
Jenazah almarhum Letnan Satu Engky Saputra Jaya disemayamkan di Hanggar Skadron Udara 7 Lapangan Udara Suryadharma, Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Selasa (11/3) malam. Almarhum meninggal setelah helikopter yang dipilotinya jatuh dalam latihan di Desa Manyingsa, Kampung Cilipung, Kecamatan Cipunagara, Subang, Selasa (11/3) sekitar pukul 11.30 WIB. SP/Adi Marsiela
[SUBANG] Lettu PNB Engky Saputra Jaya (29), korban tewas dalam kecelakaan helikopter jenis Bell 47 milik TNI AU akan dikuburkan di Malang, Jawa Timur.
Helikopter dengan nomor registrasi H4712 itu jatuh dan menyabet kabel listrik di Desa Manyingsa, Kampung Cilipung, Kecamatan Cipunagara atau tepatnya di perkebunan tebu milik Perusahaan Gula Rajawali blok Cibeureum Barat, Jawa Barat, sekitar pukul 11.30 WIB.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsma TNI Chaerudin Ray mengatakan, jenazah Engky diberangkatkan dari Hanggar Skadron Udara 7, Lapangan Udara Suryadharma, Kalijati, Subang pada Rabu (12/3) pukul empat subuh.
"Langsung ke Halim dan kemudian menggunakan (pesawat) Hercules ke Malang," ujarnya di Landasan Udara Suryadharma, Kalijati, Subang, Selasa (11/3) petang.
Kecelakaan, terjadi ketika Engky berlatih profienci atau take off landing di tempat yang terbatas. Dalam latihan itu, dia ditemani mekanik Prada Ridi Wahyudi (23).
Korban tewas mengalami luka bakar, terutama pada bagian lutut ke bawah. Almarhum Engky meninggalkan seorang istri, Arini dan seorang putri berusia dua bulan, Lintang. "Dimakamkan di Malang atas permintaan keluarga," katanya.
Ade (27), saksi mata di perkebunan tebu mengatakan, sebelum jatuh, helikopter itu sempat terlihat oleng. Terbang dari arah timur menuju ke barat dan kemudian berbalik arah hingga akhirnya jatuh ke tanah. "Suaranya seperti dinamit," ungkap dia.

Menolong
Mendengar suara ledakan yang keras itu, Ade langsung berlari menghampiri lokasi jatuhnya helikopter yang berjarak sekitar 500 meter dari tempat dia meladang. "Waktu saya datang, ada satu orang yang merangkak keluar. Dia minta agar temannya yang di dalam pesawat ditolong."
Ketika Ade dan rekan-rekannya berusaha menarik orang yang terjepit kursi, helikopter itu tiba-tiba meledak untuk kedua kalinya.
"Kita langsung mundur mas, takut," papar rekan Ade, Maman (29) seraya menambahkan upaya pemadaman api dilakukan dengan minta bantuan mobil dari Perusahaan Gula Rajawali untuk mengangkut air.
Panglima Komando Operasi TNI AU I, Marsda TNI Erry Biatmoko menuturkan, helikopter yang sudah dimodifikasi pada 1984 itu berangkat dari Lanud Suryadharma. Kecelakaan disebabkan adanya salah perhitungan dari penerbang. [153]