suci, Minggu Palma dipahami sebagai kisah pengantar terhadap peristiwa yang akan dialami Yesus menjalani masa sengsara. Orang yang menyambut Yesus akan berubah sikap seratus delapan puluh derajat. Mereka yang semula menyambutNya, akan berganti menolak tetapi Yesus tidak gentar menghadapinya. Dengan terus terang, Yesus menjelaskan apa yang akan menimpa DiriNya. Yesus akan diserahkan kepada imam kepala dan ahli taurat dan dihukum mati, tetapi pada hari yang ketiga akan dibangkitkan Allah melintasi alam kubur. Para murid dikuatkan supaya tidak usah khawatir menghadapi realitas yang bakal terjadi.

Simbol pekan suci ditandai dengan melambaikan daun palma. Mengiringi Yesus masuk kota Yerusalem dengan mengendarai seekor keledai muda (Mark 11:70). Keledai adalah simbol kedamaian (Zak 9:9), bukan dengan kuda perang yang gagah perkasa dan kuat. Dalam situasi waktu itu, banyak orang yang datang untuk menghamparkan pakaiannya di jalan, dan ada orang menyebar ranting-ranting sebagai tanda pengakuan dan penghormatan terhadap seorang raja (2 Raj 9:13). Benarkah mereka menyambut Yesus sebagai Raja dengan hatinya? Kalaupun orang banyak yang mengelu-elukan Yesus dengan meriah, mereka mengungkapan Hosyi'ah-nna yang dikaitkan dengan pengharapan akan kedatangan Mesias yang mereka nantikan, mengertikah mereka, bahwa Mesias harus menderita dan mati, seperti biji gandum yang di tanam untuk mengeluarkan benih kehidupan yang baru?

Sekalipun manusia yang mengiringi dapat berubah, Yesus terus maju pantang mundur, apa yang sudah ditegaskan dalam prinsipnya terus Dia dijalani, walau nanti Dia akan dikhianati muridNya.

Kamis Putih

Peristiwa yang dikenang dan direnungkan dalam nuansa Kamis Putih adalah perjamuan terakhir Yesus bersama para muridNya, sebelum Dia diserahkan (Markus 14:22-25). Pada peristiwa perjamuan terakhir itu, Yesus melakukan 2 tindakan simbolis yang penting : yaitu pemberian makanan dan minuman dan pembasuhan kaki Para MuridNya.

Dia sudah memberikan teladan indah untuk dilaksanakan, Yesus sebagai guru dan Tuhan telah melayani kita. Maka kita sebagai muridNya dipanggil juga untuk saling melayani. Episode selanjutnya Yesus dibawa ke taman Zaitun, suatu tempat bagi Yesus untuk bergumul, membulatkan tekad dan niatnya. Siap memikul tugas yang maha berat dari Allah yang diletakkan di bahuNya. Ia pun mengajak para muridNya, turut serta mendampingi pergumulan Yesus, ketiga muridNya tertidur, dan membiarkan Yesus berjuang seorang diri. Dalam taman Getsemani Yesus berdoa tiga kali dan diakhiri dengan pekik kemantapan: siap menyongsong Salib. Yesus sudah tahu saatNya akan tiba untuk beralih dari dunia ini kepada BapaNya (Yoh 13:1) melalui tangan orang berdosa yang meyalibkanNya (Mar 14:41) Dalam doa ini Yesus menegaskan kemantapan hatiNya dengan lantang Dia mau menujukkan ketaatan total kepada Allah. Kita diajak mengikuti teladanNya, dengan membaharui komitmen kita sebagai muridNya.

Jumat Agung

Menggambarkan episode yang panjang, dengan prosesi drama penyaliban Yesus untuk menebus dosa manusia. Kisah yang dikenang dan diangkat dalam nuansa ini adalah kisah penangkapan Yesus, pemeriksaan di hadapan Mahkamah Agama yang mandul, pengadilan di hadapan Pontius Pilatus, sang penguasa yang tidak dapat memutuskan dengan kacamata keadilan. Demi untuk melanggengkan jabatan yang telah disandangnya dan mempertahankan posisi aman kedudukannya, maka Pilatus menjual kebenaran dengan mencuci tangan.

Orang banyak yang dipolitisasi, seolah menyatu dengan skenario bahwa Yesus harus dihukum mati, sehingga nyata dalam tragedi sejarah orang yang nyata tidak bersalah dihukum mati dengan cara disalibkan, cara yang paling keji, tergantung di antara para penjahat. Itu semua merupakan jalan untuk memuluskan sekaligus menghantar Yesus di salib di bukit Golgota. Namun teladan indah Yesus muncul di sana : pada saat darahNya yang tercurah dan daging yang terkoyak, mewujudkan kasih agape untuk manusia. Dengan mengatakan "ampuni mereka yang tidak mengerti apa yang mereka perbuat". Tataplah mataNya, mata Yesus yang bening, di sana hanya terkaca segala yang sempurna, yaitu cintaNya yang diberikan untuk manusia.

Penulis adalah rohaniwan


Last modified: 15/3/08