SUARA PEMBARUAN DAILY

Gempa Besar Masih Ancam Sumatera

SP/Ruht Semiono

Warga mengais barang-barang yang masih bias dipergunakan di Kecamatan Lais, Bengkulu Utara, September 2007. Selain jalan sebanyak 1069 banguan di kawasa ini mengalami kerusakan dan 216 banguan rusak berat.

Warga yang bermukim di kawasan pantai barat Pulau Sumatera sepertinya harus meningkatkan kewaspadaan. Bencana gempa bumi yang kemungkinan disertai tsunami akan terus menjadi ancaman di masa-masa mendatang.

Bagi warga kota Padang di Sumatera Barat atau Muko-Muko di Bengkulu, saat ini mungkin sudah tidak asing lagi terhadap fenomena alam yang satu ini karena saking seringnya terjadi di daerah mereka.

Oleh sejumlah ahli, gempa-gempa di Sumatera bagian barat tergolong cukup berbahaya. Berbeda dengan karakteristik gempa di Jawa yang tergolong gempa dalam (> 300 kilometer), gempa-gempa di Pulau Sumatera dan sekitarnya tergolong gempa dangkal. Karena gempa dangkal, potensi merusaknya pun lebih besar.

Guru Besar Seismologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Sri Widiyantoro, mengatakan, karakteristik gempa Sumatera yang rata-rata dangkal disebabkan oleh subduksi lempeng Samudera Hindia yang landai.

Subduksi landai ini, katanya, kemungkinan disebabkan oleh usia lempeng yang menunjam di bawah Sumatera relatif muda dibandingkan dengan usia lempeng yang menunjam di bawah Jawa maupun Andaman.

"Hal lain yang barangkali juga berkontribusi terhadap subduksi landai ini adalah bahwa subduksi di sepanjang Sumatera adalah miring (oblique). Subduksi miring ini dapat dijelaskan oleh terjadinya tumbukan lempeng India dengan Eurasia sekitar 40 juta tahun yang lalu di mana lempeng Asia Tenggara ter-rotasi searah putar jarum jam dan membentuk Sumatera pada posisinya yang sekarang ini," ujarnya.

Dia juga menanggapi adanya isu atau informasi yang mengatakan, pulau-pulau di kawasan Kepulauan Mentawai bisa tinggal nama karena bakal adanya gempa yang sangat dahsyat yang akan terjadi di sekitar Mentawai.

Menurut Widiyantoro, isu tsunami yang akan menenggelamkan Mentawai agak berlebihan. Dia mengatakan, pendapat yang lebih relevan adalah gempa tektonik yang kuat akan terjadi dan berpotensi untuk membuat sebagian garis pantai mundur ke darat. Untuk Sumatera, lanjut Widiyantoro, yang harus juga diwaspadai adalah kemungkinan gempa di darat akibat pergerakan sesar besar Sumatera oleh desakan dari proses subduksi di muka busur sepanjang Pulau Sumatera.

Ketika ditanya apakah gempa-gempa di Sumatera bisa membawa dampak di Pulau Jawa khususnya Jakarta, Widiyantoro berpendapat, hal itu bisa saja terjadi tergantung di mana posisi sumber gempanya.

"Kalau terjadi di Sumatera bagian Selatan (dekat ke Jakarta) tentu akan berpotensi untuk membawa dampak besar," ujarnya.

Tingginya tingkat kerentanan gempa di Pulau Sumatera, menurut Widiyantoro, harus segera disikapi dengan cepat oleh pemerintah untuk menghindari jatuhnya korban dan kerugian yang semakin besar.

Dia mengusulkan adanya sejumlah aktivitas yang dilakukan untuk mengurangi dampak gempa yang akan terjadi seperti melakukan sosialisasi tentang kemungkinan terjadinya gempa (dan tsunami) dim masa-masa mendatang perlu terus digalakkan melalui simulasi di lapangan.

Selain itu sistem peringatan dini atau early warning system yang sedang dibangun perlu terus ditingkatkan, penanaman mangrove di sepanjang pantai yang menghadap Samudera Hindia perlu digalakkan.

"Kalau perlu di tempat-tempat yang diperkirakan rawan tsunami dibangun break water," katanya.

Deputi Ilmu Kebumian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Heri Harijono, mengakui, untuk memberi pengetahuan dan penyadaran kepada masyarakat akan bahaya gempa bumi tidak bisa dilakukan semudah membalik telapak tangan.

Dia mencontohkan, LIPI telah berkali-kali melakukan pelatihan antisipasi gempa di Muko-Muko Bengkulu, dengan harapan jika terjadi gempa warga bisa secara langsung melakukan antisipasi sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

Tetapi kenyataan yang terjadi di lapangan adalah, warga di Muko-Muko masih tetap panik ketika gempa terjadi. "Perlu waktu panjang," katanya. *


Last modified: 12/3/08