** missed drop char **Saya hidup tak pernah bahagia. Tapi meskipun miskin, saya akan tetap menjaga Mas Juanda sampai kapan pun." Itulah catatan singkat pada secarik kertas yang ditulis Iis Maya (20), Rabu (12/3), sehari sebelum meninggal. Iis yang tinggal bersama suami dan seorang anaknya di rumah kontrakan di Jalan Hasyim Ashari, Gang Sasak, RT 04/03, Kelurahan Poris Plawad Indah, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, meninggal dunia, Kamis (13/3).
Konon wanita muda itu meregang nyawa karena tak punya uang berobat ke puskesmas. Ia menderita sakit di tenggorokan sejak tiga bulan lalu. Akibatnya, wanita itu kesulitan menelan makanan dan minuman. Iis, warga miskin itu ditemukan sudah tidak bernyawa di dalam rumah oleh suaminya, Juanda (25), yang baru pulang dari pasar sebagai buruh angkut ikan.
Menurut Saodah (28), saudara sepupu Iis, adiknya itu tidak pernah menceritakan perihal penyakit yang dideritanya. Ia seolah membiarkan penyakit yang dideritanya seorang diri. Dia juga tidak mengeluh, mungkin karena tahu suaminya tak mampu. Sakitnya yang sudah berlangsung tiga bulan bertambah parah sejak tiga hari terakhir.
Kematian Iis, baru diketahui Juanda sekitar pukul 07.30 WIB "Waktu saya masuk rumah, istri saya berbaring dengan posisi telungkup, saya coba memanggil, tapi enggak dijawab. Begitu saya balik ternyata istri saya sudah meninggal," kata Juanda seperti ditirukan Saodah.
Sebelumnya laki-laki berperawakan sedang ini mengira istrinya terlelap tidur. Suami istri ini tinggal di sebuah kamar kontrakan berukuran 4 x 6 meter. Di sekitar kontrakan itu banyak terdapat genangan air. Selain itu, puluhan ekor ayam juga tampak berkeliaran. Kamar kontrakan itu hanya dikelilingi tanah lapang yang minim air bersih.
Menurut Saodah, kondisi ekonomi adik sepupunya itu memang menyedihkan. Mereka sangat miskin. Sebagai buruh angkut ikan, suaminya tidak mampu membeli bahan makanan pokok, apalagi untuk berobat.
Sakit yang diderita Iis, kata Saodah, adalah sakit di bagian tenggorokan. Akibatnya, selama tiga hari terakhir, wanita malang itu tidak bisa makan dengan normal. Beberapa bulan lalu, Iis pernah mengeluh sakit di bagian tenggorokan, tetapi Juanda tidak membawa Iis ke puskesmas karena tidak memiliki uang.
Meskipun termasuk kategori keluarga tidak mampu, Juanda tidak pernah melapor kondisinya ke kantor kelurahan, karena tidak mengetahui prosedur mendapatkan kartu pengobatan gratis di puskesmas atau di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat.
Sementara itu, pemilik rumah kontrakan, Haji Sini (65) mengatakan, Juanda tinggal di kontrakannya sejak tujuh bulan lalu dengan tarif sewa Rp 110 ribu per bulan. Sini mengaku korban beberapa kali menunggak kontrakan.
Di tempat terpisah, petugas Puskesmas Cipondoh yang mengunjungi rumah korban sesaat sebelum korban dibawa untuk dimakamkan ke Cirebon, dr. Mian mengungkapkan, selama ini puskesmas tidak pernah merujuk pengobatan gratis bagi korban ke RSU, karena tidak pernah ada laporan dari aparat kelurahan maupun kecamatan.
Camat Cipondoh, Sachrudin mengatakan, korban tidak mendapatkan kartu gakin gratis pengobatan karena statusnya sebagai warga pendatang sehingga tidak tercatat sebagai gakin di kelurahan atau kecamatan. Meskipun demikian, mestinya ia tidak khawatir soal pengobatan di puskesmas jika punya Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Iis meninggalkan suami, Juanda, dan seorang anak laki-laki bernama Ramadani (3). Jasad korban langsung dibawa ke daerah asalnya di Cirebon, Jawa Barat hari itu juga. [SP/Dewi Gustiana]