SUARA PEMBARUAN DAILY

Angkat Besi, Primadona Baru Olimpiade Beijing?

Pengantar

Sejak Januari 2008, 24 atlet yang lolos Olimpiade dari enam cabang olahraga sudah masuk dalam pemusatan latihan nasional (Pelatnas). Kontingen mini Indonesia ini dipersiapkan dengan misi utama mempertahankan tradisi meraih medali emas. Tentu, cabang olahraga yang diharapkan dapat mempertahankan tradisi itu adalah bulutangkis. Bisakah Indonesia memecahkan tradisi itu dengan menambah medali emas di luar cabang bulutangkis? Untuk itu, wartawan SP Mike Wangge menurunkan satu tulisan yang menyoroti tentang kemungkinan Indonesia bisa meraih medali emas dari cabang yang lain, yaitu dari cabang angkat besi.

Betulkah cabang angkat besi akan menjadi primadona baru bagi kontingen Indonesia, selain bulutangkis di arena Olimpiade XXIX Beijing Agustus 2008 mendatang?. Pertanyaan ini dipastikan akan dijawab dengan kata, "ya", oleh sebagian besar pengamat angkat besi nasional.

Kata primadona yang berarti menjadi yang utama. Bila pada Olimpiade XXIX di Beijing angkat besi baru disebut menjadi primadona, atau menjadi yang utama, berarti pada Olimpiade sebelumnya cabang ini belum dihitung telah menjadi primadona.

Meskipun cabang angkat besi telah mempersembahkan medali bagi Indonesia pada dua Olimpiade terakhir (Sydney tahun 2000, dan Athena 2004), tetapi baru pada Olimpiade Beijing cabang ini masuk dalam kategori tersebut, menjadi primadona bersama bulutangkis di Olimpiade Beijing nanti. Ini disebabkan kedua-duanya, pada Olimpiade tersebut memiliki harapan, dan peluang untuk dapat mempersembahkan medali emas.

Benarkah angkat besi bisa mempersembahkan medali emas di Olimpiade Beijing Agustus 2008? Dari mana prediksi itu dihitung? Perhitungan inilah yang akan dilakukan dalam tulisan ini.

Selama ini, cabang angkat besi Indonesia baru bisa mempersembahkan medali perak. Medali perak dipersembahkan oleh Lisa Rumbewas pada Olimpiade Sydney tahun 2000. Pada Olimpiade Athena 2004, kembali lifter asal Papua itu mempersembahkan medali perunggu. Selama hampir satu dasawarsa, kekuatan prestasi angkat besi Indonesia ada di bagian putri. Namun belakangan ini, prestasi lifter putri nyaris tidak "bergigi" lagi.

Prestasi sekarang ini justru pindah ke bagian putra. Saat ini Indonesia memiliki dua lifter yang prestasinya cukup mengejutkan dunia. Keduanya adalah Eko Yulianto Irawan (19 tahun), dan Triyatno (21 tahun). Keduanya dari Kalimantan Timur.

Eko Yullianto Irawan yang turundi kelas 56 kg misalnya, saat ini tercatat sebagai lifter terbaik dunia. Total angkatannya adalah 284 kg. Ini adalah hasil SEA Games 2007 lalu.

Total angkatan tersebut menempatkan Eko Yulianto Irawan pada peringkat pertama dunia. Peringkat kedua ada di tangan lifter dari Korea Utara, Cha Kum Chol dengan total angkatan 283 kg. Di tempat ketiga lifter dari Tiongkok, LI Zheng dengan total angkatan 283 kg.

AP/Vincent Thian

Pebulutangkis Taufik Hidayat meraih medali emas Olimpiade Athena 2004. Cabang bulutangkis menjadi andalan Indonesia untuk meraih medali sejak Olimpiade di Barcelona 1992.

