amar jenazah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sepi. Paling tidak hingga pukul 01:00 WIB belum ada mayat yang datang. Enam dari 13 petugas pengantar jenazah yang bertugas pun terlihat santai. Asap rokok kretek terus mengepul dari mulut mereka, sekadar menghalau rasa dingin di wilayah Ibukota yang sejak beberapa jam lalu basah diguyur hujan.
Sesaat kemudian, bunyi sirene mobil jenazah meraung. Pintu pagar utama kamar jenazah dibuka. Beberapa orang turun dari mobil. Mereka semua diam. Terlihat sedih di raut wajahnya. Beberapa di antaranya menuju ruang tata usaha jenazah. Di ruang tunggu kamar jenazah, duduk seorang pria menggunakan jaket tebal warna hitam. "Nasib....nasib," keluhnya saat melihat mobil jenazah dari sebuah rumah sakit pemerintah di Bogor. Pian, sopir mobil pengantar jenazah RSCM itu mengeluh karena komisinya hilang malam itu.
"Ya, jaga malam biasa saya lakukan, karena sering datang mayat di saat seperti ini. Apalagi banyak kejadian tak terduga di malam hari atau subuh. Tetapi kalau yang datang mobil jenazah seperti ini, ya komisi kami hilang. Mereka punya sopirnya sendiri," ujarnya.
Mengantar mayat ke lokasi yang diinginkan pihak keluarga cukup menguntungkan, apalagi kalau itu sering terjadi. "Misalnya bawa mayat dari RSCM ke daerah Rawamangun, bayar Rp 150 ribu dan saya mendapatkan Rp 40.000. Sisanya ke bagian administrasi. Jarak paling dekat biayanya Rp 100.000, untuk saya Rp 30.000. Jadi saya mendapatkan uang dalam sekali antar mayat. Tetapi itu semua tergantung jarak tempuh. Kalo lebih jauh, ya lebih mahal," kata pria yang berusia 29 tahun itu.
Setelah selesai antar jenazah ke tempat tujuan, Pian mengatakan, dia harus balik lagi ke RSCM. Dalam satu mobil ada dua sopir. Satunya untuk jaga-jaga dan membantu kerja sopir yang pertama. "Setelah itu, ya nunggu giliran sambil tidur. Tidur pun dimana saja, tetapi harus tetap berada di sekitar kamar jenazah," kata Pian.
Ia mengaku, bekerja sebagai pengantar jenazah tidak mendapat gaji bulanan. Jika mau mendapatkan uang, para pengantar mayat atau yang sering disebut timer yang berjumlah 13 orang harus siap sedia di sekitar kamar mayat RSCM. "Tidak ada sistem shift-shift-an di sini. Kami bekerja berdasarkan nomor urut masing-masing. Saya nomor empat. Petugas timer saat ini giliran saya, berikutnya kawan nomor lima dan seterusnya. Tapi saat ini yang hadir cuma enam orang, karena yang lainnya su-dah pulang," ujarnya sambil mengisap kretek kesayangannya.
Penghasilan Berkurang
Diakui akhir-akhir ini penghasilannya berkurang. Mobil jenazah rumah sakit swasta semakin banyak. Selain itu, dalam sehari, penghasilannya juga tidak tentu, bisa banyak dan bisa juga sedikit, bahkan tidak dapat sama sekali. "Pernah satu hari saya tidak kebagian mengantar mayat, padahal saya sudah stand by di sini dari pagi sampai malam. Untuk makan sendiri saja susah, apalagi untuk anak istri," katanya sambil garuk-garuk kepala.
Pria yang tinggal di Depok itu mengaku sudah bekerja sebagai timer RSCM selama tiga setengah tahun. Tugasnya mengantar jenazah yang baru saja meninggal. Jarang membawa jenazah yang sudah berminggu-minggu apalagi berbulan-bulan menginap di RSCM. "Saya biasa kerja dalam keadaan sepi di malam hari dan tidak ada perasaan takut seperti yang dikuatirkan orang-orang. Bahkan saya harus ambil mayat dari Instalasi Gawat Darurat (IGD) di tengah malam sendirian, biasa-biasa saja tuh, apalagi harus memegangnya karena harus dipindahkan untuk bantu-bantu staf lain untuk angkat mayat. Itu coba lihat, ada bungkusan kain hijau yang berisi mayat bayi. Baru saja saya ambil dari IGD," katanya sambil menunjuk ke suatu tempat.
Sebelumnya, Pian bekerja di pabrik produksi kertas yang biasa digunakan untuk struk belanja di kasir-kasir. Namun, ia terkena pengurangan tenaga kerja. "Saya coba cari kerja lain di Jakarta tapi sulitnya minta ampun. Lalu ada kawan yang ajak saya kerja di sini," jelasnya.
Tetapi ia bersyukur karena istrinya baru saja diterima kerja di RSCM dan mendapatkan gaji bulanan. Artinya, bisa membantu dia mengatasi kekurangan uang, apalagi anak mereka segera masuk Taman Kanak-Kanak (TK). Pian kerja sampai pagi demi menghidupi keluarganya. "Yang penting anak saya harus sekolah dan menjadi pintar. Saya ingin nantinya ia akan sukses," katanya bangga dan penuh harapan. [Hendro Situmorang]