[MAKASSAR] Turunnya produksi beras nasional antara 5-7 persen, dikhawatirkan akan menjadi ancaman. Namun, untuk daerah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Sulawesi Barat (Sulbar), kondisi perberasan masih terbilang aman.
"Memang ada kekhawatiran akan krisis beras nasional, akan tetapi untuk Sulsel dan Sulbar cukup aman karena masih ada persediaan sekitar 160.000 ton dan jumlah tersebut masih cukup untuk kebutuhan 15 bulan mendatang," ujar Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional (Kadivre) VII Sulsel dan Sulbar, Abdul Karim Pati kepada wartawan, Selasa (11/3).
Menurutnya, kebutuhan Sulsel dan Sulbar per tahun hanya sekitar 110.000 ton. Itu berarti masih ada sisa 50.000 ton. Sampai dengan Maret, Bulog Sulsel dan Sulbar sudah menyerap 5.100 ton setara beras. Kalaupun ada prediksi produksi nasional yang turun antara 5-7 persen, itu hanya terjadi di luar Sulawesi termasuk Pulau Jawa.
Sulsel dan Sulbar tidak ada masalah dengan beras, setiap tahun mengalami surplus sekitar 1 sampai 1,3 juta ton dan dalam tahun 2008 Sulsel akan mengalami empat kali musim panen. Karim juga menambahkan, hingga saat ini belum ada daerah yang dilaporkan mengalami gagal panen.
Menjawab pertanyaan tentang kemungkinan pemerintah melakukan impor beras, Karim mengatakan, kalaupun terjadi impor beras, tentu itu bukan untuk wilayah Sulsel dan Sulbar. Jika ada beras impor singgah di Sulsel, itu hanya transit sebelum disalurkan ke daerah di wilayah timur, misalnya untuk kebutuhan daerah-daerah di Maluku atau Papua.
Beli Beras
Sementara itu, Bulog Subdivre IV Banyumas, Jawa Tengah, sudah menyiapkan dana sebesar Rp 400 miliar untuk membeli beras dan gabah petani yang sudah mulai panen. Pada musim panen 2008, kelebihan beras di Banyumas mencapai 350.000 ton. Dari jumlah itu Bulog Banyumas akan membeli 110.000 ton, sisanya dijual petani sendiri ke pihak lain. Bila mungkin Bulog Banyumas akan membeli lagi 83.000 ton beras.
Dalam penjelasannya Rabu (12/3), Kepala Bulog Sub Divre IV Banyumas Imam Syafii mengatakan, pembelian tahun ini lebih besar dibanding tahun sebelumnya. Karena harga beras di tingat internasional jauh lebih tinggi dibanding harga di dalam negeri yang hanya berkisar antara Rp 4.000 hingga Rp 5.000 per kilogram. Sedang harga beras di pasaran internasional naik dari US$ 309 menjadi US$ 550.
Salah seorang Ketua Kelompok Tani di Banyumas Untung Pamujo berharap, Bulog agar membeli beras petani lebih awal. Karena harga gabah di tingkat petani saat ini semakin anjlok. "Pada hari Rabu ini, harga gabah kering panen hanya Rp 1.700 per kg atau Rp 300 lebih murah dibanding harga pembelian pemerintah," katanya. [WMO/148]