![]()
SP/Adi Marsiela
Lapak penjual daging sapi di Pasar Baru, Bandung, Jawa Barat, kosong melompong karena aksi mogok jualan para pedagang, Kamis (13/3). Aksi mogok yang rencananya berjalan dua hari ini dilakukan agar harga daging sapi lokal bisa bersaing dengan harga daging impor yang lebih murah.
[BANDUNG] Ratusan pedagang daging sapi di Kota Bandung, Jawa Barat, mogok alias tidak berjualan, Kamis (13/3). Aksi yang sudah disepakati sebagian besar anggota Asosiasi Pedagang Daging Sapi (Apdasi) Kota Bandung ini tidak berjalan serempak. Masih ada beberapa orang yang menggelar dagangannya seperti di Pasar Baru.
"Buat saya mogok ini tidak efektif," papar Dhani Herlambang yang ditemui di Pasar Baru, Bandung, Kamis (13/3).
Penyalur daging sapi Hegar Jaya ini mengaku memotong dan menjual empat ekor sapi di hari pertama pemogokan itu. "Kami sejak minggu kemarin sudah menaikan harga," katanya.
Dhani yang menyalurkan dagingnya ke beberapa pengecer di Pasar Baru mengungkapkan, aksi mogok hanya bakal merugikan konsumen.
Ketua Apdasi Jawa Barat, Dadang Iskandar mengatakan aksi mogok yang bakal dilakukan hingga Jumat (14/3) ini dilakukan untuk meningkatkan harga daging di pasaran.
Selama ini usaha penjualan daging sapi lokal di Kota Bandung mengalami kerugian yang cukup besar. Kalau tidak ada penyesuaian harga di tingkat konsumen atau pengecer, kerugian akan berjalan terus.
Dadang memberi contoh, untuk memotong satu ekor sapi, dia harus menanggung kerugian antara Rp 200.000 - Rp 400.000. Volume penjualan sapi lokal di Kota Bandung mencapai 250 ekor per hari.
Dengan mengajak mogok, para pedagang di enam pasar tradisional, Pasar Baru, Kosambi, Andir, Ciroyom, Caringin, dan Sederhana, Dadang berharap harga daging sapi bisa menjadi lebih baik.
"Seperti diketahui daging impor di supermarket Rp 39.500 per kilogram (kg), sedangkan kami beli daging lokal beserta tulang-tulangnya, karkas, Rp 41.000 per kg. Jelas itu persaingan tidak sehat, merugikan anggota kami," katanya.
Terkait masih adanya pedagang yang tidak mengikuti ajakan untuk mogok, Dadang menuturkan pro dan kontra itu sebagai hal yang biasa. [153]