Peluang Besar

Dengan prestasi tersebut, Eko Yulianto Irawan memiliki peluang yang sangat besar untuk dapat meraih medali emas di kelas 56 kg. Namun bukan berarti Eko, dan dua lifter terbaik dunia lainnya itu, bertengger sendirian tanpa pesaing.

Ketiganya akan mendapatkan persaingan keras dari beberapa lifter muda usia lainnya, seperti Hoang Anh Tuan (23 tahun) dari Vietnam. Hoang Anh Tuan mencatat total angkatan 281 kg. Lee Jong Hoon (22 tahun ) dari Korsel dengan total angkatan 277 kg, Ri Kyong Suk dari Korea Utara dengan total angkatan 272 kg , dan lifter dari Kuba Alvarez sergio dengan total angkatan 279 kg.

Tidak hanya Eko Yulianto Irawan saja yang mencatatkan diri sebagai lifter peringkat utama dunia. Di Kelas 62 kg, tercatat nama Triyatno. Prestasinya pun cukup luar biasa. Total angkatan yang dilakukan saat tampil di Kejuaraan Dunia Junior Juni 2007 lalu adalah 300 kg.

Angkatan tersebut menempatkan Triyatno pada posisi peringkat empat dunia. Ini berdasarkan pada rekapitulasi hasil kejuaraan dunia di Chiang Mai 2007. Berdasarkan rekapitulasi itu, peringkat pertama berada di tangan lifter dari Tiongkok, Yang Fan dengan total angkatan 315 kg. Peringkat kedua adalah Im Yong Su (Korut) dengan 315 kg. Peringkat ketiga Filev Ivaylo dari Bulgaria dengan prestasi 301 kg. Sedangkan Triyatno berada di urutan keempat dengan 300 kg.

Karena persaingannya tidak sedikit, maka persiapan agar keduanya bisa meraih medali emas bukan hal yang muda. Faktor penentunya ada pada manajemen penanganan terhadap kedua lifter tersebut Persyaratan untuk merebut medali emas sudah dipenuhi oleh keduanya dengan total angkatan yang dibuatnya.

Maka yang diperlukan adalah pertama, pelatih yang menanganinya haruslah pelatih yang punya wawasan kepelatihan yang cukup baik, dan terbukti berhasil meningkatkan prestasi lifter secara siknifikan.

Untuk Eko, misalnya, dengan prestasi 284 kg, berarti pada Olimpiade nanti dia harus bisa ditargetkan untuk mengangkat barbel dengan total minimal 295 kg, atau tambahan berat sekitar 11 kg.

Sama halnya dengan halnya dengan Triyatno di kelas 62 kg. Dengan prestasi total angkatan seberat 300 kg, lifter berusia 21 tahun ini harus bisa mengangkat barbel seberat minimal 317 kg, atau lebih berata 17 kg dari prestasi angkatan sekarang.

Ini baru bisa diharapkan memperleh medali emas.

Kurang dari itu agak berbahaya. Sebab, semua lifter di dua kelas tersebut, rata-arata masih berusia sangat muda. Umumnya usia mereka rata-rata tidak lebih dari 23 tahun. Ini yang berbahaya. Pada usia seperti itu, kemampuan mengangkat barbelnya sangat eksplosif.

Kedua, selain ditangani oleh pelatih yang sangat berpengalaman, keduanya, perlu didampingi oleh tim psikolog yang handal. Tidak sekadar seorang psikolog dengan kemampuan rata-rata atau psikolog yang baru belajar menjadi psikolog olahraga.

Sebab, para lifter pelatnas saat ini, khususnya keduanya yang diandalkan itu, membutuhkan kemampuan mental games yang luar biasa untuk dapat menghadapi lifter-lifter terbaik dunia seperti yang terdaftar dalam peringkat di kelasnya masing-masing. Ini hanya bisa dilakukan oleh tuntunan seorang psikolog yang handal.

Biasanya, di atas kertas, lifter Indonesia jauh lebih baik prestasinya, tetapi begitu turun di lapangan, justru minder duluan. *


Last modified: 14/3/08