SUARA PEMBARUAN DAILY

Pola Konsumsi Film Terus Bergeser

sp/ruht semiono

Selain menawarkan film-film menarik, bioskop Megaria 21 juga menyediakan fasilitas hiburan untuk para penonton.

[JAKARTA] Terintegrasinya ruang pertunjukan film dengan pusat perbelanjaan terus menjadi fenomena yang menarik, kata Budi Irawanto, staf pengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi, Fa-kultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

"Fenomena ini menarik karena hal ini membuat proses konsumsi film makin identik dengan pola konsumsi barang-barang konsumsi yang lain," kata Budi dalam diskusi bertajuk "Nasib Film Indonesia di Bioskop Indonesia" yang digelar di Jakarta, baru-baru ini.

Seperti dikutip Antara, Budi menjelaskan, kini sudah bermunculan bioskop yang menyebut dirinya "megaplex" dengan jumlah layar yang lebih banyak. Satu kompleks bahkan memiliki sekitar sembilan layar.

Lokasi bioskop, baik "megaplex" maupun "cineplex", kini terintegrasi dengan pusat perbelanjaan, sehingga film kian dijajakan sebagai komoditas seperti produk lain yang kuat dengan etalase serta tampilan yang dipermanis.

"Bioskop sekarang dilengkapi dengan etalase yang terus menarik, dengan niatan agar orang lebih lama dan merasa nyaman berlama-lama di bioskop," kata Budi.

Di sisi lain, Budi mencermati mulai banyak pengusaha bioskop yang menampilkan fasilitas layanan yang semakin memanjakan.

"Ritual menonton film sudah bergeser dari masa lampau, yang cuma orang datang, beli tiket, dan nonton. Sekarang orang bisa berlama-lama di bioskop, karena disediakan lobi tunggu yang nyaman dan ada pertunjukan musik," paparnya.

"Yang selama ini tidak banyak disadari adalah dampak dari perubahan bioskop terhadap muatan film Indonesia," ujar Budi.

Mengingat penonton terbanyak di bioskop adalah kalangan remaja usia 14-25 tahun, maka banyak film Indonesia yang memilih genre drama remaja.

"Atau jika mereka memilih genre horor, maka tema cerita yang diangkat adalah horor yang 'urban legend' atau film yang settingnya tentang masyarakat perkotaan," tambahnya.

Budi menengarai para produser dan pembuat film memang menjadikan remaja sebagai target pasar mereka, sehingga cenderung terjadi keseragaman genre dalam film-film Indonesia.

Manfaatkan 3D

Di sisi lain, semarak film yang dapat diunduh (download) dan kian keragaman sistem home movie dengan kualitas mendekati bioskop, Hollywood sebagai industri film kini meyakini pengalihan ke format 3D akan mampu membuat para calon penonton tetap membeli karcis di multiplex setempat.

Sebuah konsorsium yang terdiri atas beberapa studio besar Hollywood mengumumkan rencana mereka, Rabu, untuk mengubah bioskop senilai US$ 10.000 menjadi bioskop 3D.

Dreamworks juga tak mau ketinggalan dalam soal ini dan menyatakan bahwa mulai sekarang ini studio animasi terkemuka itu akan membuat semua filmnya dalam format 3D. Berbekal dengan lebih dari 30 film yang sudah diproduksi, langkah tersebut dipandang sebagai salah satu perkembangan yang paling menarik dalam sejarah Hollywood hingga sejauh ini.

"Langkah ini bisa disamakan dengan inovasi terbesar yang terjadi dalam bisnis perfilman sejak munculnya film berwarna 70 tahun silam," kata Kepala Eksekutif Dreamwork, Jeffrey Katzenberg, saat mengumumkan perkembangan ini pada pertemuan tahunan industri perfilman Showest.

"Para penonton pasti mau membayar dengan harga lebih tinggi bila kita memberi mereka pengalaman yang sangat bermutu," katanya.

Inkarnasi terakhir film The Journey to the Center of the Earth yang diusung dari novel klasik fiksi ilmiah Jules Verne sudah disebut-sebut sebagai film laris musim panas yang akan menerobos tembok 3D.

Para sutradara terkenal seperti James Cameron dan Tim Burton telah menggarap produksi 3D dalam karya mereka, dan tayang perdana komedi animasi Dreamworks yang berjudul Monsters vs Alien tentu saja menarik pengunjung untuk datang ke ShoWest.

Mereka berharap keberhasilan film laris remaja keluaran Walt Disney Pictures, Hannah Montana & Miley Cyrus: Best of Both Worlds Concert, merupakan bukti dari keampuhan konsep itu.

Film konser ini mampu mendatangkan pemasukan senilai 31 juta dolar pada pembukaan akhir pekannya pada 683 layar bioskop saja, atau hanya seperlima rilis secara luas, sehubungan anak-anak dan orang tua mereka rela mengantre dan membayar mahal harga tiket dan mau mengenakan kacamata 3D untuk menyaksikan bintang favorit mereka, Miley Cyrus atau Hannah Montana, beraksi.

Film 3D baru seluruhnya digital, sehingga memberikan fokus yang lebih tajam, warna yang lebih terang dan pengalaman seperti terjadi sebenarnya. Seluruh fitur ini merupakan daya jual utama teknologi 3D. [U-5]


Last modified: 14/3/08