[JAKARTA] Perum Bulog diminta tidak mempersoalkan mutu gabah petani untuk mengantisipasi jatuhnya harga. "Kuncinya pengamanan harga gabah ada di Bulog. Jangan persoalkan mutu gabah petani dulu," kata Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) Deptan, Djoko Said Damardjati di Jakarta, Jumat (14/3).
Hal itu dikatakannya menyusul harga jual gabah di tingkat petani saat ini di bawah harga pembelian pemerintah (HPP). Saat ini, kata dia, musim panen berlangsung pendek, hanya Maret-April. Pada bulan selanjutnya, produksi akan semakin menurun. "Karena itu, Bulog agar maksimal membeli gabah petani," ujarnya.
Saat ini, gabah petani dihargai Rp 1.800/kg atau 30 persen lebih rendah dari harga bulan lalu yang dibeli pada tingkat harga Rp 2.300/kg.
Sementara Dirut Perum Bulog, Musthafa Abubakar berjanji akan berupaya maksimal untuk menyerap gabah petani. Pihaknya juga sudah mengoptimalkan unit-unit penggilingan gabah milik Bulog agar bisa menampung gabah petani sebanyak-banyaknya.
Tahun ini, Bulog menargetkan dapat menyerap 2,4 juta ton beras petani. Mengenai mutu gabah, Bulog meminta Deptan lebih serius membenahi mutu gabah petani agar harga tidak merosot. Hingga saat ini, upaya Deptan memperbaiki mutu gabah masih perlu ditingkatkan. Selain itu, dengan mutu gabah yang rendah, tingkat kehilangan pascapanen masih sangat tinggi.
Potensi kehilangan gabah saat ini masih sangat tinggi, yakni sekitar 20 persen. Padahal, jika ditekan hingga hanya 10 persen saja, dalam setahun ada tambahan sekitar tiga juta ton beras. "Ini sangat signifikan untuk menghindari ketergantungan impor," katanya.
Sementara itu, pengamat pertanian Bustanul Arifin menilai, Deptan lamban mengantisipasi merosotnya mutu gabah petani yang terjadi setiap musim hujan tiba. Seharusnya, ada upaya untuk memperbaiki mutu gabah petani.
Kelambanan juga terjadi pada Bulog dalam menyerap gabah petani sehingga petani terpaksa menjual gabah ke tengkulak meski harganya di bawah HPP.
Bustanul menilai, koordinasi kedua lembaga sangat rendah, sehingga petani menjadi korban. Mereka terpaksa tidak bisa menikmati keuntungan.
Target
Sementara itu, Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Yogyakarta DIY mengaku sulit menyerap target pengadaan beras dalam negeri 2008 untuk DIY sebanyak 50.000 ton. Selain karena kualitas kadar air maksimum 25 persen yang sulit dipenuhi, petani juga cenderung menjual gabah mereka kepada pedagang.
Kepala Bulog Divre DIY, Murino Mudjono, di Yogyakarta mengatakan, saat ini Bulog DIY baru berhasil menyerap 1.600 ton beras. Meski menargetkan 50.000 ton, Murino mengaku tahun lalu Bulog DIY hanya mampu menyerap 34.000 ton beras.
Untuk pengadaan beras sebanyak itu, Bulog telah melakukan kontrak dengan sejumlah rekanan. Pada 4-10 Maret, Bulog bersama 27 rekanan berhasil mendapatkan 1.600 ton setara beras dari target 4.500 ton sepanjang bulan ini.
"Kita sudah merealisasikan kontrak pembelian sebesar 4.500 ton sampai Maret ini. Kita berharap rencana tadi bisa dipenuhi, bukan saja untuk memenuhi kebutuhan, tapi juga sebagai bagian dari peran kami untuk menjaga stabilitas harga. Jangan sampai saat musim panen raya harga gabah turun terlalu besar sehingga memberatkan petani," kata Murino.
Berdasarkan Inpres No 3/2007, pemerintah menetapkan HPP Rp 2.000/kg di petani atau Rp 2.035/kg di penggilingan untuk Gabah Kering Panen (GKP) dengan kualitas kadar air maksimum 25 persen dan kadar hampa 10 persen. Sedang HPP Gabah Kering Giling (GKG) Rp 2.575/kg di penggilingan atau Rp 2.600/kg di gudang Bulog.
Menurut Murino, Bulog membeli gabah dalam rangka mengamankan jatuhnya harga di bawah HPP. Pembelian gabah diharapkan dapat mendorong perbaikan kualitas beras serta mendorong penggilingan padi untuk berinvestasi pada pengeringan atau penggilingan padi modern.
Murino mengatakan, selain melakukan kerja sama rekanan, Bulog Yogyakarta juga telah menurunkan satuan tugas untuk langsung turun ke daerah-daerah yang belum tersentuh oleh rekanan dan pencairan uang langsung. Dikatakan, stok beras di Bulog Yogyakarta aman untuk tiga bulan ke depan. Pasokan beras untuk keluarga miskin (raskin) sudah tersedia 4.100 ton. [152/L-11]