
Sabam Siagian
ercakapan di kantor atau di tempat kerja lainnya, Kamis (13/3), pagi lalu, the morning after hujan deras Rabu siang sampai malam, sehingga menimbulkan banjir di sejumlah lokasi strategis di Ibu Kota RI ini, kira-kira dapat disimpulkan intinya. "Ee gile bener, gue macet empat jam semalam di arteri Pondok Indah...." "Gue apa lagi, masak ke TB Simatupang enam jam. Ke mana sih itu gubernur yang kita pilih...." Biasanya disusul ketawa geli sendiri. Teknik pengamanan manusia Indonesia masa kini supaya jangan sampai tertekan oleh rasa putus asa karena tidak melihat jalan keluar atau pun harapan dari suatu dilema adalah ketawa sendiri.
Pengelabuan psikologis ini agaknya telah menyesatkan para pengamat asing. Hal itu dicerminkan dalam pidato perpisahan Duta Besar Kerajaan Inggris Charles Humphrey, Selasa malam lalu, dalam resepsi di tempat kediamannya di Jalan Teuku Umar. Ia telah bertugas di Jakarta selama empat tahun. Dia dikenal sebagai seorang diplomat yang tekun bekerja, sabar, dan selalu ramah. "Ke mana pun saya berkunjung di negara kepulauan yang luas ini saya sungguh terkesan oleh sikap selalu gembira yang di- perlihatkan Bangsa Indonesia. Kalian mampu merenggut keping kebahagiaan yang ada...."
Entah di mana kepentingan kebahagiaan yang masih tersedia Rabu malam itu ketika beratus ribu warga Ibu Kota Republik ini terjebak dalam kemacetan lalu lintas yang serba padat dan meluas. Untunglah penulis kolom ini "hanya" menghabiskan waktu sekitar dua jam dengan mobil dari Hotel Sultan menuju rumahnya di kawasan Cipete Selatan. Untung ada pengemudinya. Dan untung pula tampak beberapa polisi di persimpangan luas dekat Gedung Kejaksaan Agung. Meskipun mereka hanya berdiri dan melambai-lambaikan tangannya, namun kehadiran mereka telah menekan nafsu sementara para pengemudi potong-memotong supaya dapat maju beberapa meter.
*
Laporan media cetak Kamis (13/3) sehari setelah hujan deras itu memberikan gambaran jelas betapa sebagian besar Ibu Kota Republik Indonesia praktis lumpuh, karena berpuluh ribu kendaraan bermotor macet. Atau bergerak setapak demi setapak. Koran Tempo melaporkan titik-titik kemacetan di kawasan Senayan, Kebayoran Baru, Kebayoran Lama, Cipulir, dan Ciledug. "Ratusan kendaraan terjebak macet setelah berebut ruas jalan untuk menghindari genangan air setinggi 50 cm. Genangan terjadi juga di kawasan pusat niaga Sudirman dan Thamrin.
Harian Suara Pembaruan, karena lokasi kantornya berdekatan, melaporkan ratusan rumah di kawasan Cawang, Kampung Melayu sampai Bukit Duri di sepanjang Kali Ciliwung terendam air hingga ketinggian tiga meter karena luapan air kali tersebut.
Harian Kompas mengobservasi "kemacetan parah di Jakarta Pusat". Antrean panjang kendaraan terjadi di sekitar Segi Tiga Senen hingga Jalan Matraman Raya. Sebuah peta berwarna menunjukkan kawasan Jakarta yang rawan banjir.
Kenapa lalu lintas praktis macet total di sepanjang arteri menuju Pondok Indah, rupanya disebabkan oleh terowongan yang belum lama selesai tergenang air sampai kira-kira satu meter.
Apa yang saya amati pada wajah para warga Rabu malam itu adalah suatu sikap pasrah sambil secara berhati-hati mengemudikan kendaraannya supaya jangan sampai tabrakan ataupun pergesekan.
*
Beberapa catatan agaknya dapat disampaikan berdasarkan gambaran suram, baik berdasarkan pengalaman pribadi maupun sesuai pelaporan sejumlah media cetak. Pertama, di salah satu ruangan di Balai Kota agaknya ada yang disebut Crisis Centre (kita pandai memberikan nama-nama yang serba hebat) dengan peta ibu kota Jakarta yang diperinci. Tentunya lengkap dengan titik-titik rawan yang tergenang air.
Apakah sekarang sedang dilakukan pengkajian, apa yang menyebabkan genangan air di suatu lokasi tertentu? Umpamanya, terowongan lalu lintas di Jalan Arteri Pondok Indah itu. Apakah sudah diteliti, mungkin desainnya yang tidak beres. Katanya, pompa air tidak jalan. Kenapa tidak dicek secara berkala?
