[BREBES] Semakin memburuknya perekonomian dan menurunnya daya beli masyarakat, mengakibatkan jumlah pengonsumsi nasi aking (sisa nasi kering yang diolah kembali) terus bertambah.
Sebelumnya hanya 800 keluarga (3.247 jiwa) warga Desa Prapag Lor, kini ditambah dengan ratusan warga Desa Pagejugan, Kecamatan Kota Brebes, Jawa Tengah, juga mulai mengonsumsi nasi aking.
"Ini adalah potret kemiskinan yang harus segera diatasi. Di Desa Prapag yang mayoritas penduduknya nelayan miskin, sebanyak 1.500 keluarga (5.625 jiwa), lebih dari separo warganya menjadi konsumen tetap nasi aking," ka- ta pengamat sosial di Bre- bes Faturrachman Ashari, Selasa (11/3) pagi.
Kepala Desa Pagejugan Syamsudin membenarkan ratusan warganya sudah lama mengonsumsi nasi aking, karena tak mampu membeli beras yang harganya Rp 5.000 per kilogram (kg). Harga nasi aking hanya Rp 1.500 per kg, dan bisa mengenyangkan seperti makan nasi biasa. Lauknya juga seadanya, terutama ampas kelapa dan bawang goreng.
Camat Kota Brebes Sudigyo menjelaskan, Desa Pagejugan, khususnya Dukuh Sikubur merupakan daerah miskin yang penduduknya mayoritas nelayan.
"Untuk membantu meringankan penderitaan mereka, Pemerintah Kabupaten Brebes akan membantu 1.200 warga yang mengonsumsi nasi aking," katanya.
Para konsumen nasi aking di Desa Pagejugan seperti Ratimin (50), sangat berharap bantuan beras.
"Kami sangat mengharapkan bantuan itu, karena untuk membeli nasi aking pun kami cukup berat, apalagi membeli beras," katanya. [WMO/M-11]