SUARA PEMBARUAN DAILY

Sertifikasi Guru

Dokumen Palsu Bertebaran

[PALU] Sekitar 300 guru di Sulawesi Tengah (Sulteng) ketahuan memalsukan sejumlah persyaratan portofolionya untuk bisa lolos dalam program sertifikasi guru yang dicanangkan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Guru yang memalsukan data berasal dari tingkat TK, SD, SMP, SMA, dan SMK. Hal itu diungkapkan Ketua Panitia Pelaksana Program Sertifikasi Guru (PSG) Rayon 25 Universitas Tadulako (Untad) Palu, Asep Makpuda saat dihubungi SP, Selasa (11/3) di Palu.

Disebutkan, data yang dipalsukan, terutama sertifikat-sertifikat pelatihan/seminar. Caranya, sertifikat atas nama orang lain di fotokopi, lalu diganti dengan nama guru yang akan ikut sertifikasi. "Bahkan, ada piagam satya lencana karya satya difotokopi, lalu nama asli diganti dengan nama guru yang ingin ikut sertifikasi, dan nekat menulisnya dengan tangan," ujar Asep didampingi Jurait MSi, Ketua Divisi Humas PSG Untad.

Para guru yang diketahui memalsukan data, lanjut Asep, langsung dinyatakan tidak lulus sertifikasi. Untuk proses pembinaaan, mereka tetap mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat).

Pemalsuan dokumen tidak hanya terjadi di Palu. Seorang Kepala SMPN di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, yang meminta namanya tidak disebut mengakui sejumlah guru terpaksa membeli atau meminjam sertifikat seminar/lokakarya untuk memenuhi persyaratan portofolio.

"Kita juga tidak bisa menyangkal bahwa sertifikasi guru ini menimbulkan berbagai permasalahan di lapangan, seperti guru yang terpaksa meninggalkan tugas mengajar, hanya untuk mengejar sertifikat/seminar akibatnya pelajaran jadi terbengkalai. Bahkan sebagian guru mulai meminjam, bahkan membeli sertifikat-sertifikat seminar/lokakarya yang ditawarkan orang demi memenuhi persyaratan untuk mengikuti sertifikasi guru," katanya. [GAB/128]


Last modified: 12/3/08