Konkretnya, berdasarkan data yang dikumpulkan tentang situasi kondisi Rabu 13 Maret malm itu mesti dilakukan segera perencanaan dan usaha perbaikan supaya kasusnya jangan terulang lagi. Tentu tidak mungkin sekaligus. Lakukan secara bertahap, tapi terus diawasi pelaksanaannya sesuai rencana induk.
Kedua, tampak benar kalau ada polisi di suatu titik kemacetan maka meskipun tersendat, jalur kendaraan bergerak. Namun, belum tampak suatu operasi krisis di mana beratus polisi bertugas. Dan paham, apa yang perlu dilakukan. Rupanya ada apa yang disebut dalam bahasa Inggris "Traffic Management Centre" (beberapa media hanya menyebut singkatannya, seakan-akan para pembaca segera tahu maknanya) Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya yang bertugas mengawasi derap perkembangan lalu lintas selama 24 jam.
Harian Seputar Indonesia memberitakan, Perwira Siaga TMC (sekarang Anda tahu "kan maknanya?) Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, AKP Muliana, menyampaikan hingga pukul 20.00 WIB Rabu malam itu arus lalu lintas di beberapa ruas jalan padat merayap, terutama di wilayah Jakarta Selatan. "Menurut dia, pihaknya sudah berkoordinasi dengan kepolisian di masing-masing wilayah untuk menerjunkan anggotanya ke lapangan guna mengatur kemacetan." Demikian berita tersebut.
Kecuali sejumlah kecil polisi yang tampak, kuat perkiraan kita bahwa tidak ada suatu rencana darurat atau contingency plan yang memobilisasi secara maksimal kesatuan-kesatuan polisi ke titik kepadatan untuk mengatur lalu lintas. Rencana itu seyogyanya pada tahap kegawatan tertentu (situasi kondisi Rabu malam itu sudah mencapai tingkat gawat) ikut mengerahkan para petugas ketentraman/ketertiban, supaya mereka jangan hanya tahu mengusir dan mengintimidasi pedagang kaki lima saja.
Kesan harus dihilangkan bahwa pada saat-saat krisis seakan-akan tidak ada struktur pemerintahan di Ibu Kota RI ini yang mengatur berjuta warga supaya jangan sampai timbul anarki.
Ketiga, kita tidak mau terlibat secara terperinci dalam perdebatan tentang urgensi perbaikan jalan-jalan di Ibu Kota RI. Singkatnya, pekerjaan itu harus dilakukan segera setelah musim hujan mulai mereda. Sekali ini kualitas perbaikan harus diawasi secara teliti. Dananya harusnya transparan dan mesti ada. Seperti ditandaskan oleh Supriansa, Direktur Eksekutif Indonesia Monitoring Centre, para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta harus diingatkan bahwa tugas mereka adalah memperhatikan kepentingan masyarakat. Maksudnya, supaya pengesahan dana-dana yang diperlukan untuk pembangunan Jakarta jangan ditahan-tahan dengan berbagai alasan.
Semuanya ini erat kaitannya dengan kepemimpinan Gubernur Fauzi Bowo. Kita belum mau sekritis Rakyat Merdeka yang berkesan "sejak dipimpin Fauzi Bowo Jakarta terus dilanda berbagai masalah. Dari mulai banjir, pembangunan jalur busway yang bikin macet, parahnya kerusakan jalan, dan seterusnya". Menurut Supriansa yang dikutip di atas "masyarakat mempunyai hak mempertanyakan kinerja Gubernur Fauzi Bowo yang dianggap tidak becus".
Kita ingin bersikap fair dan memberikan kesempatan kepada Pak Gubernur yang baru ini. Tapi, dia juga patut memperlihatkan sikap "pede" sebagai tokoh pemimpin yang dipilih langsung. Dan perlu lebih sering tampil di tengah-tengah masyarakat ketika timbul situasi krisis.
Alangkah baiknya, andaikata Rabu malam itu para warga yang berusaha menekan rasa kesalnya terjerat dalam kemacetan, tiba-tiba melihat Gubernur Bang Foke keliling berjabatan tangan sambil mengucapkan kata-kata pelipur hati. Paling sedikit akan muncul rasa tenteram bahwa Ibu Kota RI ini memiliki pemimpin yang menunjukkan rasa solidaritasnya dengan penderitaan para warganya.
Penulis lahir dan dibesarkan di Jakarta