[JAKARTA] Sebagian besar masyarakat Indonesia menghendaki tampilnya tokoh baru sebagai Presiden pada Pemilihan Presiden 2009. Tokoh baru untuk memimpin tersebut adalah figur yang jujur dan tegas. Masyarakat lebih menginginkan tokoh baru yang dapat menjawab tantangan dan masalah bangsa.
Demikian salah satu poin hasil survei yang dilakukan oleh Pusat Kajian Strategi Pembangunan Sosial dan Politik (Puskapol) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Indonesia (UI) di sejumlah kota di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Hasil survei tersebut disampaikan Direktur Operasional Puskapol Fisip UI Iberamsjah MS, di Jakarta, Kamis (13/3).
Survei tersebut menggunakan metodologi multistage random sampling dengan batas kesalahan (margin of error) sebesar lima persen. Survei dilakukan pada 7-17 Februari 2008 di enam provinsi yakni Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan, melibatkan 2.400 responden dengan menggunakan teknik wawancara tatap muka dan kuesioner.
Ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah itu di dalam menangani masalah ekonomi, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat, menangani masalah kemiskinan dan pengangguran, masalah pendidikan dan kesehatan, serta lambannya bantuan pemerintah terhadap korban bencana alam di berbagai daerah di Tanah Air, katanya.
Sebanyak 87 persen responden menjawab, respons pemerintah dalam menangani masalah ekonomi tidak memuaskan, setelah itu penanganan masalah politik 66,07 persen, hukum 59,60 persen, sosial 56,16 persen, dan masalah keamanan 54,38 persen tidak memuaskan.
Sedangkan responden yang menyatakan sangat puas terhadap kinerja pemerintahan sangat kecil persentasenya. Untuk masalah ekonomi hanya 1,43 persen yang menyatakan sangat puas, sedangkan hukum 3,13 persen, keamanan 4,11 persen, sosial 2,14 persen, dan budaya 2,63 persen menyatakan sangat puas.
Tidak Percaya
Selain tidak puas terhadap kinerja pemerintah, tambahnya, masyarakat umumnya juga menyatakan makin tidak percaya terhadap partai politik, DPR dan DPRD. Fenomena golput/apatis menunjukkan tendensi yang semakin meningkat. Angka yang didapat berkisar antara 34,95 persen sampai 53,57 persen.
Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap partai politik DPR/DPRD dan pemerintah sudah berada pada tingkat yang paling rendah (hasil dari beberapa lembaga survei lain juga menunjukkan hal yang sama), katanya. [M-11]