SUARA PEMBARUAN DAILY

Impor Kedelai Brasil Dibuka

Dok SP - Anton Apriyantono

[JAKARTA] Indonesia akan segera membuka keran impor kedelai dari Brasil untuk menghindari monopoli kedelai impor.

"Impor saat ini sedang dijajaki oleh sejumlah swasta, termasuk Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin)," kata Menteri Pertanian, Anton Apriyantono di Jakarta, Jumat (14/3) malam, seusai berkunjung ke Brazil.

"Koperasi berkepentingan dengan pasokan kedelai impor, mengingat selama ini para pengrajin tahu tempe sangat terganggu usahanya akibat harga yang sangat fluktuatif," ujar Dirjen Tanaman Pangan Deptan, Sutarto Alimuso, di tempat yang sama.

Menurutnya, kualitas kedelai Brazil tidak kalah dari kedelai Amerika dan ukurannya pun seragam. Dari sisi pemerintah, akan dilakukan kerja sama riset, mulai dari plasma nutfah, produksi benih kedelai, hingga mengundang investasi swasta Brazil untuk pertanian kedelai di Indonesia.

"Kita akan sediakan lahan dalam bentuk estate atau hamparan luas, pihak Brazil penyandang dana dengan menggunakan benih kedelai Brazil," ujar Mentan.

Sebagai tindak lanjut kerja sama riset, nantinya akan dikembangkan benih unggul kedelai di Indonesia dengan bantuan teknologi dari Brazil.

Sedangkan untuk impor benih pada tahap awal, maupun produksi benih untuk tingkat lanjut, sudah ada sejumlah swasta Indonesia yang menjajaki kerja sama dengan swasta Brazil, antara lain group Artha Graha.

Sebagai imbal balik, pihak Brazil akan mengimpor produk perkebunan Indonesia secara langsung, tidak lagi melalui pihak ketiga. Komoditas itu antara lain kakao, kopi, CPO, teh, dan rempah-rempah.

Sementara itu, Sutarto mengatakan, di dalam negeri saat ini sudah dijajaki soybean estate di Indonesia Bagian Timur, antara lain di Kupang NTT, Pulau Sumba NTB, dan Merauke Papua. "Kita harapkan, ke depan kedelai ditanam di hamparan luas ribuan hingga jutaan hektare," katanya.

Sebagai perbandingan, di Brazil setiap hamparan dikelola koperasi beranggotakan petani. Setiap petani mengelola 300 hektare. Dengan keuntungan US$ 200/hektare, setiap petani berpenghasilan US$ 60.000 setiap kali panen. Hal-hal seperti ini yang akan kita tiru dan kembangkan, agar petani sejahtera." ujar Sutarto.


Bioenergi

Indonesia juga akan bekerja sama dengan Brazil mengembangkan bioenergi, baik bioethanol berbasis tebu maupun biofuel dari biji jarak. Kerja sama yang dikembangkan, baik antarswasta kedua negara atau bersifat business to business atau kerja sama bilateral kedua negara (G to G). Kerja sama G to G dilakukan dalam bentuk kerja sama riset dan pengembangan teknologi.

Menurut Mentan, Brazil merupakan negara yang paling berhasil mengembangkan bioethanol dari tebu, yang dirintis sejak 25 tahun lalu. Di Brazil, industri berbasis tebu menghasilkan tiga jenis produk sekaligus, yakni gula, ethanol, dan biomassa untuk menghasilkan listrik.

"Saat ini, harga ethanol di Brazil jauh lebih murah dibandingkan bensin, sehingga masyarakat dengan sendirinya lebih memilih ethanol," ujar Mentan.

Menurut Mentan, saat ini ada beberapa swasta, antara lain RNI yang sudah menjajaki kerja sama dengan pihak swasta Brazil.
Selain bioethanol, kerja sama mengelola biofuel dari biji jarak juga sudah disepakati, di mana Indonesia akan membantu Brazil dalam hal riset, pengembangan plasma nutfah, dan masalah hama penyakit tanaman. [L-11]


Last modified: 15/3/08